Pertamina Bisa Pegang Saham Mayoritas di Kilang Bontang

News - Rivi Satrianegara, CNBC Indonesia
30 January 2018 17:29
Pertamina Bisa Pegang Saham Mayoritas di Kilang Bontang
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Pertamina (Persero) hanya akan memiliki saham sebesar 10% dalam proyek pembangunan kilang atau Grass Root Refinery di Bontang, Kalimantan Timur bersama Overseas Oil and Gas LLC (OOG) dan Cosmo Oil International Pte Ltd (COI).

Namun, tidak menutup kemungkinan porsi saham perusahaan plat merah tersebut meningkatkan menjadi mayoritas setelah tahap final investment decision (FID) yang diperkirakan berlangsung pada tahun 2020.

“Bila setelah FID menguntungkan, baru kami akan review untuk ambil mayoritas atau tetap minoritas,” kata Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Risiko Pertamina Gigih Prakoso, di Kantor Pusat Pertamina, Selasa (30/1/2018).


Porsi 10% yang dimiliki Pertamina di awal pun bersifat cuma-cuma, artinya tidak ada dana yang dikeluarkan oleh perusahaan. Dengan jumlah tersebut, kata Gigih, bukan berarti Pertamina tidak memiliki kendali atas kilang.

Menurut dia, Pertamina akan mendesain agar tetap bisa mempunyai komitmen untuk mengambil produk untuk ketahanan nasional dan menjadikan kebutuhan dalam negeri sebagai prioritas alokasi hasil produksi juga.


“Jumlah 10% itu untuk mitigasi risiko, bukan berarti kami tidak punya pendanaan. Komitmen Pertamina pada proyek ini cukup besar,” tutur Gigih.

Dalam kerja sama tersebut, akan ada sales purchase agreement (perjanjian jual beli) antara Pertamina dan pihak konsorsium. Jadi, Pertamina akan melakukan pembelian sesuai dengan permintaan di dalam negeri.

Sedangkan untuk penjualan ke luar negeri masih akan dibicarakan kembali. Namun, kemungkinan akan ada skema joint marketing. 

Dengan skema tersebut, kata Gigih, akan ada pembentukan joint venture antara ketiga belah pihak. Entitas itu akan bertanggung jawab untuk memasarkan produk dari kilang tersebut.


“Kalau offtake agreement kan Pertamina dan tiap perusahaan-perusahaan tersebut mengambil porsi sesuai sahamnya. Di sini, perusahaan yang akan memasarkan semua produk,” kata Gigih.

Nanti, Pertamina akan melakukan perjanjian jual beli hasil produksi dengan perusahaan joint venture yang dibentuk dengan jumlah yang disesuaikan kebutuhan.

Terkait hasil produksi, kata Gigih, akan ada prioritas gasoline untuk dalam negeri dikarenakan permintaan yang masih sangat tinggi.


Ke depan, Pertamina akan melakukan diskusi dengan pihak konsorsium, yang dilanjutkan dengan penandatanganan framework agreement, 

“Pada 2020 pertengahan sudah final, di situ kita akan lakukan FID untuk melihat apakah ini layak untuk masuk fase eksekusi,” kata Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia, Ardhy N. Mokobombang.

Setelah tahap tersebut, Ardhy memperkirakan, proses operasi bisa dimulai setelah 4 hingga 4,5 tahun yaitu di tahun 2025. Target operasinya adalah 300 ribu barel minyak per hari. (roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading