MARKET DATA

IHSG Sesi I Parkir di Zona Merah, Turun 0,5% ke Level 6.263

Romys Binekasri,  CNBC Indonesia
25 September 2026 11:37
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia, Jumat 28/2/2020 (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Ilustrasi Bursa Efek Indonesia, Jumat 28/2/2020 (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih dalam tren pelemahan hingga sesi Isiang ini, Jumat (25/9/20260. IHSG melemah di level 6.263,73, turun 34,88 poin atau setara 0,55%.

Padahal, mengawali perdagangan, IHSG dibuka menguat di level 6.315,53, sempat menyentuh level tertinggi di 6.328,41 pada awal sesi. Namun tekanan jual yang muncul sepanjang perdagangan membuat indeks terus tergerus hingga akhirnya menyentuh level terendah di 6.261,47, sebelum ditutup di 6.263,73.

Mengutip data Bursa efek Indonesia (BEI), pelemahan IHSG hari ini karena 540 saham melemah, 275 saham tak bergerak, dan hanya 148 saham yang menguat.


Mengutip Stockbit, dari sisi aktivitas perdagangan, volume transaksi tercatat sebesar 14,57 miliar saham, sedikit di bawah rata-rata volume harian yang berada di angka 17,44 miliar saham. Sementara itu, total lot yang diperdagangkan mencapai 145,74 juta lot dengan nilai transaksi menembus Rp4.344,17 triliun.

Memasuki perdagangan terakhir pekan ini, pelaku pasar dalam negeri masih akan dihadapkan pada berbagai sentimen baik dari dalam maupun luar negeri.

Dari dalam negeri, perhatian tertuju pada pertumbuhan uang beredar, langkah Bank Indonesia menjaga rupiah, serta hasil pembahasan kondisi ekonomi dan postur APBN 2027. Sementara itu, pergerakan dolar AS, yield US Treasury, harga minyak, dan konflik Timur Tengah masih menjadi perhatian dari luar negeri

Dua pejabat Federal Reserve (The Fed) mengisyaratkan suku bunga AS masih perlu dinaikkan untuk menekan inflasi yang dinilai terlalu tinggi.

Presiden Philadelphia Fed Anna Paulson menyebut inflasi masih "membandel" dan membuka peluang pengetatan lanjutan. Sementara Presiden New York Fed John Williams menilai kenaikan suku bunga lagi pada akhir 2026 merupakan langkah yang masuk akal.

Sebelumnya, The Fed telah menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin ke 3,75%-4,00%. Inflasi PCE AS tercatat 3,7% pada Juli, masih jauh di atas target The Fed sebesar 2%.

Yield obligasi Treasury AS tenor panjang melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari 22 tahun pada Kamis (24/9/2026), memperpanjang aksi jual obligasi global.

Tak hanya AS, aksi jual obligasi juga melanda negara maju. Kondisi ini membuat bunga pinjaman global makin meningkat sehingga ekonomi bisa tertekan.

Yield Treasury 30 tahun menembus 5,48%, tertinggi sejak 2004, sementara yield tenor 10 tahun mencapai 5,20%.
Lonjakan yield dipicu kekhawatiran harga energi tinggi, ekonomi AS yang tetap kuat, inflasi yang membandel, serta meningkatnya belanja pemerintah akan membuat inflasi bertahan lebih lama.

Investor kini mulai melihat 6% pada yield Treasury 10 tahun sebagai level yang berpotensi menekan pasar keuangan dan perusahaan AS.

Kenaikan yield juga membuat biaya pinjaman masyarakat semakin mahal. Suku bunga KPR 30 tahun AS kini sekitar 7%, atau 1 poin persentase lebih tinggi dibanding sebelum perang Iran.

Tekanan juga terjadi di pasar obligasi global. Perekonomian negara-negara terbesar di dunia menghadapi beban pembayaran bunga yang semakin tinggi ketika kebutuhan belanja pemerintah melonjak.

Sementara itu, bursa saham Asia-Pasifik bergerak variatif pada perdagangan Jumat (25/9/2026). Pergerakan bursa Asia berlangsung di tengah perhatian investor terhadap lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS).

Indeks saham Jepang menguat sementara Australia melemah. Nikkei 225 Jepang naik 0,25%, sedangkan Topix menguat 0,40%, sementara S&P/ASX 200 Australia turun 0,48%.

(rob/rob) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Breaking, IHSG Anjlok 1% Lebih ke Level 6.506


Most Popular
Features