Ekonom Bilang Rupiah Bisa Balik Menguat Lawan Dolar, Ini 3 Syaratnya!

Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
Rabu, 03/06/2026 12:05 WIB
Foto: Warga melakukan penukaran mata uang rupiah ke dolar AS di Money Changer Valuta Artha Mas, Jakarta, Rabu (6/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah terus melemah pada pada perdagangan Rabu (3/6/2026). Menurut data Refinitiv, pada pukul 11.00 WIB, Rp 17.925/US$.

Ini adalah level terburuk rupiah sepanjang masa terhadap greenback. Setelah menembus level psikologis Rp17.900/US$, rupiah kini semakin mendekati level psikologis berikutnya di Rp18.000/US$.


Chief Economist Permata Bank Josua Pardede mengakui bahwa pelemahan rupiah ke sekitar Rp17.900 mencerminkan bahwa pasar masih melihat tekanan rupiah sebagai gabungan antara tekanan global dan tekanan domestik, bukan lagi sekadar faktor musiman.

"Sentimen global yang paling dominan masih berasal dari ketidakpastian konflik AS-Iran, risiko pasokan energi melalui Selat Hormuz, harga minyak yang tetap tinggi, dan permintaan dolar AS sebagai aset aman," papar Josua, Rabu (3/6/2026).

Di sisi lain, Josua menilai tekanan rupiah juga diperbesar oleh melemahnya bantalan neraca perdagangan.

"Surplus perdagangan April 2026 hanya sekitar US$ 90 juta, turun tajam dari US$ 3,32 miliar pada Maret, sementara secara kumulatif surplus Januari-April 2026 turun dari US$ 11,07 miliar menjadi US$ 5,64 miliar," katanya.

Ini berarti pasokan dolar dari perdagangan barang menjadi jauh lebih tipis. Pada saat impor tumbuh tinggi, terutama untuk bahan baku, energi, dan barang modal, kebutuhan dolar meningkat, sementara tambahan dolar dari ekspor tidak cukup besar untuk menyeimbangkan pasar.

"Jadi, rupiah melemah bukan karena Indonesia langsung defisit perdagangan, tetapi karena kualitas surplusnya sudah melemah dan tidak lagi cukup kuat menjadi penyangga nilai tukar," paparnya.

Adapun, mengenai peluang penguatan, Josua melihat ada peluang. Namun, dia mengaku lebih realistis dan melihatnya sebagai penguatan terbatas atau stabilisasi bertahap.

"Rupiah bisa kembali menguat ke kisaran Rp17.600 sampai Rp17.750 jika ada tiga syarat," ujarnya.

Pertama, harga minyak turun lebih jelas karena kemajuan damai AS-Iran. Kedua, arus asing kembali masuk ke SBN dan SRBI dan ketiga, pemerintah memberi sinyal fiskal yang meyakinkan.

Namun, dia menilai jika harga minyak kembali naik, pembicaraan damai terhambat, dolar AS menguat lagi, dan investor masih melihat risiko fiskal serta neraca eksternal, rupiah berisiko bertahan di kisaran Rp17.800 sampai Rp18.000.

Rupiah sudah tercatat menuju bulan terburuk sejak Oktober 2024 karena kekhawatiran belanja fiskal dan harga minyak tinggi, sehingga pasar masih membutuhkan bukti perbaikan yang lebih kuat, bukan hanya pernyataan optimistis.

Surya Wijaksana, Ekonom UOB Kay Hian, mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi oleh kemarin menipisnya surplus perdagangan Indonesia. Jika surplus menipis, maka ada pemburukan defisit transaksi berjalan ke depannya. Adapun, momen penguatan rupiah ke depannya tetap terbuka meskipun terbatas.

"Ya ada kemungkinan menguat saat (seasonal selesai). Tapi risiko nya dari kebijakan moneter global yang lebih hawkish. ECB kemungkinan besar naikin rate. Fed juga makin hawkish," katanya.


(haa/haa) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Rupiah Melemah Parah, Begini Proyeksi Dolar AS Ke Depan