MARKET DATA
Internasional

Dunia Benar-Benar Gelap di 2026? Bos JPMorgan Beri "Surat" Peringatan

tps,  CNBC Indonesia
07 April 2026 08:45
Jamie Dimon di World Economic Forum - Reuters
Foto: Jamie Dimon di World Economic Forum - Reuters

Jakarta, CNBC Indonesia - CEO JPMorgan Chase, Jamie Dimon, menyerukan komitmen ulang yang luas terhadap "idealisme Amerika Serikat (AS)" di tengah upaya bank yang dipimpinnya menavigasi ketidakpastian geopolitik, ekonomi yang goyah, hingga dampak revolusioner dari kecerdasan buatan (AI).

Mengutip CNBC International , Dimon dalam surat tahunannya kepada pemegang saham mencatat peringatan 250 tahun negara tersebut sebagai "waktu yang tepat untuk mendedikasikan diri kembali pada nilai-nilai yang membangun bangsa yang besar, yaitu kebebasan, kemerdekaan, dan kesempatan".

"Tantangan yang kita semua hadapi sangat signifikan," ujarnya memberi peringatan, dikutip Selasa (7/4/2026).



"Daftarnya panjang, tetapi yang paling utama adalah perang dan kekerasan mengerikan yang terus berlanjut di Ukraina, perang saat ini di Iran dan permusuhan yang lebih luas di Timur Tengah, aktivitas teroris, serta ketegangan geopolitik yang meningkat, terutama dengan China," kata Dimon.

"Bahkan di masa-masa sulit, kami memiliki keyakinan bahwa Amerika akan melakukan apa yang selalu dilakukannya-melihat kembali pada nilai-nilai yang telah mendefinisikan bangsa unik kita dan mempertahankan kepemimpinan kita di dunia bebas."

Perlu diketahui, Dimon, pemimpin lama bank terbesar di dunia berdasarkan kapitalisasi pasar tersebut, merupakan salah satu pemimpin korporasi AS yang paling vokal. Surat tahunannya tidak hanya menawarkan catatan kinerja perusahaannya, tetapi juga perspektif luas mengenai keadaan global.

Dalam surat hari Senin tersebut, ia mencatat adanya hambatan termasuk konflik global, inflasi yang persisten, gejolak pasar swasta, hingga apa yang disebutnya sebagai regulasi bank yang buruk.

Dimon mengatakan bahwa meskipun regulasi seperti yang diterapkan setelah krisis keuangan 2008 telah mencapai beberapa hal baik, aturan tersebut juga menciptakan sistem yang terfragmentasi dan bergerak lambat. Belum lagi kenyataan bahwa aturan serta regulasi mahal, tumpang tindih, dan berlebihan-beberapa serta membuat sistem keuangan menjadi lebih lemah dan mengurangi pinjaman produktif.

Di surat yang sama, ia pun secara khusus mengutip konsekuensi negatif dari persyaratan modal dan likuiditas, konstruksi uji ketahanan (stress test) bank sentral Federal Reserve (The Fed) saat ini, serta proses di Federal Deposit Insurance Corp, lembaga independen pemerintah di Amerika Serikat yang didirikan untuk menjaga stabilitas dan kepercayaan publik terhadap sistem perbankan, yang dinilai ditangani dengan buruk.

Dimon juga menyebut bahwa reaksi JPMorgan terhadap revisi proposal Basel III Endgame, aturan final di Amerika yang menyelesaikan implementasi standar paket regulasi global yang dirancang agar bank lebih kuat menghadapi krisis, dan biaya tambahan bank sistemik global (GSIB) yang dikeluarkan regulator AS bulan lalu bersifat campur aduk.

"Meskipun senang melihat proposal terbaru untuk Basel III Endgame dan GSIB berusaha mengurangi kenaikan modal yang diwajibkan dari proposal tahun 2023, masih ada beberapa aspek yang sejujurnya tidak masuk akal," tutur Dimon.

CEO tersebut menjelaskan bahwa dengan total usulan biaya tambahan sekitar 5%, bank perlu menahan modal hingga 50% lebih banyak di sebagian besar pinjaman kepada konsumen dan bisnis AS jika dibandingkan dengan bank non-GSIB besar untuk set pinjaman yang sama.

