MARKET DATA

Kredit Baru Meningkat Tajam di Q2, Pinjaman Modal Kerja Jadi Motor

Robertus Andrianto,  CNBC Indonesia
20 July 2026 11:35
FILE PHOTO - The logo of Indonesia's central bank, Bank Indonesia, is seen on a window in the bank's lobby in Jakarta, Indonesia September 22, 2016.  REUTERS/Iqro Rinaldi/File Photo
Foto: REUTERS/Iqro Rinaldi

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) mencatat penyaluran kredit baru perbankan melonjak pada kuartal II-2026. Namun di tengah derasnya permintaan pembiayaan, perbankan justru terlihat lebih berhati-hati dalam menyalurkan pinjaman kepada nasabah.

Hal tersebut tercermin dalam hasil Survei Perbankan Bank Indonesia yang dirilis Senin (20/7/2026). BI melaporkan pertumbuhan kredit baru pada kuartal II-2026 meningkat signifikan dibandingkan kuartal sebelumnya.

"Peningkatan tersebut tercermin dari nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) kredit baru sebesar 93,08%, lebih tinggi dibandingkan SBT 38,74% pada triwulan sebelumnya," tulis BI dalam laporannya.

Kenaikan penyaluran kredit terjadi di seluruh segmen pembiayaan. Kredit Modal Kerja (KMK), Kredit Investasi (KI), hingga Kredit Konsumsi sama-sama mencatat peningkatan dibandingkan periode Januari-Maret 2026.

Kondisi ini menunjukkan aktivitas ekonomi yang masih terjaga dan kebutuhan pembiayaan dunia usaha maupun rumah tangga yang tetap tinggi di tengah ketidakpastian global.

BI memperkirakan tren positif tersebut masih akan berlanjut pada kuartal III-2026. Hal itu tercermin dari proyeksi SBT kredit baru yang tetap berada di level tinggi, yakni sebesar 84,65%.

Lebih rinci, Kredit Modal Kerja tercatat SBT-nya tumbuh 94,34%, Kredit Investasi 93,51%, dan Kredit Konsumsi 83,67%, yang tumbuh lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya.

"Peningkatan Kredit Konsumsi bersumber dari peningkatan permintaan pada Kredit Pemilikan Rumah (KPR)/Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) dengan SBT 78,20%, Kredit Kendaraan Bermotor (SBT 67,95%), Kredit Multiguna (SBT 69,71%), dan Kredit Tanpa Agunan (SBT 49,70%)," tulis BI dalam laporannya.

Sementara itu, permintaan Kartu Kredit (SBT 30,18%) mengalami perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya.

Kemudian, secara sektoral, BI mencatat penyaluran kredit baru pada triwulan II 2026 meningkat pada beberapa sektor, dengan SBT tertinggi pada sektor Transportasi, Pergudangan, dan Komunikasi (SBT 91,86%), Jasa Pendidikan (SBT 83,03%), Industri Pengolahan (SBT 73,78%), Konstruksi (SBT 73,37%), dan Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial (SBT 70,09%).

Bank Makin Ketat Seleksi Debitur

Meski kredit tumbuh pesat, survei BI menunjukkan perbankan justru memperketat standar penyaluran kredit pada kuartal II-2026.

Hal ini tercermin dari Indeks Lending Standard (ILS) yang berada di level positif 1,03. Angka positif menunjukkan bank menerapkan standar kredit yang lebih ketat dibandingkan kuartal sebelumnya.

BI menjelaskan kehati-hatian tersebut dilakukan pada sejumlah aspek, mulai dari penetapan suku bunga kredit, besaran plafon pinjaman, ketentuan dalam perjanjian kredit, tenor pinjaman, hingga biaya persetujuan kredit.

Sikap konservatif perbankan ini mencerminkan upaya menjaga kualitas kredit di tengah dinamika ekonomi global dan domestik yang masih penuh tantangan.

Meski lebih selektif, optimisme industri perbankan terhadap prospek kredit tetap tinggi. Responden survei BI memperkirakan pertumbuhan kredit hingga akhir 2026 masih akan berlanjut. Prospek tersebut didukung kondisi ekonomi dan moneter yang dinilai tetap kondusif, serta risiko kredit yang masih terjaga.

Menariknya, pada kuartal III-2026 perbankan diperkirakan mulai melonggarkan standar penyaluran kredit. BI mencatat proyeksi ILS pada periode tersebut berada di level negatif 2,25.

Artinya, bank diperkirakan akan lebih agresif menyalurkan kredit dalam beberapa bulan ke depan guna menangkap peluang pertumbuhan ekonomi yang masih terbuka.

(haa/haa) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Bukan Cuma Technical Rebound, Ini Alasan Saham Bank Tiba-Tiba Ngebut


Most Popular
Features