MARKET DATA

Saham Emiten Tambang Nikel RI Kompak Terbang, Ini Alasannya

Redaksi,  CNBC Indonesia
06 January 2026 14:55
Slug dump di area pertambangan PT Vale Indonesia Tbk. (INCO).
Foto: Slug dump di area pertambangan PT Vale Indonesia Tbk. (INCO). (CNBC Indonesia/Lucky Leonard Leatemia)

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten tambang nikel kompak melesat pada perdagangan hari ini. Reli saham nikel terjadi setelah harga patokan global melesat menyentuh level tertinggi dalam 15 bulan akibat pembatasan kapasitas produksi di Indonesia.

Hingga akhir perdagangan sesi pertama hari ini, saham PAM Mineral (NICL) memimpin kenaikan dengan penguatan 17,29% ke Rp 1.730 per saham. Dalam sepekan saham NICL telah melesat 42,80%. Lalu diikuti oleh saham Central Omega Resources (DKFT) yang lompat 15,19% ke Rp 910 per saham dan telah menguat 26,21% dalam sepekan.

Kemudian ada saham Harita Nickel atau Trimegah Bangun Persada (NCKL) yang menguat nyaris 10% ke Rp 1.295 per saham dan dalam sepekan telah terapresiasi 14,67%.

Saham Merdeka Battery Materials (MBMA) hari ini naik 4,80% ke Rp 655 per saham, disusul saham Sinar Terang Mandiri (MINE) dan Adhi Kartiko Pratama (NICE) yang masing-masing naik 3,81% dan 2,94%.

Adapun saham emiten tambang nikel milik BUMN, Aneka Tambang (ANTM), hari ini menguat 0,88% ke RP 3.420 per saham dan dalam sepekan telah menguat 8,89%.

Terakhir ada saham Ifishdeco (IFSH) dan Vale Indoensia (INCO) yang hari ini terkoreksi tipis, namun dalam sepekan telah naik 7%.

Diketahui, Harga nikel dunia kembali menyentuh level US$ 17.000 per ton untuk pertama kalinya dalam 15 bulan terakhir. Harga nikel nikel kontrak tiga bulan di Bursa Logam London (LME) ditutup di level US$ 17.003 per ton pada perdagangan Senin (5/1/2025). Sebelumnya, harga kontrak nikel 3 bulan di LME terakhir kali mencapai level tersebut pada Oktober 2024.

Kenaikan harga nikel global yang melonjak hampir 20% dalam tiga minggu terakhir terjadi di tengah pengurangan pasokan global dari Indonesia, produsen nikel terbesar di dunia. Pemerintah RI baru-baru ini mengusulkan pengurangan produksi nikel sebesar 34% dalam rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) 2026 untuk mengatasi kekhawatiran yang meningkat tentang kelebihan pasokan dan peringatan dari para penambang bahwa kualitas bijih semakin memburuk.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan, tren harga komoditas saat ini, khususnya batu bara dan nikel, tengah mengalami tekanan akibat kelebihan pasokan di pasar global, termasuk yang berasal dari Indonesia.

Oleh karena itu, pihaknya akan berupaya menjaga pasokan dari Indonesia agar tidak berlebih di pasar, sehingga bisa mendongkrak harga.
Selain pertimbangan harga, Bahlil menekankan, rencana pembatasan produksi tersebut juga lantaran agar cadangan dalam negeri tidak ditambang secara berlebihan.

Selain itu, lewat pemangkasan RKAB pemerintah juga berupaya untuk memastikan cadangan mineral dan batu bara tetap tersedia untuk masa depan, sekaligus menggunakan RKAB untuk menertibkan perusahaan-perusahaan yang abai terhadap aturan lingkungan.

Ini adalah langkah besar terbaru untuk mengekang kelebihan pasokan nikel sejak ekspansi signifikan sektor tambang nikel ketika Pemerintah RI melarang ekspor bijih pada tahun 2020.

Mengutip data Refinitiv dalam polling Reuters, analis memperkirakan harga nikel global (rata-rata) berada di level US$ 15.857 per ton pada tahun 2026, dengan median berada di level US$ 15.755 per ton. Proyeksi tertinggi berada di level US$ 18.000 per ton dan terendah di level US$ 14.193 per ton.

Namun perlu dicatat, polling tersebut dilakukan dan diperbaharui pada 28 Oktober 2025 sebelum ada kabar terkait pemangkasan produksi di Indonesia.

(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Saham Tambang Pesta Pora, IHSG Akhirnya Bangkit


Most Popular
Features