Bursa Asia Ditutup Mixed, IHSG Merana Lagi

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
25 January 2023 16:55
Men look at stock quotation boards outside a brokerage in Tokyo, Japan, December 5, 2018.  REUTERS/Issei Kato     TPX IMAGES OF THE DAY Foto: Pria melihat papan kutipan saham di luar broker di Tokyo, Jepang, 5 Desember 2018. REUTERS / Issei Kato

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Asia-Pasifik ditutup beragam dengan mayoritas menguat pada perdagangan Rabu (25/1/2023), di tengah memanasnya inflasi di beberapa negara di kawasan tersebut.

Indeks Nikkei 225 Jepang ditutup menguat 0,35% ke 27.395, Straits Times Singapura melonjak 1,79% ke 3.352,77, dan KOSPI Korea Selatan melesat 1,39% menjadi 2.428,57.

Sedangkan untuk indeks ASX 200 Australia ditutup melemah 0,3% ke 7.468,3 dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir terkoreksi 0,45% menjadi 6.829,93.

Sementara untuk pasar saham China dan Hong Kong pada hari ini masih belum dibuka karena masih libur Imlek 2022.

Dari Australia, inflasinya kembali naik pada periode kuartal IV-2022, di tengah harapan pasar yang akan menjadi puncak harga yang tidak terkendali.

Berdasarkan data dari Badan Statistik Australia, inflasi berdasarkan consumer price index (CPI) atau indeks harga konsumen (IHK) Australia pada kuartal IV-2022 naik menjadi 7,8% (year-on-year/yoy), dari sebelumnya sebesar 7,3% pada kuartal III-2022.

Sedangkan secara kuartalan, IHK naik sedikit menjadi 1,9% (quarter-to-quarter/qtq) pada kuartal IV-2022, dari sebelumnya sebesar 1,8% pada kuartal III-2022.

Hal ini menandai inflasi tertinggi sejak tahun 1990, meskipun ada harapan bahwa angka yang lebih rendah dari perkiraan di bulan Oktober sebagian didorong oleh pengurangan biaya pengiriman dan perumahan dapat berarti inflasi telah mencapai puncaknya.

"kenaikan kuartalan yang kuat didukung oleh harga makanan yang lebih tinggi, bahan bakar otomotif dan konstruksi tempat tinggal baru," kata ABS, dikutip dari The Guardian.

Naiknya harga, terutama harga energi dan makanan telah mendorong serangkaian kenaikan suku bunga sebanyak delapan kali berturut-turut sejak Mei 2022, karena bank sentral Australia (Reserve Bank of Australia (RBA) menaikkan suku bunga dari tingkat darurat untuk mendorong inflasi kembali ke kisaran target 2-3%.

Meskipun inflasi melambat, tetapi menurut ekonom di ANZ, memperkirakan bahwa RBA kemungkinan akan kembali menaikkan suku bunga 25 basis poin lagi pada Mei 2023 untuk membawa suku bunga menjadi 3,85% sebelum kenaikan berakhir.

Sementara itu dari Singapura, IHK utama pada Desember 2022 justru terpantau melandai sedikit, yakni menjadi 6,5% (yoy), dari sebelumnya pada November 2022 sebesar 6,7%. Angka tersebut sedikit lebih rendah dari perkiraan.

Sedangkan secara bulanan (month-to-month/mtm), IHK Negeri Singa pada Desember 2022 juga turun menjadi 0,2%, dari sebelumnya pada November 2022 sebesar 1%, lebih tinggi sedikit dari perkiraan.

Sementara untuk IHK inti yang tidak termasuk transportasi jalan raya dan biaya akomodasi tidak berubah dari kenaikan 5,1% pada November 2022. Survei Reuters terhadap para ekonom memperkirakan kenaikan 5% pada Desember 2022.

Untuk tahun 2022 secara keseluruhan, IHK inti rata-rata mencapai 4,1%, lebih tinggi dari 0,9% yang tercatat pada tahun 2021. Sedangkan, inflasi utama mencapai 6,1% tahun lalu, naik dari 2,3% pada tahun 2021.

"Harga komoditas energi dan pangan telah mencapai puncaknya pada awal tahun 2022 tetapi tetap tinggi," kata Kementerian Perdagangan Singapura dalam sebuah pernyataan.

Otoritas Moneter Singapura (MAS) sebelumnya mengatakan inflasi inti kemungkinan akan tetap sekitar 5% untuk awal tahun 2023. Hal tersebut juga telah memproyeksikan tingkat inflasi inti antara 3,5% hingga 4,5% pada tahun 2023, dengan inflasi utama antara 5,5% dan 6,5%.

Bursa Asia-Pasifik cenderung mengikuti pergerakan Wall Street yang juga bervariasi kemarin, di mana indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup menguat 0,31%. Namun untuk indeks S&P 500 berakhir turun tipis 0,07% dan Nasdaq Composite melemah 0,27%.

Laporan kinerja keuangan perusahaan sejauh ini banyak yang berbeda dari ekspektasi analis membuat investor cenderung kembali menahan investasinya di pasar saham Negeri Paman Sam.

Dari 72 perusahaan di indeks S&P yang sudah merilis laporan keuangan mereka, 65% ada di atas konsensus.

Analis memperkirakan kinerja keuangan perusahaan indeks S&P akan melandai 2,9% dibandingkan kuartal sebelumnya. Pendapatan juga diperkirakan akan lebih rendah 1,6% dibandingkan perkiraan pada 1 Januari 2023.

Selain itu, indikator perekonomian di AS masih menunjukkan data yang saling bertolak belakang. Inflasi AS melandai pada Desember 2022 menjadi 6,5% (yoy).

Namun, data lain seperti tenaga kerja menunjukkan ekonomi AS masih panas dan melaju kencang. Kemarin, S&P Global merilis data flash reading atau perkiraan PMI manufaktur untuk periode Januari 2023.

Data S&P Global menunjukkan PMI manufaktur AS pada bulan ini meningkat menjadi 46,6 pada, dari sebelumnya di angka 46,2 pada Desember 2022. PMI jauh di atas ekspektasi pasar tetapi masih dalam fase kontraksi.

Pada Kamis pekan ini, AS akan merilis data pertumbuhan ekonomi mereka. Data ini akan menjadi salah satu pertimbangan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) dalam rapat FOMC pada 31 Januari-1 Februari mendatang.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Kabar Baik Bagi IHSG, Bursa Asia Menghijau


(chd/chd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading