MARKET DATA

Harga Nikel Melonjak, Saham Antam (ANTM) Ditarget ke Rp3.470

Romys Binekasri,  CNBC Indonesia
28 October 2026 13:40
Gedung ANTAM (Detikcom)
Foto: Gedung ANTAM (Detikcom)

Jakarta, CNBC Indonesia - Lonjakan harga nikel diyakini menjadi salah satu katalis penguatan saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam, mengingat perseroan masuk daftar elite pemain nikel Indonesia. Maka tak heran jika sejumlah analis masih memandang positif saham ANTM dengan mengganjar rekomendasi buy dengan target harga tinggi.

Nafan Aji Gusta, senior market analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, menuturkan, kenaikan harga nikel akan meningkatkan harga jual rata-rata nikel ANTM, sehingga margin keuntungan dan penguatan profitabilitas segmen nikel naik.

Dengan demikian, dia menuturkan, kenaikan harga nikel dapat memberikan tambahan kontribusi terhadap pendapatan dan laba perseroan, meskipun pengaruhnya tidak sebesar bisnis emas yang masih mendominasi sekitar 80% penjualan.

"Dari perspektif pasar saham, penguatan harga nikel juga dapat memperbaiki ekspektasi investor terhadap prospek laba dan mendorong revaluasi saham ANTM. Namun, keberlanjutan katalis ini tetap bergantung pada konsistensi kenaikan harga nikel, volume penjualan, biaya produksi, serta kebijakan kuota produksi dan hilirisasi," ujarnya, seperti dikutip Rabu (28/10/2026).

Investor, kata dia, juga perlu mewaspadai risiko kelebihan pasokan global yang dapat membatasi kenaikan harga komoditas tersebut. Artinya, konfirmasi tren harga nikel dan kinerja keuangan tetap diperlukan sebelum menyimpulkan bahwa kenaikan saham akan berlanjut. Dirinya merekomendasikan buy saham ANTM dengan target harga Rp3.470.

Diketahui, harga nikel melanjutkan penguatan dan menembus US$16 ribu per ton di London Metal Exchange (LME), seiring ekspektasi pengetatan pasokan dari rencana pemangkasan produksi oleh produsen nikel China di Indonesia. Berdasarkan laporan, produsen yang terlibat mencakup Tsingshan Holding Group, GEM, Lygend Resources & Technology, dan Zhejiang Huayou Cobalt. Kesepakatan tersebut mencerminkan meningkatnya tekanan terhadap industri nikel di tengah pelemahan harga dan kenaikan biaya operasional.

Sementara itu, pemerintah telah menyetujui revisi rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) 2026 dengan target produksi bijih nikel sekitar 290 juta ton, lebih rendah dibandingkan realisasi 2025 sebesar 379 juta ton. Meski demikian, target revisi tersebut meningkat dibandingkan target awal 2026 yang berada pada kisaran 250-260 juta ton.

Per September 2026, Antam membukukan laba bersih Rp9,66 triliun, meningkat 46% dibandingkan periode sama tahun lalu Rp6,61 triliun. Pada periode itu, pendapatan naik 23% menjadi Rp88,4 triliun dari Rp72 triliun.

Penjualan domestik berkontribusi sebesar Rp83,86 triliun atau setara 95% dari total. Jumlah itu meningkat 21%, mencerminkan kuatnya penyerapan emas, bijih nikel, dan bijih bauksit perseroan.

Segmen nikel (feronikel dan bijih nikel) berkontribusi sebesar 19% terhadap total pendapatan Antam hingga September 2026. Pendapatan dari segmen ini mencapai Rp16,98 triliun, meningkat 52% periode sama tahun lalu Rp11,15triliun.

Sejalan dengan upaya optimalisasi kegiatan penambangan dan pengelolaan operasional, ANTAM memproduksi bijih nikel sebanyak 12,16 juta wet metric ton (wmt) per September 2026, dengan penjualan 10,73 juta wmt.

Sementara itu, produksi feronikel mencapai 11.638 ton nikel dalam feronikel (tni), yang didukung oleh stabilitas operasional serta ketersediaan bahan baku yang memadai. Secara kumulatif, penjualan feronikel mencapai 13.971 TNi, meningkat 71% dibandingkan periode sama tahun lalu sebanyak 8.182 TNi.

BNI Sekuritas melihat volume penjualan bijih nikel Antam bisa meningkat, seiring agenda relaksasi RKAB pemerintah. Antam masih mempertahankan panduan produksi bijih nikel 18 juta ton, dengan realisasi semester I-2026 sebanyak 7,8 juta ton.

BNI Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy saham ANTM dengan target harga tinggi, Rp5.700, menawarkan potensi gain sekitar 80%. Bagi sekuritas ini, ANTM adalah saham pilihan di sektor pertambangan. Saham ANTM kini diperdagangkan cukup murah, dengan PER 5,3 kali. Sekuritas ini memprediksi laba bersih ANTM tumbuh 92% menjadi Rp12,4 triliun tahun 2026.

Sementara itu, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko ANTAM Arini Kasmira mengatakan, kinerja nikel pada semester pertama tahun ini menunjukkan pentingnya diversifikasi portofolio komoditas dalam menjaga kualitas kinerja perseroan.

"ANTAM terus mengoptimalkan kinerja pada seluruh komoditas utama dengan tetap menjaga disiplin biaya dan pengelolaan risiko. Penguatan kontribusi bisnis nikel pada semester I-2026 menjadi bagian dari upaya perseroan menjaga keseimbangan portofolio di tengah dinamika pasar komoditas," ujar Arini.

Arini menambahkan, perseroan akan tetap mencermati perkembangan pasar dan menjaga fleksibilitas strategi bisnis dalam mengoptimalkan potensi masing-masing komoditas.

"Fokus kami adalah menjaga pertumbuhan yang sehat melalui pengelolaan portofolio secara disiplin, penguatan efisiensi, serta pengembangan bisnis yang terukur agar dapat terus memberikan nilai tambah yang berkelanjutan bagi perseroan," tutup Arini.

(ayh/ayh) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Prospek Saham Aneka Tambang (ANTM) di Tengah Badai MSCI


Most Popular
Features