MARKET DATA

Stagnan, Dolar AS Bertahan di Level Rp17.970 Pagi Ini

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
08 July 2026 09:06
Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Dolarindo Money Changer, Jakarta, Selasa (8/4/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Dolarindo Money Changer, Jakarta, Selasa (8/4/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah dibuka stagnan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (8/7/2026).

Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda dibuka di posisi Rp17.970/US$, atau relatif tidak berubah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Selasa (7/7/2026), rupiah berhasil ditutup menguat 0,08% ke posisi Rp17.970/US$.

Meski rupiah dibuka stagnan, tekanan dari dolar AS masih perlu dicermati. Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 09.00 WIB terpantau menguat 0,10% ke level 101,126.

Pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan masih akan dipengaruhi sejumlah sentimen, terutama dari eksternal.

Dari luar negeri, perhatian pasar kembali tertuju pada meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Eskalasi kembali terjadi setelah Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan balasan ke Iran, menyusul laporan serangan terhadap sejumlah tanker yang melintasi Selat Hormuz.

Serangan terbaru tersebut membuat pasar kembali khawatir terhadap potensi gangguan pasokan energi global. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran minyak dan gas paling penting dunia, sehingga setiap gangguan di kawasan ini dapat langsung memicu kekhawatiran terhadap distribusi energi.

Kenaikan harga minyak kembali memunculkan kekhawatiran inflasi. Bagi pasar keuangan, tekanan inflasi yang meningkat dapat membuat bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) lebih berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.

Pelaku pasar kini juga menanti risalah rapat The Fed periode Juni yang akan dirilis pada Kamis dini hari waktu Indonesia. Risalah tersebut akan dicermati untuk melihat sinyal lanjutan mengenai arah kebijakan moneter AS, terutama setelah data tenaga kerja terbaru menunjukkan perlambatan.

Saat ini, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga 25 basis poin pada rapat The Fed 28-29 Juli berada di 27,30%. Sementara itu, peluang suku bunga tetap dipertahankan di level saat ini mencapai 72,70%, berdasarkan CME FedWatch Tool.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) sebelumnya melaporkan cadangan devisa Indonesia yang meningkat pada Juni 2026.

BI mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 sebesar US$145,6 miliar. Posisi tersebut naik tipis dibandingkan akhir Mei 2026 yang sebesar US$144,9 miliar.

"Perkembangan posisi cadangan devisa Juni 2026 tersebut dipengaruhi terutama oleh penerimaan pajak dan jasa di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah Bank Indonesia sebagai respons terhadap tingginya ketidakpastian pasar keuangan global," kata Ramdan Denny Prakoso, Kepala Departemen Komunikasi BI, Selasa (7/7/2026).

Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka ini juga masih berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Rupiah Melemah, Nilai Tukar Dolar AS Naik ke Rp17.825


Most Popular
Features