Breaking, IHSG Tiba-Tiba Anjlok 1% lebih Jelang Pasar Tutup
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan tren pelemahan pada perdagangan sesi II, Jumat (25/9/2026). IHSG jelang penutupan perdagangan pada pekan ini anjlok di atas 1% ke level 6.232,38.
Mengawali perdagangan, IHSG dibuka menguat di level 6.315,53 dan sempat menyentuh level tertinggi (high) di 6.328,41 pada awal sesi pagi. Namun, tekanan jual yang cukup deras mulai terlihat setelah itu, di mana indeks terus mengalami penurunan tajam hingga pukul 10:00, sempat menyentuh level terendah sesi di 6.235,18. Setelah sempat mengalami rebound terbatas dan bergerak fluktuatif hingga pukul 11:00, IHSG kembali melemah dan ditutup di kisaran 6.236,53 hingga waktu data ini diambil.
Dari sisi aktivitas perdagangan, volume transaksi tercatat cukup signifikan mencapai 21,04 miliar saham, meningkat dibandingkan data pada pertengahan sesi sebelumnya. Sementara itu, total lot yang diperdagangkan mencapai 210,44 juta lot dengan nilai transaksi menembus Rp6.709,128 triliun.
Memasuki perdagangan terakhir pekan ini, pelaku pasar dalam negeri masih akan dihadapkan pada berbagai sentimen baik dari dalam maupun luar negeri.
Dari dalam negeri, perhatian tertuju pada pertumbuhan uang beredar, langkah Bank Indonesia menjaga rupiah, serta hasil pembahasan kondisi ekonomi dan postur APBN 2027. Sementara itu, pergerakan dolar AS, yield US Treasury, harga minyak, dan konflik Timur Tengah masih menjadi perhatian dari luar negeri
Dua pejabat Federal Reserve (The Fed) mengisyaratkan suku bunga AS masih perlu dinaikkan untuk menekan inflasi yang dinilai terlalu tinggi.
Presiden Philadelphia Fed Anna Paulson menyebut inflasi masih "membandel" dan membuka peluang pengetatan lanjutan. Sementara Presiden New York Fed John Williams menilai kenaikan suku bunga lagi pada akhir 2026 merupakan langkah yang masuk akal.
Sebelumnya, The Fed telah menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin ke 3,75%-4,00%. Inflasi PCE AS tercatat 3,7% pada Juli, masih jauh di atas target The Fed sebesar 2%.
Yield obligasi Treasury AS tenor panjang melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari 22 tahun pada Kamis (24/9/2026), memperpanjang aksi jual obligasi global.
Tak hanya AS, aksi jual obligasi juga melanda negara maju. Kondisi ini membuat bunga pinjaman global makin meningkat sehingga ekonomi bisa tertekan.
Yield Treasury 30 tahun menembus 5,48%, tertinggi sejak 2004, sementara yield tenor 10 tahun mencapai 5,20%.
Lonjakan yield dipicu kekhawatiran harga energi tinggi, ekonomi AS yang tetap kuat, inflasi yang membandel, serta meningkatnya belanja pemerintah akan membuat inflasi bertahan lebih lama.
Investor kini mulai melihat 6% pada yield Treasury 10 tahun sebagai level yang berpotensi menekan pasar keuangan dan perusahaan AS.
Kenaikan yield juga membuat biaya pinjaman masyarakat semakin mahal. Suku bunga KPR 30 tahun AS kini sekitar 7%, atau 1 poin persentase lebih tinggi dibanding sebelum perang Iran.
Tekanan juga terjadi di pasar obligasi global. Perekonomian negara-negara terbesar di dunia menghadapi beban pembayaran bunga yang semakin tinggi ketika kebutuhan belanja pemerintah melonjak.
Sementara itu, bursa saham Asia-Pasifik bergerak variatif pada perdagangan Jumat (25/9/2026). Pergerakan bursa Asia berlangsung di tengah perhatian investor terhadap lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS).
Indeks saham Jepang menguat sementara Australia melemah. Nikkei 225 Jepang naik 0,25%, sedangkan Topix menguat 0,40%, sementara S&P/ASX 200 Australia turun 0,48%.