MARKET DATA

Dolar AS Masih Cukup Kuat, Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.690/US$

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
22 May 2026 15:08
Warga melakukan penukaran mata uang rupiah ke dolar AS di Money Changer Valuta Artha Mas, Jakarta, Rabu (6/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Warga melakukan penukaran mata uang rupiah ke dolar AS di Money Changer Valuta Artha Mas, Jakarta, Rabu (6/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia — Nilai tukar rupiah menutup perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (22/5/2026), dengan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda mengakhiri perdagangan di level Rp17.690/US$ atau terdepresiasi 0,28% dan sempat tembus level Psikologisnya di Rp17.700/US$. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak di rentang Rp17.660/US$ hingga Rp17.725/US$. 

Pelemahan ini sekaligus melanjutkan tekanan pada perdagangan sebelumnya, ketika rupiah ditutup melemah 0,23% di level Rp17.640/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau menguat. Per pukul 15.00 WIB, DXY naik 0,04% ke level 99,293.

Pelemahan rupiah hari ini terjadi seiring dengan rilis data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal I-2026 oleh Bank Indonesia (BI).

Dalam laporan tersebut, transaksi berjalan Indonesia mencatat defisit US$4 miliar atau 1,1% dari PDB.

Defisit transaksi berjalan tersebut meningkat dibandingkan kuartal IV-2025 yang sebesar US$2,5 miliar atau 0,7% dari PDB. Angka ini juga lebih tinggi dibandingkan kuartal I-2025 yang tercatat sebesar US$200 juta atau 0,1% dari PDB.

Defisit transaksi berjalan kuartal I-2026 menjadi yang terbesar sejak kuartal IV-2019, ketika defisit tercatat sebesar US$8,04 miliar. Meski begitu, BI menyebut defisit transaksi berjalan masih tetap rendah.

"Neraca perdagangan nonmigas tetap membukukan surplus meskipun lebih rendah dibandingkan dengan surplus pada triwulan sebelumnya, sejalan dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi global serta terganggunya rantai pasok perdagangan antarnegara," kata Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso, Jumat (22/5/2026).

Dari eksternal, pergerakan dolar AS juga ikut menekan rupiah. Dolar AS bertahan di dekat level tertinggi enam pekan pada perdagangan hari ini, setelah sinyal yang belum seragam terkait peluang kesepakatan damai AS-Iran memicu volatilitas di pasar keuangan global.

Washington dan Teheran masih berada pada posisi yang berseberangan terkait stok uranium Iran dan kendali Selat Hormuz. Meski begitu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut terdapat beberapa sinyal positif dalam proses pembicaraan.

Selama dolar AS masih bertahan di area tinggi, ruang penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, cenderung ikut terbatas.

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Rupiah Menguat Jelang Libur Natal, Dolar AS Turun Jadi Rp16.750


Most Popular
Features