MARKET DATA

IHSG Menghijau Ditopang Saham-Saham BUMN, Danantara Masuk?

Romys Binekasri,  CNBC Indonesia
22 October 2026 10:35
Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (19/10/2026).(CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (19/10/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali bergerak di zona hijau pada pertengahan perdagangan sesi pertama hari ini. Pada pukul 09.56 WIB, IHSG berada di level 5.381,43, naik 53,07 poin atau 1%. Padahal, IHSG sempat anjlok hingga 2% pada pembukaan perdagangan.

Peristiwa tersebut bertepatan dengan sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang ramai-ramai melakukan pembelian kembali saham atau buyback pada periode Oktober hingga Desember 2026. Beberapa perusahaan bahkan menyiapkan dana hingga triliunan rupiah untuk melaksanakan aksi korporasi tersebut.

Mengutip data Refinitiv, saham-saham pendorong IHSG pada pertengahan sesi I hari ini didorong oleh mayoritas sejumlah saham BUMN, antara lain, PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT. Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), dan PT. Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM).


Seperti diketahui, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) mengalokasikan dana sebesar Rp1,17 triliun untuk periode 30 April 2026 hingga 29 April 2027.

Sementara PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) juga memiliki program buyback dengan alokasi dana Rp627 miliar. Periode pelaksanaan program tersebut berlangsung pada 27 Juli 2026 hingga 26 Oktober 2026.

Sedangkan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) menyiapkan langkah untuk mempercepat pelaksanaan program pembelian kembali saham (buyback) senilai maksimal Rp4 triliun yang disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 8 Juni 2026. Program tersebut masih berjalan dalam periode 12 bulan yang telah disetujui, yakni sejak 9 Juni 2026 hingga 8 Juni 2027.

Per 19 Oktober 2026, sisa alokasi buyback yang telah disetujui masih lebih dari Rp3 triliun.

Sebelumnya, CEO Danantara Rosan Roeslani pada Jumat (16/10/2026) menyebut penurunan harga saham sebagai peluang investasi jangka panjang.

"Kita harus tetap melihat ini suatu opportunity, optimis, kami yakini, dan kami dari Danantara siap masuk," kata Rosan.

COO Danantara sekaligus Kepala BP BUMN Dony Oskaria pada Senin (19/10/2026) juga membuka peluang penambahan kepemilikan saham BUMN.

"Kalau bagus ya kita beli, terutama saham-saham BUMN kan, dan nanti akan menambah kepemilikannya," ujarnya.

Meski demikian, Danantara belum menyebut saham apa yang akan dibeli maupun besaran dananya. Berbeda dari program buyback yang telah diumumkan emiten, langkah Danantara masih berupa rencana investasi.

Sejumlah investor juga mencermati apakah kenaikan harga saham akan bertahan setelah aksi jual besar dua hari sebelumnya. Apalagi, keputusan MSCI terkait status pasar Indonesia masih menunggu hasil evaluasi.

(rob/rob) [Gambas:Video CNBC]
Next Article IHSG Lanjutkan Penguatan, Dibuka Naik 0,61% ke Level 5.310


Most Popular
Features