MARKET DATA

Breaking! Dolar AS Menguat ke Rp17.830

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
19 June 2026 09:04
Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Dolarindo Money Changer, Jakarta, Selasa (8/4/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Dolarindo Money Changer, Jakarta, Selasa (8/4/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (19/6/2026). Di tengah menguatnya minta pasar global terhadap dolar AS.

Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda dibuka melemah ke posisi Rp17.830/US$ atau terdepresiasi sebesar 0,73%.

Pelemahan ini terjadi setelah pada perdagangan sebelumnya, Kamis (18/6/2026), rupiah berhasil ditutup menguat 0,17% ke level Rp17.700/US$. Penguatan tersebut terjadi setelah Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 09.00 WIB terpantau bergerak stabil di level 100,821.

Posisi tersebut masih berada di area tinggi setelah pada penutupan perdagangan sebelumnya, Kamis (18/6/2026), DXY menguat tajam 0,76%.

Penguatan indeks dolar AS menunjukkan pelaku pasar masih memburu aset berdenominasi dolar AS. Kondisi ini pada akhirnya dapat menekan pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dolar AS bergerak kuat setelah pelaku pasar terus mencerna hasil rapat bank sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed) pada Rabu waktu setempat. Rapat tersebut menjadi pertemuan pertama The Fed di bawah kepemimpinan Kevin Warsh.

Komentar Warsh yang cenderung singkat, ditambah proyeksi terbaru The Fed mengenai arah suku bunga, memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga AS masih berpeluang naik pada tahun ini. Ekspektasi tersebut turut mendorong dolar AS ke level tertinggi dalam lebih dari setahun.

Di sisi lain, dari dalam negeri, pelaku pasar juga masih merespons hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) pada Kamis (18/6/2026). Dalam rapat tersebut, BI kembali menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%.

Keputusan ini memberi harapan terhadap stabilitas, bahkan potensi penguatan rupiah ke depan. Sebab, kenaikan suku bunga tersebut menunjukkan BI masih fokus menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan dolar AS dan ketidakpastian global.

Sebagai catatan, BI telah menaikkan suku bunga acuan sebesar total 100 basis poin dalam rentang waktu sekitar satu bulan terakhir. Kenaikan pertama dilakukan pada RDG Bulanan Mei 2026 sebesar 50 basis poin, kemudian dilanjutkan pada RDG Mingguan pekan lalu sebesar 25 basis poin, dan terakhir pada RDG Bulanan Juni 2026 sebesar 25 basis poin.

Selain menaikkan suku bunga, BI juga kembali memperketat aturan pembelian valuta asing terhadap rupiah.

BI memangkas batas pembelian tunai valuta asing terhadap rupiah tanpa underlying menjadi US$10.000 per pelaku per bulan. Kebijakan tersebut akan mulai berlaku pada 1 Juli 2026.

"Kami lakukan untuk menegakkan tata kelola aturan yang ada. Pembelian dolar, khususnya di atas US$10.000 harus ada underlying," kata Deputi Gubernur BI Destry Damayanti dalam konferensi pers, Kamis (18/6/2026).

Sebelumnya, BI telah menurunkan threshold atau batas pembelian dolar tanpa underlying menjadi US$25.000 per orang per bulan. Kini, batas tersebut kembali diturunkan sebagai bagian dari upaya memperkuat kebijakan pendalaman Pasar Uang dan Pasar Valas (PUVA) agar semakin maju, efisien, dan pruden.

Langkah ini juga ditujukan untuk menjaga daya tarik investasi asing dan meningkatkan efektivitas kebijakan moneter, termasuk dalam stabilisasi nilai tukar rupiah.

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Breaking! Dolar Bergerak ke Rp17.730 Setelah BI Rate Naik 25 Bps


Most Popular
Features