MARKET DATA

Destry Ungkap Curhatan Bos Bank Asing, Sesalkan Keputusan MSCI

Robertus Andrianto,  CNBC Indonesia
29 October 2026 19:15
Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti saat menyampaikan Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulanan Bulan Oktober 2026 Cakupan Triwulanan dan Tahunan di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (21/10/2026). (Tangkapan Layar Youtube/Bank Indonesia)
Foto: Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti saat menyampaikan Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulanan Bulan Oktober 2026 Cakupan Triwulanan dan Tahunan di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (21/10/2026). (Tangkapan Layar Youtube/Bank Indonesia)

Jakarta, CNBC Indonesia - Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan penyesalan investor besar global atas keputusan MSCI meninjau pasar saham Indonesia turun kasta ke pasar mandiri (standalone market) dari semula emerging market.

Investor global tersebut, kata Destry, menyesalkan keputusan MSCI karena menilai pasar keuangan di Indonesia memiliki potensi yang besar dan didukung oleh kondisi ekonomi yang bertumbuh.

Di sisi lain, pasar saham di Amerika Serikat dinilai oleh investor tersebut sudah terlalu berisiko karena valuasinya yang melejit akibat boom teknologi.

"Karena dia bilang saya suka sekali dengan Indonesia, karena sekarang saya mau investasi di mana lagi, di Amerika itu terlalu risiko. Kita tahu stock marketnya mereka juga sekarang sudah besarnya 2,4 kali dari GDP-nya," katanya saat di Rapimnas KADIN di Jakarta, pada Kamis (29/10/2026).

"Sementara stock marketnya itu juga sangat didominasi oleh teknologi, dan kita tahu teknologi kan harganya naik terus, kita gak tau ini sampai dimana titiknya. Jadi artinya ini juga membuat mereka khawatir, " sambung Destry.

Begitu juga dengan pasar Eropa yang disebut oleh investor besar tersebut tidak kondusif karena kondisi perekonomian yang tidak stabil.

"Termasuk ke Eropa,Saya mau masuk ke Eropa kemana? Eropa sekarang mereka mempunyai masalah debt problem kan, karena sebagian besar di Eropa memang mereka debt ratio itu tinggi sekali, dan bajetnya mereka juga defisitnya lebar sekali," katanya.

Meskipun ada kabar buruk dari MSCI, Destry menilai gerak cepat lembaga keuangan OJK merupakan tindakan tepat dalam menangani masalah kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia.

Termasuk juga langkah-langkah koordinasi Bank Indonesia dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dalam mereduksi dampak negatif dari pengumuman MSCI tersebut.

"Kami juga KSSK, kita juga sudah rapat, kita juga bersama-sama berusaha untuk menenangkan para investor, para global investor, padahal tidak menunjukkan bahwa secara fundamental kita oke," ucapnya.

Seperti diketahui, dampak instan dari wacanan penurunan kasta pasar saham Indonesia adalah keluarnya arus modal asing yang turut menekan rupiah hingga saat ini bergerak di atas level Rp18.100 per dolar AS.

Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup pada level Rp18.125/US$, menguat 0,28% dibandingkan dengan penutupan Rabu (28/10/2026) yang berada di posisi Rp18.175/US$.

(arj/arj) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Bursa RI Terancam Turun ke Standalone Market, Ini Saran DEN ke Prabowo


Most Popular
Features