Bos BI Soal Rupiah Berisiko Rp20.000/US$: Kami Jaga Stabilitas!
Jakarta, CNBC Indonesia - Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti buka suara merespons kekhawatiran nilai tukar rupiah yang disebut-sebut berpotensi menembus level Rp20.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Sebelumnya, Utusan Khusus Presiden Hashim Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo mengingatkan rupiah bisa melemah hingga ke kisaran Rp 20.000 - Rp 21.000 per dolar AS jika aliran modal asing terus keluar akibat polemik pasar modal di Indonesia.
Destry pun menegaskan, tugas utama BI adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Namun, pergerakan mata uang Garuda tidak hanya ditentukan oleh kondisi domestik, melainkan juga dipengaruhi berbagai faktor eksternal yang berada di luar kendali bank sentral.
Menurutnya, jika melihat fundamental ekonomi Indonesia, kondisi dalam negeri relatif baik dibandingkan negara-negara lain yang menjadi pembanding atau peer group.
"Di Bank Indonesia kan tugas kami menjaga stabilitas rupiah. Jadi kalau kita lihat pergerakan rupiah kan memang sangat banyak faktor yang mempengaruhi. Tapi kalau kita lihat dari fundamental ekonomi kita, sebenarnya kita dalam kondisi yang relatif oke dibandingkan dengan peer group kita," ujar Destry kepada awak media, Jumat (30/10/2026).
Destry menjelaskan, pergerakan rupiah saat ini juga merupakan bagian dari fluktuasi yang terjadi di pasar. Sebab, nilai tukar dipengaruhi oleh dinamika permintaan dan penawaran (supply and demand), serta persepsi pelaku pasar.
Dia mencontohkan, perkembangan kebijakan suku bunga di Amerika Serikat dapat langsung memengaruhi pergerakan mata uang di pasar global. Ketika muncul perkembangan bahwa The Federal Reserve (The Fed) tidak menaikkan suku bunga, pasar merespons positif dan penguatan terjadi di tingkat global.
"Kalau kita lihat hari ini juga penguatan terjadi di global. Oh Amerika enggak naikkan suku bunga, dampaknya ternyata langsung positif. Jadi banyak faktor yang di luar kontrol dari kita," jelasnya.
Meski demikian, Destry memastikan BI memiliki komitmen untuk terus menjaga stabilitas rupiah. Menurutnya, stabilitas menjadi prioritas agar iklim ekonomi tetap kondusif dan sektor riil dapat tumbuh serta menciptakan lapangan pekerjaan.
"Fokus di kita itu adalah memang menjaga stabilitas. Jadi stabilitas itu adalah pertama yang harus kita jaga, supaya tercipta iklim ekonomi yang kondusif untuk nantinya ekonomi di sektor riil bisa tumbuh dan bisa membuka lapangan pekerjaan," tegasnya.
Di tengah tekanan terhadap rupiah, Destry belum memberikan sinyal bahwa BI akan menaikkan suku bunga acuan. Dia menegaskan, keputusan kebijakan moneter akan bergantung pada perkembangan data ekonomi atau data dependent.
"Nanti kita lihat perkembangannya seperti apa," ujarnya.
Destry menjelaskan, BI memiliki beragam instrumen kebijakan untuk merespons dinamika ekonomi dan pasar keuangan. Dengan demikian, suku bunga bukan satu-satunya instrumen yang dapat digunakan bank sentral.
Instrumen tersebut antara lain insentif untuk menekan biaya lindung nilai atau hedging, kebijakan makroprudensial, hingga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
"Karena kita punya kebijakan kan banyak ya instrumennya. Enggak hanya suku bunga aja. Kita punya kebijakan insentif untuk biaya hedging. Untuk yang moneter kita punya kebijakan makroprudensial. Kita punya instrumen SRBI, jadi banyak. Jadi bukan hanya suku bunga yang jadi kebijakan kita," papar Destry.
(haa/haa) [Gambas:Video CNBC]