MARKET DATA

Anomali Rupiah Bikin Bingung, Begini Analisa Pakar Ekonomi!

Zahwa Madjid,  CNBC Indonesia
22 January 2026 07:05
Pekerja pusat penukaran mata uang asing menghitung uang Dollar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo di Melawai, Jakarta, Senin (4/7/2022). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)
Foto: Ilustrasi dolar Amerika Serikat (AS). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah sedang berada dalam tren melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal 2026. Padahal pada saat yang sama, dolar AS justru terlihat melemah di pasar global.

Kondisi ini membuat pergerakan rupiah terasa janggal karena ketika dolar menguat rupiah tertekan, namun saat dolar melemah rupiah juga belum mampu berbalik menguat.

Ekonom Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai faktor pelemahan rupiah tersebut sebagai anomali. Menurutnya, pelemahan rupiah saat ini bukan disebabkan oleh faktor eksternal melainkan karena persoalan ketidakseimbangan suplai dan permintaan dolar di dalam negeri.

"Kalau kita lihat dari faktor pelemahan rupiah, ini memang agak anomali ya, karena dari dalam negeri, sebenarnya likuiditas valas kita itu berlimpah. Terutama berasal dari trade surplus yang terjadi dalam 67 bulan selama beruntun," ujar Myrdal kepada CNBC Indonesia dikutip Rabu (21/1/2026).

Selain surplus perdagangan, kondisi neraca transaksi berjalan atau current account Indonesia juga relatif terjaga. Pada kuartal ketiga 2026 tercatat surplus, sementara pada kuartal IV meskipun berpotensi defisit nilainya diperkirakan masih di bawah 0,6% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Tak hanya itu, aliran dana asing (capital inflow) menurut Myrdal deras masuk ke pasar keuangan domestik, baik ke pasar saham, surat utang negara (SUN), maupun Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pada awal tahun.

"Jadi banyak inflow masuk. Tapi di sisi yang lain, ternyata dari posisi rupiah kita justru melemah," ujarnya.

Namun di sisi lain, permintaan dolar domestik terutama untuk kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri, tidak diimbangi oleh pasokan dolar di dalam negeri.

Menurut Myrdal, hal ini disebabkan oleh perilaku eksportir khususnya dari sektor Sumber Daya Alam (SDA) nonmigas, yang masih menahan devisa hasil ekspor dan belum mengkonversinya ke rupiah.

"Makanya kenapa kalau kita lihat kondisi saat ini, terjadi imbalance antara demand dolar domestik dengan supply dolar domestik. Jadi ada mismatch antara supply dolar dan juga demand dolar domestik. Saat demand domestiknya konsisten tetap atau ada kenaikan sedikit tapi supply dolarnya berkurang, inilah yang membuat kenapa rupiah melemah," ujarnya.

Head of Macro Economic & Financial Market Research Permata Bank Faisal Rachman pun menilai pelemahan rupiah saat ini lebih dipengaruhi oleh faktor domestik ketimbang global.

Menurutnya, selain sentimen global berupa ketegangan geopolitik yang mendorong risk-off sentiment, terdapat risiko dari dalam negeri yang perlu diwaspadai pasar.

"Salah satunya adalah terkait isu independensi BI dan risiko melebarnya twin deficit. Ada dampak negatif karena terkait risiko pada independensi BI," ujar Faisal kepada CNBC Indonesia dikutip Rabu (21/1/2026).

Faisal menjelaskan berlanjutnya perang dagang global berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan, sementara kebijakan pro-pertumbuhan berisiko meningkatkan defisit fiskal.

"Karena berlanjutnya perang dagang akan berdampak pada pelebaran CAD, dan pelebaran defisit fiskal akibat kebijakan pro growth," ujarnya.

(mij/mij)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Rupiah Tergelincir, Nilai Tukar Dolar AS Naik Jadi Rp16.430


Most Popular
Features