BI Jaga Daftar Investor Ini Supaya Modal Asing Gak Kabur-Rupiah Stabil

Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
Senin, 13/04/2026 15:15 WIB
Foto: Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas (DPMA) Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea memberi pemaparan dalam acara Central Banking Forum 2026, di Grand Ballroom Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Senin (13/4/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tekanan terhadap kurs rupiah yang terjadi hari ini hingga bergerak ke level Rp 17.100 per dolar AS tak terlepasnya dari keluarnya aliran modal asing dari pasar negara-negara berkembang ke negara-negara maju, khususnya Amerika Serikat untuk ditaruh di greenback. Hal ini terindikasi dari menguat drastisnya indeks dolar, DXY.

Pagi tadi, saat pembukaan perdagangan perdana pasar keuangan. mata uang Garuda diperdagangkan di level Rp 17.100 per dolar AS, atau melemah 0,09% dibanding penutupan perdagangan pekan lalu, berdasarkan data Refinitiv. Sedangkan DXY menguat tajam 0,37% ke level 99,01.


Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI) Erwin Gunawan Hutapea mengatakan, khusus di Indonesia, outflow terjadi untuk jenis investor jangka pendek. Tipe investor ini kata dia kerap melepas investasi portofolio saat ada risiko sentimen, seperti perang Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.

"Karena lebih sensitif terhadap sentimen risiko. Mereka akan hitung, hedging dan return ada selisih positif apa enggak. Mereka hitung yield, currency profit, hedging. Ketika hitungan tipis mereka keluar, sebentar. Saat ada change mereka masuk lagi, karena lebih sensitif terhadap sentimen risiko," kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas (DPMA) Bank Indonesia (BI) Erwin Gunawan Hutapea dalam acara Central Banking Forum 2026 CNBC Indonesia, Senin (13/4/2026).

Meski begitu, Erwin memastikan, pergerakan kurs rupiah dibanding negara lain cenderung lebih stabil meski dalam tren yang melemah, menandakan bahwa investor jangka menengah panjang masih percaya diri terhadap fundamental ekonomi dan rupiah.

Berdasarkan catatan Bank Indonesia, indeks volatilitas rupiah memang masih menjadi yang terendah dibanding 7 negara lain, besarannya hanya 4,75%. 7 Negara itu seperti India rupee 8,92%, Filipina peso 10,55%, Thailand bath 12,40%, Meksiko peso 13,20%, Brazil real 13,69%, Argentina peso 14,50%, dan Afrika Selatan rand 16,34%.

Depresiasi atau pelemahan kurs rupiah pun masih lebih baik dibanding banyak negara, meskipun nilainya sudah ke level Rp 17.100 per dolar AS. BI mencatat, depresiasi hingga pekan ini sejak awal tahun hanya 2,91%, padahan Korea won mencapai 2,85% terhadap dolar AS, India rupee 3,08%, dan Turki lira 3,69%.

"Real money mereka lihat kepastian, prospek jangka panjang, umumnya dana pensiun, central bank, SWF. Ini kita perlu jaga agar tipe seperti ini tidak keluar. Biasanya kalau tipe ini keluar artinya ada persoalan perspektif fundamental ekonomi kita," tegas Erwin.


(arj) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Suku Bunga Diramal Higher for Longer, IHSG & Rupiah Ambruk