MARKET DATA

Rupiah Melemah Setelah Perang Iran, Tapi Banyak yang Lebih Buruk

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
13 April 2026 13:35
U.S. dollar and Euro banknotes are seen in this illustration taken March 24, 2026. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration
Foto: REUTERS/Dado Ruvic

Jakarta, CNBC Indonesia-  Gejolak global kembali menguji pasar negara berkembang atau Emerging Market, terutama di pasar mata uang.

Sejak perang Timur Tengah pecah pada akhir Februari 2026, arus modal keluar dari emerging market meningkat, dolar Amerika Serikat (AS) menguat, dan mata uang berisiko tertekan. Rupiah ikut melemah, tetapi skalanya masih lebih jinak dibanding banyak pesaingnya.

Melansir Bank Indonesia sejak akhir Februari hingga 6 April 2026, rupiah terdepresiasi 1,91% ke level spot 17.042 per dolar AS. Angka ini lebih baik dibanding won Korea Selatan yang turun 5,0%, baht Thailand 4,0%, rupee India 3,6%, lira Turki 3,5%, rand Afrika Selatan 2,3%, hingga peso Filipina 2,3%.

Artinya, tekanan memang datang ke Indonesia, tetapi investor belum menempatkan rupiah dalam kelompok paling rentan. Pasar masih membedakan negara dengan fundamental relatif terjaga dan negara yang punya kerentanan eksternal lebih besar.

Selama tahun berjalan 2026, pelemahan rupiah tercatat 2,39%. Lagi-lagi posisinya masih lebih baik dibanding beberapa peer utama di Asia, terutama rupee India dan won Korea Selatan. Ini penting karena keduanya selama ini sering dianggap pasar besar dan likuid di kawasan.

Ada beberapa alasan mengapa rupiah masih bertahan. Pertama, inflasi domestik mulai melandai. Inflasi Maret 2026 tercatat 3,48% secara tahunan, turun dari Februari 4,76%. Kedua, Bank Indonesia masih aktif menjaga stabilitas pasar valas dan obligasi. Ketiga, permintaan domestik Indonesia masih menopang pertumbuhan ekonomi.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)



Most Popular