Suntikan THR PNS Rp 35 T untuk Konsumsi yang Loyo

News - Chandra Gian Asmara, CNBC Indonesia
24 May 2018 08:28
Suntikan THR PNS Rp 35 T untuk Konsumsi yang Loyo
Jakarta, CNBC Indonesia - Konsumsi masyarakat yang sempat loyo pada kuartal I-2018 diperkirakan akan kembali menggeliat sejalan dengan keputusan pemerintah meningkatkan kucuran Tunjangan Hari Raya (THR) kepada apratur sipil negara (ASN).

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai kucuran insentif bagi seluruh abdi negara ini akan menggerakkan perekonomian Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Dampak dari penyaluran THR terutama akan terasa pada perekonomian daerah.


"Pembelanjaan dana THR diprediksi akan meningkatkan peredaran uang di daerah yang pada gilirannya lebih menggairahkan perekonomian nasional," kata Sri Mulyani dikutip dari laman media sosialnya, Kamis (24/5/2018).


Pada tahun fiskal 2018, pemerintah memutuskan untuk menambah komponen peyaluran THR bagi ASN menjadi gaji pokok, tunjangan keluarga tambahan, dan tunjangan kinerja. Artinya, THR yang diterima seluruh aparat sipil akan jauh lebih besar dari tahun lalu.

Selain itu, para pensiunan PNS yang selama ini tidak mendapatkan gaji ke-13 dan THR layaknya PNS aktif akan memperoleh insentif tersebut, dengan penghitungan gaji pokok, tunjangan keluarga, dan tambahan penghasilan.
Suntikan THR Rp 35 T untuk Konsumsi yang LoyoFoto: Arie Pratama
Keputusan ini pada akhirnya membuat alokasi anggaran yang disediakan pemerintah untuk penyaluran THR membengkak. Pada tahun ini, alokasi yang disediakan mencapai Rp 35,76 triliun, atau jauh lebih tinggi dari periode sama tahun lalu Rp 23 triliun.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo memperkirakan kebijakan tersebut akan memberikan dampak positif bagi peningkatan daya beli masyarakat. BI melihat pada kuartal II-2018 konsumsi rumah tangga bisa lebih baik dari kuartal I-2018.

"Beberapa faktor mendukung perbaikan konsumsi [mulai] dari penambahan libur dan cuti bersama dan penyaluran gaji PNS secara bersama di bulan Juni," kata Dody kepada CNBC Indonesia.


Optimisme serupa juga dipaparkan Lembaga Pemeringkat Nielsen. Dalam riset terbarunya, Nielsen memperkirakan penjualan ritel barang konsumsi pada kuartal II-2018 bisa tumbuh di rentang 15% sampai dengan 20%.

Di tiga bulan pertama tahun ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat hanya 5,06% atau berada di bawah ekspektasi pasar. Salah satu penyebab utamanya, adalah dari sisi konsumsi rumah tangga yang hampir tidak bergerak atau hanya tumbuh 4,95%

Sampai saat ini konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama penggerak perekonomian nasional sebab komponen ini menyumbang lebih dari separuh produk domestik bruto (PDB). (prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading