Prospek Saham Aneka Tambang (ANTM) di Tengah Badai MSCI

Romys Binekasri, CNBC Indonesia
Kamis, 22/10/2026 13:20 WIB
Foto: Karyawati menunjukkan emas PT Aneka Tambang Tbk. (Antam) di salah satu gallery penjualan emas di Jakarta, Selasa (16/7/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Prospek saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) masih solid, kendati dikeluarkan dari indeks MSCI Global Standard pada Juli 2026. Sebab, fundamental ANTM masih kuat, ditopang oleh bisnis emas, nikel, proyek hilirisasi dan potensi pemberian dividen besar.

Itu sebabnya, analis menilai, koreksi harga merupakan peluang untuk mengakumulasi saham ANTM bagi investor yang memiliki horizon investasi jangka panjang.

Analis Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang menyatakan, tekanan akibat sentimen MSCI berpotensi memicu penyesuaian portofolio dan meningkatkan volatilitas ANTM, terlepas dari kondisi fundamental perusahaan. Koreksi harga memang membuka peluang akumulasi, kendati saat ini belum ada support yang solid.


"Investor sebaiknya menunggu stabilisasi harga dan meredanya tekanan jual asing sebelum masuk secara bertahap," ujarnya, Kamis (22/10/2026).

Dia menilai, fundamental ANTM masih relative kuat. Pada semester I-2026, laba bersih perseroan mencapai Rp6,91 triliun, naik 34% secara tahunan, dengan emas sebagai kontributor utama penjualan.
Bisnis nikel dan proyek hilirisasi juga berpotensi menjadi pendorong pertumbuhan jangka menengah. Namun, kinerja tetap sensitif terhadap harga komoditas, volume penjualan, dan keberhasilan eksekusi proyek.

Secara historis, dia menyatakan, ANTM telah membagikan dividen tahun buku 2025 sekitar Rp5,05 triliun atau Rp209,99 per saham, setara 70% laba bersih tahun tersebut. Untuk dividen berikutnya, investor perlu melihat laba sepanjang 2026, arus kas, serta kebutuhan belanja modal yang dianggarkan sekitar Rp6 triliun.

"Dividen berpotensi menjadi penopang sentimen, tetapi belum tentu cukup untuk mengimbangi tekanan jual akibat MSCI," tegas dia.

Secara teknikal, dia menyatakan, area Rp2.350-2.400 dapat dicermati sebagai support dan akumulasi bertahap, dengan target terdekat Rp2.800 dan Rp3.000. Jika terjaid breakdown support, waspadai pelemahan lanjutan.

Katalis utama yang perlu diperhatikan, kata dia, adalah perkembangan isu MSCI, pergerakan harga emas dan nikel, realisasi kinerja kuartal III, serta perkembangan proyek hilirisasi. Investor sebaiknya tidak hanya berpatokan pada harga yang sudah turun, tetapi juga menunggu konfirmasi pembalikan tren.

Sementara itu, Nafan Aji Gusta, senior market analyst Mirae Asset Sekuritas, menyatakan, keluarnya saham ANTM dari indeks MSCI Global Standard memberikan tekanan jual mekanis jangka pendek yang dipicu oleh penyesuaian portofolio (rebalancing) dana kelolaan pasif global. Namun, aksi jual ini bersifat teknikal dan tidak mengindikasikan penurunan kinerja operasional perusahaan.

Fenomena aliran dana keluar tersebut, kata dia, sering kali menciptakan mispricing, di mana harga saham terkoreksi melebihi penurunan nilai intrinsiknya. Kondisi ini justru membuka peluang bagi investor berhorizon menengah hingga panjang untuk melakukan akumulasi bertahap (buy on weakness) pada harga yang lebih atraktif.

Skema pendanaan hilirisasi yang banyak memanfaatkan kemitraan strategis, kata dia, juga membuat kebutuhan belanja modal (capex) tidak membebani arus kas internal secara berlebihan, sehingga posisi keuangan perseroan tetap aman dan fleksibel.

"Kondisi arus kas dan tingkat profitabilitas yang kuat membuat ekspektasi pembagian dividen dalam jumlah besar sangat realistis untuk diwujudkan.
Secara historis, ANTM konsisten mempertahankan dividend payout ratio yang tinggi, sehingga potensi dividend yield yang menarik diproyeksikan mampu menjadi katalis pemulihan harga saham," ungkap dia.

Daya tarik dividen ini, kata dia, umumnya akan mengundang masuknya kembali investor institusi domestik yang berfokus pada imbal hasil, sekaligus membantu menahan tekanan jual lebih lanjut dari investor asing.

Dalam jangka pendek, risiko volatilitas dan koreksi susulan memang masih ada sampai seluruh proses rebalancing MSCI selesai terserap pasar. Kendati demikian, untuk jangka menengah hingga panjang, solidnya fundamental serta prospek dividen menjadikan ANTM tetap layak dijadikan pilihan diversifikasi portofolio, selama strategi pembelian dilalukan secara bertahap untuk meminimalkan risiko fluktuasi harga.

Analis Panin Sekuritas Elandry Pratama menyatakan, tekanan ke saham bukan berarti fundamental ANTM memburuk. "Peluang akumulasi bisa terbuka jika valuasi sudah menarik, tetapi sebaiknya dilakukan bertahap dan menunggu stabilisasi harga. Dalam kondisi sekarang, penting membedakan tekanan jual akibat capital flow dengan perubahan prospek bisnis perseroan," tegas dia.

Secara fundamental, dia menilai, ANTM masih memiliki daya tarik dari bisnis emas, nikel, dan potensi hilirisasi. Emas dapat menjadi penopang pendapatan ketika harga emas tinggi, sedangkan nikel dan proyek hilirisasi menawarkan peluang pertumbuhan jangka menengah hingga panjang.

Dia juga menilai, potensi dividen besar tentu bisa menjadi katalis positif, tetapi realisasinya perlu melihat laba bersih, arus kas, kebijakan pembagian dividen, serta kebutuhan belanja modal. Jangan sampai ekspektasi dividen hanya didasarkan pada laba tanpa mempertimbangkan kebutuhan pendanaan ekspansi. Dividen dapat membantu menopang minat investor, tetapi belum tentu cukup untuk memulihkan harga jika tekanan jual dan sentimen pasar masih kuat.

Muhammad Wafi, kepala riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), menilai, prospek saham ANTM lebih ditentukan harga emas dan laba, bukan IHSG. Risiko jual pasif saham ANTM memang kecil. Tapi, saham ini tetap kena kalau asing jual Indonesia secara luas.

"Koreksi karena sentimen bisa jadi peluang akumulasi bertahap," kata dia.


(ayh/ayh)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Jika Standalone Market, RI Dianggap Asing Tak Layak Investasi?