Momen Anggota DPR Cecar BI Soal Dolar Tembus Rp 17.600

Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
Senin, 18/05/2026 14:49 WIB
Foto: Gubernur BI, Perry Warjiyo menghadiri rapat kerja Komisi XI DPR, Jakarta, Senin (18/5/2026). (CNBC Indonesia/Robertus Andrianto Serin)

Jakarta, CNBC Indonesia - Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI mencecar Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) terkait dengan pelemahan rupiah saat ini yang menyentuh level Rp 17.600 per dolar AS dalam rapat dengar pendapat, Senin (18/5/2026).

Merujuk data Refinitiv, rupiah pada pukul 10.20 WIB melemah 1,15% ke level Rp17.660/US$. Tekanan tersebut lebih dalam dibandingkan posisi pembukaan pagi ini, ketika rupiah dibuka melemah 0,97% di posisi Rp17.630US$.


Posisi rupiah saat ini juga semakin menjauh dari penutupan perdagangan terakhir pekan lalu, Rabu (13/5/2026), sebelum libur panjang. Saat itu, rupiah ditutup menguat 0,17% ke level Rp17.460/US$.

Atas kondisi ini, anggota Komisi XI DPR Charles Honoris menilai BI selalu mengungkapkan stabilitas rupiah tetap terjaga, padahal pelemahannya sudah mencapai Rp 17.000 per dolar AS. Dia pun mempertanyakan apa indikator BI dalam menilai rupiah stabil.

"Pertanyaan kami sederhana, indikator terjaga digunakan BI bagaimana?" ujarnya.

Dia pun bertanya: apakah BI melihat pelemahan rupiah ke level Rp 17.000 ini menjadi hal yang biasa atau sudah masuk ke dalam kategori tekanan fundamental?

Charles juga menanyakan seberapa besar cadangan devisa bisa digunakan untuk intervensi rupiah.

"Cadangan devisa memang tinggi US$ 146,2 miliar, tapi kecepatan penurunannya jika tekanan rupiah terus berlangsung," katanya.

Charles melihat tren dalam 3 bulan terakhir, cadangan devisa terus turun dan ini membuat dirinya khawatir. Dia pun berharap agar cadangan devisa tidak terkikis, sementara intervensi terus dilakukan.

"Apa langkah BI dan apakah BI punya skenario terburuk? capital outflow sekarang terjadi berapa dan langkah oleh BI?" tanya Charles.

Sementara itu, anggota Komisi XI dari partai Golkar Muhidin M. Said meminta penjelasan BI langkah apa saja yang akan dilakukan BI untuk menganalisa pergerakan rupiah, serta mempersiapkan asumsi rupiah untuk laporan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok Pokok Kebijakan Fiskal (KEMPPKF) 2026 pada 20 Mei 2026. KEMPPKF menjadi cetak biru penting bagi penyusunan RAPBN 2026.

"Langkah apa yang bisa ditempuh dengan BI. Karena apa situasi geopol yang saat ini belum bisa diprediksi karena saat ini tidak ada kesimpulan menyatakan perang Iran akan berakhir secepat itu. Langkah apa menyangkut nilai tukar?," tanya Muhidin.

Dia pun bertanya apakah BI akan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate, sementara ini yield Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI telah mencapai 6%.

Langkah menaikkan BI Rate ini, dinilai Muhidin, sebagai natural hedging. Setidaknya, kebijakan suku bunga ini dapat memberikan likuiditas di pasar.

"Memang ini apakah akan terus dipertahankan untuk menaikkan BI Rate sehingga memberikan natural hedging bagi fund tapi paling tidak memberikan likuiditas di pasar sehingga bagi mereka yang punya long dolar untuk utang pakai rupiah dan bisa jaga reputasi BI yang independen," paparnya.

Anggota Komisi XI DPR Primus Yustisio dari Partai Amanat Nasional (PAN) menyampaikan kritik tajam. Dia menilai hubungan dan tugas BI mengalami anomali. Pasalnya, ekonomi RI tumbuh 5,61% sementara rupiahnya jeblok.

"Pertumbuhan ekonomi 5,61% tapi nilai tukar rupiah jeblok bahkan sekarang rekor terendahnya terhadap dolar. Indeks kita juga habis, merosot turun di mana indeks seluruh dunia sejak perang yang terjadi indeks pada dunia pada seluruhnya sudah rebound bahkan plus, sekarang RI masih minus 20%," katanya.

"Ini mempertanyakan kualitas BI ini menurut saya, saya harus secara tajam mempertanyakan kenapa rupiah ini lemah. Kalau dibandingkan dolar, tapi faktanya dan ironinya terhadap semua mata uang, Singapura, Australia, Ringgit, Riyal, Dolar Hong Kong, Euro," tambahnya.

Dia mengingat euro pada awal 2006 berada di level Rp 7.000, sementara posisinya sekarang melemah terhadap rupiah hingga mencapai Rp 20.000. Hal ini, menurutnya, berarti rupiah melemah secara signifikan terhadap banyak mata uang.

Oleh karena itu, BI tidak bisa berdiam diri. Dia pun meminta agar Gubernur BI Perry Warjiyo untuk mundur secara ksatria karena dinilai gagal menahan pelemahan nilai tukar rupiah.

"Menurut saya BI sudah menghilangkan trust, BI menyampingkan kredibilitasnya. Anda sebagai pimpinan BI harus gentlemen. Tindakan gentlemen bukan penghinaan, saya berikan contoh mungkin saatnya sekarang mengundurkan diri. Ini anda akan dihormati sebagai Korea dan Jepang kalau anda tidak bisa melakukan tugas dengan baik," ujarnya.


(haa/haa) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Rupiah Melemah Parah, Begini Proyeksi Dolar AS Ke Depan