BKPM Sebut Investasi di Tahun Politik Bakal Loyo
Rivi Satrianegara,
CNBC Indonesia
19 July 2018 13:50
Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) tengah mengantisipasi perlambatan investasi yang secara alamiah akan terjadi memasuki tahun politik.
Hal tersebut disampaikan langsung oleh Kepala BKPM Thomas Trikasih Lembong di kantornya, Kamis (19/7/2018).
"Kalau kita lihat siklus 20 tahun terakhir. Sudah pasti setiap kali memasuki tahun pemilu itu pasti ada slowdown, atau perlambatan dalam laju investasi baik domestik maupun internasional," kata Thomas.
Maka dari itu, dia mengatakan pemerintah perlu menghadirkan insentif yang sifatnya dapat menggebrak kemudahan berinvestasi dalam negeri.
"Kalau hanya monoton saja, biasa-biasa saja, itu enggak akan nendang di tahun politik," imbuh Thomas.
Dia menambahkan insentif untuk mendongkrak investasi sangat dibutuhkan ketika kondisi ekonomi dunia seperti saat ini, di mana perang dagang tengah terjadi. Terlebih lagi, perang dagang berdampak pada pelemahan nilai tukar mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah.
"Jadi kita memang harus akui gejolak kurs yang sedang melanda hampir semua negara-negara berkembang sudah pasti akan punya dampak juga perlambatan atas laju investasi," ujar Thomas.
(dru)
Add
as a preferred
source on Google
Next Article
Kontribusi Hilirisasi ke Ekonomi RI Bisa Naik di Atas 30% pada 2030
Hal tersebut disampaikan langsung oleh Kepala BKPM Thomas Trikasih Lembong di kantornya, Kamis (19/7/2018).
"Kalau kita lihat siklus 20 tahun terakhir. Sudah pasti setiap kali memasuki tahun pemilu itu pasti ada slowdown, atau perlambatan dalam laju investasi baik domestik maupun internasional," kata Thomas.
"Kalau hanya monoton saja, biasa-biasa saja, itu enggak akan nendang di tahun politik," imbuh Thomas.
Dia menambahkan insentif untuk mendongkrak investasi sangat dibutuhkan ketika kondisi ekonomi dunia seperti saat ini, di mana perang dagang tengah terjadi. Terlebih lagi, perang dagang berdampak pada pelemahan nilai tukar mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah.
"Jadi kita memang harus akui gejolak kurs yang sedang melanda hampir semua negara-negara berkembang sudah pasti akan punya dampak juga perlambatan atas laju investasi," ujar Thomas.
source on Google