MARKET DATA

MSCI Pernah Menghukum 4 Negara Ini Sampai Turun Kelas: Ada Rusia

Kanthi Malikhah,  CNBC Indonesia
03 February 2026 12:20
MSCI
Foto: MSCI

Jakarta, CNBC Indonesia - Ancaman penurunan klasifikasi Indonesia dari Emerging Market ke Frontier Market oleh MSCI bukan hal baru.

Setidaknya empat negara telah mengalami nasib serupa dalam dekade terakhir Pakistan, Argentina, Rusia, dan Maroko dengan dampak yang bervariasi, mulai dari arus keluar ratusan juta dolar hingga penghapusan total dari indeks global.

Penurunan disebabkan oleh ukuran pasar dan likuiditas yang tidak memadai. MSCI menyatakan bahwa Pakistan tidak lagi memenuhi persyaratan ukuran dan likuiditas untuk Emerging Markets karena pasar tidak menyediakan cukup sekuritas besar dan likuid bagi investor global, sementara penurunan free-float sejak 2019 berarti kelayakan indeks hanya dapat dipertahankan melalui aturan kontinuitas.

 

Hal tersebut menyebabkan arus keluar asing yang signifikan. Dana pasif Emerging Market diperkirakan menjual sekitar USD 100-150 juta ekuitas Pakistan, dan investor asing telah mencatat net selling substansial sejak akhir 2019, mencapai lebih dari sekitar USD 730 juta sebelum reklasifikasi.

Argentina: Kontrol Modal yang Mematikan Akses Investor

Penurunan 2021 didorong oleh kontrol modal dan valuta asing yang persisten. Pembatasan ini mencegah investor asing untuk merepatriasi modal secara andal, yang gagal memenuhi persyaratan aksesibilitas pasar inti MSCI.

Hal ini berdampak terhadap arus uang terkait indeks besar dibalikkan dan likuiditas pasar lokal tetap lemah. Bobot Argentina sekitar 0,4% dalam indeks Emerging Markets pada tahun 2019 menunjukkan bahwa ratusan juta dolar AS dalam dana indeks pasif ditarik, dan likuiditas pasar domestik tetap dangkal.

Hingga saat ini Argentina belum kembali ke indeks Emerging Markets sejak penurunan 2021. Meskipun reformasi valuta asing dan keterlibatan IMF dicatat pada tahun 2025, masalah akses berarti Argentina masih diklasifikasikan sebagai Standalone Market.

Rusia: Sanksi dan Blokir Total Akses Pasar

Reklasifikasi di Argentina disebabkan oleh sanksi, kontrol modal, repatriasi yang diblokir, dan ketidakpastian hukum setelah invasi Ukraina. Perkembangan ini membuat pasar ekuitas Rusia secara fungsional tidak dapat diinvestasikan bagi investor institusional global, mendorong MSCI untuk mereklasifikasi Rusia sebagai respons operasional.

Dampaknya ekuitas Rusia dihapus dari benchmark Emerging Market. Penghapusan tersebut memberikan bobot indeks de facto nol dan memaksa arus keluar pasif dan aktif besar dari dana yang terkait dengan mandat Emerging Market.

Hingga saat ini, tidak ada indikasi kembalinya Rusia ke klasifikasi Emerging Market. Rusia tetap sebagai Standalone Market karena sanksi yang sedang berlangsung dan pembatasan pasar, tanpa timeline publik atau kondisi yang dinyatakan untuk pembalikan.

Moscow Stock Exchange menunjukkan bentuk tertinggi risiko klasifikasi yang didorong oleh investabilitas hukum. Ketika perdagangan dan repatriasi modal diblokir, MSCI secara efektif menghapus pasar terlepas dari ukuran atau likuiditasnya.

Maroko: Likuiditas Lemah dan Penurunan Permanen

Penurunan Maroko disebabkan oleh kelemahan likuiditas struktural yang berkepanjangan. Maroko gagal dalam tes likuiditas Emerging Market selama beberapa tahun, tanpa tanda-tanda perbaikan.

Reklasifikasi menghasilkan arus keluar EM dan arus masuk frontier yang terbatas. Penurunan ke status Frontier biasanya menyebabkan arus keluar pasif dari dana indeks Emerging Market, sementara arus masuk frontier lebih kecil dan niche, dan analisis kontemporer mengidentifikasi penurunan likuiditas dan kapitalisasi pasar free-float yang relatif kecil sebagai pendorong utama.

 

Saat ini Maroko belum kembali ke status Emerging Market sejak penurunan 2013. Maroko terus menjadi konstituen MSCI Frontier Markets Index.

India: Berhasil Keluar dari Korban Free Float MSCI dan Naik Kelas

Berbeda Dengan Pakistan, Argentina, Rusia, dan Maroko yang gagal kembali ke status semula, India justru berhasil naik kelas dalam indeks MSCI melalui reformasi pasar modal yang konsisten.

India menghadapi masalah serupa dengan Indonesia, yaitu free float rendah akibat kepemilikan terkonsentrasi di tangan promoter atau pemegang saham pengendali dan institusi pemerintah. Namun, regulator India (Securities and Exchange Board of India) menerapkan serangkaian reformasi, berikut langkah-langkah yang dilakukan India:

  1. Mandatory Minimum Public Shareholding (MPS), dengan mewajibkan perusahaan publik memiliki minimal 25% free float (naik bertahap dari 10% ke 25%)

  2. Pemerintah India secara bertahap mengurangi kepemilikan di BUMN melalui program divestasi

  3. Meningkatkan transparansi data kepemilikan saham

  4. Melonggarkan batasan kepemilikan asing di berbagai sektor

Hasilnya bobot India di MSCI Emerging Markets Index meningkat signifikan dari 8.5% pada 2019 menjadi 15.3% pada 2025, India kini menjadi konstituen EM terbesar ketiga setelah China dan Taiwan. Selain itu, Foreign Institutional Investment (FII) mengalir deras ke pasar India. Beberapa analis bahkan mulai membicarakan potensi upgrade India dari EM ke DM (Developed Market) dalam 5-10 tahun ke depan.

CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]

 

(mae/mae)



Most Popular