Internasional

Cuan Besar! Setelah Wall Street, Bursa Korsel Tembus Rekor 8.000

sef, CNBC Indonesia
Jumat, 15/05/2026 09:10 WIB
Foto: Ilustrasi bursa saham Korea Selatan (Korsel) (REUTERS/Kim Hong-Ji)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Korea Selatan (Korsel) mencetak sejarah baru pada perdagangan Jumat (15/5/2026). Ini setelah indeks utama Kospi menembus level 8.000 untuk pertama kalinya.

Lonjakan tersebut didorong booming industri kecerdasan buatan (AI) yang memicu reli besar saham perusahaan semikonduktor Korsel. Indeks Kospi sempat melampaui level psikologis 8.000 pada sesi pagi sebelum kembali turun ke kisaran 7.900 di sesi selanjutnya.


Meski demikian, pencapaian tersebut menjadi tonggak penting bagi pasar saham Korsel. Sebagai perbandingan, Kospi masih berada di kisaran 2.600 poin sekitar setahun lalu.

Perlu diketahui, Korsel adalah rumah bagi raksasa teknologi Samsung Electronics dan SK hynix, pemasok utama chip berkinerja tinggi yang mendukung infrastruktur AI secara global. Kedua perusahaan tersebut telah mencatatkan pendapatan kuartal pertama yang rekor karena permintaan melonjak untuk teknologi yang berkembang pesat di seluruh dunia.

Saham Samsung Electronics telah naik sekitar 190% selama enam bulan, sementara saham SK hynix naik 220% dalam periode yang sama. Kegilaan global untuk membangun pusat data AI telah menyebabkan pesanan untuk mikrochip memori canggih dan berbandwidth tinggi dari perusahaan-perusahaan tersebut melonjak.

Korsel pun telah menyatakan akan melipatgandakan pengeluaran untuk AI tahun ini. Negara itu optimis bisa bergabung dengan Amerika Serikat (AS) dan China sebagai salah satu dari tiga kekuatan AI teratas.

Sementara itu, seorang analis di Yuanta Securities di Seoul, Lee Jae-won, mengatakan Kospi kemungkinan akan mempertahankan tren kenaikannya untuk sementara waktu.

"Selain semikonduktor, sektor utama berdasarkan kapitalisasi pasar juga mencakup peralatan daya dan infrastruktur terkait AI yang digunakan di pusat data AI," katanya kepada AFP.

Meski begitu, pengamat lain mengatakan tidak ada jaminan bahwa tingkat permintaan AI yang sama akan berlanjut di tahun-tahun mendatang.

"Permintaan untuk pusat data AI bisa dibilang tidak pasti setelah dua tahun ke depan," ujar seorang profesor bisnis di Universitas Sejong, Kim Dae-jong.

Seok Byoung-hoon, seorang profesor ekonomi di Universitas Wanita Ewha, mengatakan masih belum jelas apakah ekspektasi pendapatan di masa depan "sudah tercermin dalam harga saham saat ini atau apakah hal itu dapat terus mendorong harga saham lebih tinggi".

Sebelumnya, saham-saham terkait AI juga melonjak di Wall Street semalam, dengan raksasa chip Nvidia melonjak 4,39%.

Sentimen investor juga meningkat setelah Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping sepakat selama pertemuan puncak mereka di Beijing pada hari Kamis bahwa Selat Hormuz, jalur pengiriman minyak global utama, harus tetap terbuka.


(sef/sef) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Arah IHSG Hadapi Sentimen Dalam & Luar Negeri di Pekan Pendek