"Sejujurnya, itu tidak benar, dan itu tidak mencerminkan nilai Amerika (un-American)," tegasnya.

Perdagangan dan Geopolitik

Terkait perdagangan dan geopolitik, Dimon mengidentifikasi ketegangan geopolitik sebagai risiko utama yang dihadapi banknya. Ini terutama perang di Ukraina dan Iran serta dampaknya terhadap komoditas dan pasar global, dengan menyebut perang sebagai ranah ketidakpastian.

"Hasil dari peristiwa geopolitik saat ini mungkin saja menjadi faktor penentu bagaimana tatanan ekonomi global masa depan terungkap. Namun sekali lagi, mungkin juga tidak," jelas Dimon.

Ia juga mengutip adanya penataan kembali hubungan ekonomi di dunia yang dipicu oleh kebijakan perdagangan AS. Presiden AS Donald Trump telah menjadikan tarif sebagai kebijakan khas di masa jabatan keduanya dengan memperkenalkan bea masuk yang lebih tinggi pada puluhan mitra dagang dan kategori impor.

"Pertempuran dagang jelas belum berakhir, dan diperkirakan banyak negara sedang menganalisis bagaimana dan dengan siapa mereka harus membuat perjanjian dagang," tambahnya.

"Meskipun beberapa hal ini diperlukan untuk keamanan nasional dan ketahanan yang sangat penting, sulit untuk memperkirakan apa efek jangka panjangnya nanti."

Pasar Swasta dan AI

Di surat tahunan itu, Dimon juga menyoroti tentang gejolak baru-baru ini di mana kekhawatiran seputar pinjaman yang diberikan kepada perusahaan perangkat lunak memicu permintaan penarikan besar-besaran pada dana kredit swasta.

"Secara keseluruhan, kredit swasta cenderung tidak memiliki transparansi yang besar atau penilaian 'tanda' yang ketat atas pinjaman mereka-hal ini meningkatkan kemungkinan orang akan menjual jika mereka berpikir lingkungan akan memburuk-bahkan jika kerugian aktual yang terealisasi hampir tidak berubah," kata Dimon.

Eksekutif tersebut menambahkan bahwa kerugian aktual sudah lebih tinggi daripada yang seharusnya relatif terhadap lingkungan saat ini.

"Bagaimanapun hal ini terjadi, diperkirakan bahwa pada suatu titik regulator asuransi akan mendesak peringkat atau penurunan nilai yang lebih ketat, yang kemungkinan besar akan menyebabkan permintaan modal yang lebih besar," ungkap Dimon.

Mengenai AI, Dimon menegaskan kembali bahwa kecepatan adopsi AI tidak seperti teknologi apa pun yang pernah ada sebelumnya. Ia mengatakan meskipun implementasinya akan bersifat transformasional, masih harus dilihat bagaimana revolusi AI ini akan berlangsung.

"Secara keseluruhan, investasi pada AI bukanlah gelembung spekulatif; sebaliknya, itu akan memberikan manfaat yang signifikan. Namun, saat ini, kita tidak dapat memprediksi siapa pemenang dan pecundang akhir dalam industri terkait AI," ujarnya.

"Kami tidak akan menyembunyikan kepala di dalam pasir. Kami akan menyebarkan AI, sebagaimana kami menyebarkan semua teknologi, untuk melakukan pekerjaan yang lebih baik bagi pelanggan dan karyawan kami," tulis Dimon.

JPMorgan telah berada di garis depan perusahaan Wall Street yang memperkenalkan AI di setiap tingkat bisnisnya. Pada Februari lalu, Dimon mengatakan AI sedang membentuk kembali tenaga kerja JPMorgan dan bank tersebut memiliki rencana penempatan kembali besar-besaran bagi karyawannya.

"Kami telah fokus pada beberapa peristiwa yang 'diketahui dan dapat diprediksi' serta beberapa peristiwa 'ketidaktahuan yang diketahui'. Namun pergeseran teknologi besar seperti AI selalu memiliki efek tingkat kedua dan ketiga yang juga dapat berdampak mendalam bagi masyarakat. Kita harus memantau transformasi semacam ini juga," pungkas Dimon.

(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Terlibat 'Pencucian Uang', JPMorgan Didenda Rp 877,32 Miliar


Most Popular
Features