Breaking News! Trump Mau Ambil Iran Selasa Malam
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman militer terbuka bahwa negaranya siap merebut dan melumpuhkan Iran hanya dalam waktu satu malam. Pernyataan agresif ini muncul di tengah ketegangan yang memuncak terkait penutupan Selat Hormuz dan keberhasilan operasi penyelamatan dramatis pilot jet tempur F-15 Amerika Serikat yang jatuh di wilayah Iran.
Trump menegaskan kesiapan militer Amerika Serikat untuk mengambil tindakan ekstrem jika Teheran tidak segera mematuhi tenggat waktu pembukaan jalur pelayaran strategis tersebut pada Selasa (07/04/2026). Ia mengeklaim bahwa kekuatan tempur yang dimilikinya saat ini berada dalam kondisi yang sangat luar biasa dan siap melakukan serangan kilat untuk mengambil alih situasi.
"Seluruh negara tersebut dapat dilenyapkan dalam satu malam, dan malam itu mungkin saja terjadi besok malam," tegas Trump dikutip Guardian.
Sebelum ancaman terbaru ini muncul, Trump memang telah memberikan peringatan keras bahwa Amerika Serikat tidak segan membuat wilayah Iran menjadi bak 'neraka' yang luluh lantak jika blokade di Selat Hormuz tetap berlanjut. Ketegangan ini mencapai puncaknya setelah Teheran mengabaikan serangkaian tuntutan internasional untuk membebaskan jalur distribusi minyak dunia tersebut.
Terkait insiden jatuhnya pesawat F-15 pekan lalu, Trump juga merayakan penyelamatan bersejarah kru kedua yang sempat terdampar di wilayah Iran. Ia menyatakan telah memerintahkan angkatan bersenjata untuk melakukan segala cara demi memastikan personel tersebut kembali dengan selamat ke tanah air.
"Kami tidak meninggalkan satu pun warga Amerika di belakang," ujar Trump.
Trump menjelaskan bahwa kedua awak pesawat tersebut berhasil melontarkan diri sebelum jatuh, namun mereka mendarat tepat di tanah Iran. Operasi evakuasi tersebut berlangsung dramatis karena tim penyelamat harus menghadapi perlawanan sengit dari pasukan darat Iran selama proses penjemputan.
"Tim penyelamat dan petarung di atas pesawat-pesawat tersebut mengambil risiko luar biasa untuk menyelamatkan rekan sesama anggota layanan mereka," kata Trump.
Dalam keterangannya, Trump menyebutkan bahwa salah satu helikopter penyelamat bahkan mengalami kerusakan akibat terjangan peluru musuh di tengah baku tembak. Ia juga mengungkapkan bahwa penerbang yang diselamatkan berada dalam kondisi luka parah di wilayah yang dikuasai oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
"Penerbang itu harus memanjat tebing dalam kondisi pendarahan hebat untuk mengirimkan lokasinya," tambah Trump.
Untuk membawa pulang satu orang penerbang tersebut, militer Amerika Serikat memobilisasi kekuatan udara secara masif ke wilayah konflik. Trump merinci pengerahan 155 pesawat, empat pesawat pengebom, 64 jet tempur, 48 tanker pengisi bahan bakar, dan 13 pesawat penyelamat untuk mendukung misi tersebut.
Trump menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa misi tersebut berhasil tanpa memakan korban jiwa di pihak Amerika Serikat meskipun pilot telah terdampar selama hampir 48 jam di wilayah musuh. Ia mengklaim supremasi militer negaranya tetap tidak tertandingi oleh pihak mana pun di dunia.
"Kita adalah militer yang paling kuat di mana pun di dunia ini, jauh melampaui yang lain," pungkas Trump.