Hormuz Minggir! Iran Ancam Blokir Selat 'Urat Nadi' Perdagangan Dunia
Jakarta, CNBC Indonesia - Eskalasi ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah sekutu Iran mengancam akan menutup jalur pelayaran strategis Bab al-Mandeb. Langkah ini dilakukan mengikuti tindakan Teheran yang sebelumnya telah melumpuhkan Selat Hormuz, yang berpotensi memutus urat nadi energi dunia.
Ancaman tersebut datang dari penasihat utama Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei pada Senin (06/04/2026). Mengutip laporan Al Jazeera, Ali Akbar Velayati yang merupakan mantan Menteri Luar Negeri Iran dan diplomat senior berpengaruh, memberikan peringatan keras melalui unggahannya di media sosial X.
"Komando terpadu garis depan Perlawanan memandang Bab al-Mandeb sama seperti memandang Hormuz. Jika Gedung Putih berani mengulangi kesalahan konyolnya, mereka akan segera menyadari bahwa aliran energi dan perdagangan global dapat terganggu hanya dengan satu gerakan," tulis Velayati.
Pernyataan Velayati ini kemudian dikonfirmasi oleh media pemerintah Iran, Press TV. Ancaman ini muncul sebagai respons atas gertakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang berencana membom pembangkit listrik dan jembatan di Iran mulai Rabu pekan ini jika Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali. Iran bersikeras bahwa Hormuz hanya terbuka bagi negara-negara yang merundingkan lintas aman, kecuali Amerika Serikat dan Israel.
Di Mana Letak Bab al-Mandeb?
Secara geografis, Selat Bab al-Mandeb terletak di antara Yaman di sebelah timur laut serta Djibouti dan Eritrea di Tanduk Afrika pada sisi barat daya. Jalur ini menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden yang kemudian membentang hingga ke Samudra Hindia.
Lebar selat ini hanya 29 kilometer pada titik tersempitnya, sehingga lalu lintas kapal terbatas pada dua jalur untuk pengiriman masuk dan keluar. Wilayah ini secara efektif dikendalikan oleh kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman. Kelompok ini merupakan bagian sentral dari "Poros Perlawanan" Iran, sebuah koalisi yang secara ideologis dan taktis selaras dengan Teheran.
Mengapa Bab al-Mandeb Penting bagi Perdagangan Energi?
Pentingnya Bab al-Mandeb meningkat drastis sejak penutupan Selat Hormuz, jalur yang biasanya mengangkut 20% pasokan minyak dan gas dunia. Bab al-Mandeb merupakan rute vital bagi Arab Saudi untuk mengirimkan minyaknya ke Asia.
Jika Selat Hormuz dan Bab al-Mandeb ditutup secara bersamaan, maka 25% atau seperempat pasokan minyak dan gas dunia akan terblokir total. Data tahun 2024 menunjukkan sekitar 4,1 miliar barel minyak mentah dan produk minyak sulingan melewati selat ini, atau setara dengan 5% dari total global. Selain energi, 10% perdagangan global termasuk kontainer dari China dan India menuju Eropa juga bergantung pada jalur ini.
Arab Saudi sendiri telah mengalihkan ekspor minyaknya melalui pelabuhan Yanbu di Laut Merah menggunakan East West Pipeline untuk menghindari kebuntuan di Hormuz. Per akhir Maret, pipa sepanjang 1.200 kilometer milik Aramco tersebut telah beroperasi pada kapasitas penuh sebesar 7 juta barel per hari (bpd), angka tertinggi yang pernah tercatat.
Bagaimana Iran dan Sekutunya Bisa Menutupnya?
Kelompok Houthi telah membuktikan kemampuan mereka dalam mengganggu jalur ini. Nabeel Khoury, mantan diplomat Amerika Serikat, menjelaskan kepada Al Jazeera bahwa serangan rudal Houthi ke Israel saat ini masih merupakan partisipasi simbolis.
"Mereka telah menembakkan beberapa rudal sebagai peringatan karena adanya pembicaraan tentang potensi eskalasi. Ada pasukan AS yang sedang menuju ke wilayah tersebut. Ada pembicaraan bahwa jika tidak ada kesepakatan, mungkin akan terjadi serangan skala penuh terhadap Iran yang belum pernah terlihat sejauh ini," kata Khoury.
Khoury menegaskan bahwa senjata utama Houthi jika ingin benar-benar terlibat dalam perang adalah blokade Bab al-Mandeb.
"Yang perlu mereka lakukan hanyalah menembaki beberapa kapal yang lewat, dan itu akan menyebabkan penghentian seluruh pelayaran komersial melalui Laut Merah. Itu akan menjadi garis merah, dan kemudian Anda akan melihat serangan terhadap Yaman dari AS dan Israel dengan sangat cepat," ujar Khoury.
Apa Dampak Penutupan Bab al-Mandeb bagi Dunia?
Dunia kini berada di ambang krisis ekonomi yang lebih dalam jika ancaman ini terealisasi. Elisabeth Kendall, spesialis Timur Tengah dan Presiden Girton College di Universitas Cambridge, menyebut situasi ini sebagai skenario terburuk bagi perdagangan global.
"Sebab jika Anda memiliki pembatasan di Selat Hormuz pada saat yang sama dengan eskalasi pembatasan di Bab al-Mandeb, maka Anda benar-benar akan mengganggu, jika tidak melumpuhkan, perdagangan menuju Eropa. Jadi ini benar-benar berada di ujung tanduk, tergantung pada apa yang terjadi selanjutnya," kata Kendall kepada Al Jazeera.
Kendall menambahkan bahwa meski posisi ini menguntungkan bagi Houthi, kelompok tersebut mungkin masih mempertimbangkan risiko untuk tidak memicu respons yang lebih luas dari Arab Saudi maupun kekuatan global lainnya. Jika blokade terjadi, dampak ekonominya akan dirasakan langsung di pabrik-pabrik, dapur rumah tangga, hingga stasiun pengisian bahan bakar di seluruh dunia.
(tps/tps) [Gambas:Video CNBC]