Harga Nikel Kembali Tembus US$17.000, Tertinggi Dalam 15 Bulan
Jakarta, CNBCÂ Indonesia -Â Harga nikel dunia kembali menyentuh level US$ 17.000 per ton untuk pertama kalinya dalam 15 bulan terakhir. Harga nikel nikel kontrak tiga bulan di Bursa Logam London (LME) ditutup di level US$ 17.003 per ton pada perdagangan Senin (5/1/2025). Sebelumnya, harga kontrak nikel 3 bulan di LME terakhir kali mencapai level tersebut pada Oktober 2024.
Kenaikan harga nikel global yang melonjak hampir 20% dalam tiga minggu terakhir terjadi di tengah pengurangan pasokan global dari Indonesia, produsen nikel terbesar di dunia. Pemerintah RI diketahui baru-baru ini mengusulkan pengurangan produksi nikel sebesar 34% dalam rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) 2026 untuk mengatasi kekhawatiran yang meningkat tentang kelebihan pasokan dan peringatan dari para penambang bahwa kualitas bijih semakin memburuk.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan, tren harga komoditas saat ini, khususnya batu bara dan nikel, tengah mengalami tekanan akibat kelebihan pasokan di pasar global, termasuk yang berasal dari Indonesia.
Oleh karena itu, pihaknya akan berupaya menjaga pasokan dari Indonesia agar tidak berlebih di pasar, sehingga bisa mendongkrak harga.
Selain pertimbangan harga, Bahlil menekankan, rencana pembatasan produksi tersebut juga lantaran agar cadangan dalam negeri tidak ditambang secara berlebihan.
Selain itu, lewat pemangkasan RKABÂ pemerintah juga berupaya untuk memastikan cadangan mineral dan batu bara tetap tersedia untuk masa depan, sekaligus menggunakan RKAB untuk menertibkan perusahaan-perusahaan yang abai terhadap aturan lingkungan.
Ini adalah langkah besar terbaru untuk mengekang kelebihan pasokan nikel sejak ekspansi signifikan sektor tambang nikel ketika Pemerintah RI melarang ekspor bijih pada tahun 2020.
Terlepas dari upaya untuk membatasi produksi, surplus yang berkepanjangan menyebabkan harga kontrak berjangka nikel lebih rendah daripada logam dasar lainnya, dengan Nornickel Rusia menaikkan perkiraan surplusnya untuk tahun depan menjadi 275.000 ton.
Selain itu, stok di LME meningkat lebih dari 93.000 ton menjadi 255.000 ton tahun lalu. Di sisi permintaan, tingkat pembelian baja tahan karat yang rendah secara global diimbangi oleh penggunaan nikel yang lebih tinggi dalam kendaraan listrik.
Mengutip data Refinitiv dalam polling Reuters, analis memperkirakan harga nikel global (rata-rata) berada di level US$ 15.857 per ton pada tahun 2026, dengan median berada di level US$ 15.755 per ton. Proyeksi tertinggi berada di level US$ 18.000 per ton dan terendah di level US$ 14.193 per ton.
Namun perlu dicatat, polling tersebut dilakukan dan diperbaharui pada 28 Oktober 2025 sebelum ada kabar terkait pemangkasan produksi di Indonesia.Â
(fsd/fsd)[Gambas:Video CNBC]