Noktah Merah Dana Pensiun Bikin Kamu Kerja Sampai Tua

My Money - Aulia Akbar, CNBC Indonesia
16 January 2023 12:35
Ilustrasi merawat orang tua. Foto: dok. Virtu DigiLab

Jakarta, CNBC Indonesia - Kalimat "noktah merah" umumnya selalu mengacu pada film layar lebar yang diadaptasi dari sinetron tahun 1990an. Definisi dari noktah merah itu sendiri adalah titik kecil yang akhirnya menjadi noda.

Mempersiapkan dana pensiun adalah sebuah perjuangan yang membutuhkan komitmen kuat dalam jangka panjang. Karena tanpa itu semua, apa yang Anda lakukan bisa saja sia-sia.

Dan ketahuilah bahwa, setitik perilaku sepele ini bisa saja menggagalkan upaya Anda dalam mengumpulkan dana pensiun. Hal itu juga bisa memaksa Anda bekerja di usia lanjut.

Berikut adalah deretan perilaku sepele yang berpotensi menggagalkan cita-cita Anda memiliki dana pensiun.

Tidak tahu berapa dana pensiun yang ideal bagi diri Anda

Sehandal apapun Anda dalam menghasilkan keuntungan saat investasi, Anda tidak akan berhasil jika tidak mengetahui berapa besar dana pensiun yang Anda butuhkan nanti.

Hitunglah kebutuhan pensiun Anda dengan menghitung total pengeluaran tahunan Anda, dan tingkat inflasi rata-rata di Indonesia.

Sesuaikan pula perhitungan itu dengan tahun di mana Anda akan pensiun. Alhasil Anda bisa mendapatkan gambaran, berapa besar dana yang harus Anda kumpulkan dan berapa lama proses investasinya.

Setelah Anda mengetahuinya, Anda bisa memulai proses investasi secepatnya.

Menunda-nunda investasi

Usia Anda mungkin masih kepala dua dan usia pensiun Anda di kepala lima. Hal inilah yang membuat seseorang memiliki kecenderungan untuk menunda mengumpulkan dana pensiun.

Patut sekali diketahui bahwa setahun saja menunda bisa semakin membuat proses investasi Anda semakin berat ke depan. Karena sisa waktu Anda untuk mengumpulkan dana pensiun akan berkurang, alhasil uang yang harus Anda sisihkan setiap bulannya jadi semakin besar.

Mulailah investasi untuk dana pensiun secepatnya, setelah Anda memiliki dana darurat dan proteksi minimal dalam bentuk asuransi kesehatan.

"Jajan & main" yang tidak terkontrol

Sederhana saja, ketika Anda tidak membatasi pengeluaran maksimal untuk hal yang bersifat keinginan atau gaya hidup, maka pengeluaran untuk hal yang satu ini akan menjadi pengeluaran tidak tetap.

Cukup berbahaya apabila kita membiarkan hal ini, karena besar kemungkinan pengeluaran gaya hidup kita akan mengalami kenaikan saat penghasilan kita naik.

Ketika pengeluaran gaya hidup melonjak, maka dikhawatirkan pengeluaran untuk investasi jadi semakin berkurang.

Alokasikan saja dana maksimal 15-20% dari penghasilan per bulan untuk pengeluaran gaya hidup. Tapi jika Anda sudah bisa merasa cukup dengan 10% atau lebih rendah lagi, maka itu akan jauh lebih baik.

Profit taking sebelum waktunya

Tidaklah mudah untuk memulai investasi jangka panjang tanpa sebuah komitmen dan pengetahuan yang baik.

Dengan alasan mengamankan modal. bisa saja di tengah jalan kita mencairkan investasi dana pensiun kita karena keuntungannya sudah menggiurkan. Apakah hal ini boleh dilakukan?

Keputusan ini bisa menguntungkan bisa juga sebaliknya. Ketika dana tersebut dicairkan dan tidak kunjung diinvestasikan kembali, maka ada potensi dana itu malah terpakai untuk hal yang tidak semestinya.

Kesalahan sepele ini justru bisa membuat Anda sulit mengumpulkan dana pensiun dalam jumlah yang semestinya.

Adapun solusi yang bisa Anda terapkan untuk masalah ini adalah dengan menerapkan strategi investasi pasif untuk mengumpulkan dana pensiun. Anda bisa memilih instrumen keuangan seperti reksa dana indeks atau exchange traded fund (ETF) untuk tabungan pensiun Anda.

Investasi pun dilakukan secara berkala, dan manfaatkan momentum koreksi pasar untuk menambah investasi Anda.

Punya mindset Anak adalah dana pensiun

Alangkah lebih baik bagi Anda untuk bisa mandiri secara finansial dan bisa memberikan bekal yang bermanfaat bagi anak hingga cucu.

Bukan malah menjadikan mereka sebagai generasi sandwich yang harus membiayai hidup orangtua serta keluarga intinya.

Tantangan finansial yang akan dihadapi anak Anda di masa depan tentu akan semakin berat lantaran ada inflasi, perkembangan teknologi, dan lain sebagainya. Ketika mereka harus menanggung biaya hidup Anda dan keluarganya kelak, maka cucu Anda pun berpotensi mengalami nasib yang sama di masa depan.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Gaji Mau Naik? 6 Hak Karyawan Ini Juga Gak Boleh Dilupakan


(aak/aak)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading