MARKET DATA

Dolar Dekati Rp17.000, Airlangga: Ekonomi RI Solid

Robertus Andrianto,  CNBC Indonesia
17 March 2026 07:55
Petugas menjunjukkan mata uang Dolar Amerika Serikat (AS) di VIP Money Changer, Jakarta, Kamis (25/9/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Petugas menjunjukkan mata uang Dolar Amerika Serikat (AS) di VIP Money Changer, Jakarta, Kamis (25/9/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah dan Bank Indonesia (BI) bersinergi untuk menjaga stabilitas rupiah. Seperti diketahui bahwa dolar mendekati Rp17.000/1US$ pada perdagangan hari ini.

Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda dibuka terdepresiasi sebesar 0,47% ke posisi Rp16.980/US$. Rupiah juga ditutup melemah 0,15% di level Rp16.900/US$.

Airlangga mengatakan bahwa BI berperan menjaga stabilitas rupiah, sementara pemerintah memastikan ekonomi Indonesia tetap solid.

"Jadi ini adalah tugas daripada Bank Indonesia, ini tugas dari BI untuk menjaga stabil rupiah. Dan dari pemerintahan kita sudah menjaga makro yang secara pruden dan kondisi perekonomian kita masih solid," kata Airlangga kepada awak media pada Senin (16/3/2026) di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta.

Dirinya juga memastikan bahwa pemerintah tidak serta merta agresif dalam menghadapi dolar yang mencapai posisi terburuk dibandingkan krisis moneter 1998 tersebut.

"Jadi kita juga, ya kita lihat saja situasi dan kita tetap pemerintah konservatif tidak terburu-buru untuk merespons dinamika dari luar," ujarnya.

Pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini masih dibayangi sentimen eksternal, terutama penguatan dolar AS di pasar global.

Indeks dolar AS terus menguat dan bergerak menuju level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan. indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB terpantau menguat tajam 0,68% ke level 99,655 sehingga memengaruhi gerak rupiah terhadap dolar AS.

Penguatan ini terjadi seiring lonjakan harga minyak dunia yang telah menembus US$100 per barel, di tengah kekhawatiran bahwa konflik berkepanjangan di Timur Tengah dapat memicu gangguan pasokan energi global dalam jangka lebih panjang.

(ras/haa) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Kurs Dolar AS Capai Rp 16.685, Bos BI Klaim Rupiah Stabil


Most Popular
Features