Harga Emas Global Masih Tinggi, Emiten Ini Bakal Cuan Besar di 2026
Jakarta, CNBC Indonesia - Tren penguatan harga emas belum pudar. Meski sempat terperosok di bawah US$ 4.000 per ons, harga emas kembali bersinar. Tercatat, hingga pukul 13.17 Jumat, 3 Juli 2026, harga emas bertengger di level US$4.164 atau menguat 40,90 poin (0,99%) dari harga penutupan sebelumnya di US$4.123.
Hasil ini menjadi sinyal positif ke perusahaan atau emiten berbasis komoditas seperti PT Aneka Tambang Tbk atau Antam (ANTM). Mengingat kontribusi pendapatan bisnis perusahaan mayoritas dari penjualan emas.
Hal tersebut pun diakui oleh Senior Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta. Ia mengatakan, Tren harga emas global yang tetap kuat sebagai aset safe haven di tengah eskalasi geopolitik di Timur Tengah menjadi katalis positif bagi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam. Apalagi, mulai beroperasinya pabrik Smelter Grade Alumina (SGA) yang memperkuat segmen bhbauksit dan alumina dan kelancaran kuota produksi (RKAB) dan pemulihan rantai pasok domestik (sourcing emas).
"Meski begitu, tetap ada katalis negatif, yakni wacana kebijakan domestik terkait penyesuaian tarif royalti maupun windfall tax untuk sektor pertambangan yang dapat menggerus margin keuntungan jika diimplementasikan," ungkap Nafan kepada CNBC Indonesia, Kamis (2/7/2026).
Menurut Nafan, segmen emas merupakan mesin utama pendapatan perusahaan yang berkontribusi sekitar 81% dari total pendapatan Antam pada Kuartal I-2026 (mencapai Rp23,89 triliun). Ketika volume penjualan ritel naik dibarengi dengan harga premium domestik yang stabil, top-line (pendapatan) dan bottom-line (laba bersih) perusahaan otomatis terkerek naik secara signifikan.
"Dampak ini menjadi katalis positif yang kuat bagi pergerakan saham ANTM, karena pasar merespons pertumbuhan volume penjualan logam mulia yang stabil di atas target manajemen (target penjualan emas tahun 2026 berada di kisaran 43-45 ton). Accumulative Buy ANTM TP 3430," jelas Nafan.
Apalagi menurutnya, secara fundamental, Antam dinilai masih sangat prospektif. Konsistensi Antam dalam membagikan dividen didukung oleh perbaikan profitabilitas yang solid. Pada Kuartal I-2026, Antam mencatatkan lompatan laba bersih sebesar 58% secara tahunan (YoY) mencapai Rp3,66 triliun.
Kemampuan mencetak arus kas yang kuat dari segmen emas dan nikel memberikan kepastian bagi pasar bahwa dividend payout ratio (DPR) yang historisnya berada di kisaran 70% hingga 100% masih berkelanjutan untuk membahagiakan para pemegang saham.
Sekadar informasi, harga emas produksi Antam atau yang dikenal dengan emas Antam Logam Mulia kembali menguat pada perdagangan hari ini.
Melansir data dari situs resmi PT Antam, logammulia.com pukul 08.30 WIB, di butik emas LM Graha Dipta Pulo Gadung Jakarta, harga emas satuan 1 gram pada hari ini dibanderol Rp2.651.000 per batang, atau naik Rp11.000 dibandingkan perdagangan sebelumnya. Harga emas Antam Logam Mulia sudah naik Rp 26.000 dalam dua hari,
Selaras dengan itu, harga buyback atau pembelian kembali emas Antam juga ikut menguat. Hari ini harga buyback berada di level Rp2.400.000 per gram atau naik Rp55.000 dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Di sisi lain, harga saham ANTM juga tercatat naik pada perdagangan saham sesi I siang ini sebesar Rp170 (6,16%) ke Rp2.930.
source on Google [Gambas:Video CNBC]