CNBC Indonesia Research

China Hadapi Masa 'Tergelap' Sejak 1976, Jokowi Jadi Was-Was!

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
01 December 2022 07:10
Presiden Joko Widodo melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Republik Rakyat Tiongkok (RRT) Xi Jinping di Hotel Apurva Kempinski Bali, pada Rabu, 16 November 2022. Dalam sambutannya, Kepala Negara menyampaikan apresiasi atas kehadiran Presiden Xi di KTT G20 Bali yang juga merupakan kunjungan luar negeri pertama setelah kembali terpilih sebagai Sekretaris Jenderal Partai.  (Kris - Biro Pers Sekretariat Presiden) Foto: Presiden Joko Widodo melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Republik Rakyat Tiongkok (RRT) Xi Jinping di Hotel Apurva Kempinski Bali, pada Rabu, 16 November 2022. Dalam sambutannya, Kepala Negara menyampaikan apresiasi atas kehadiran Presiden Xi di KTT G20 Bali yang juga merupakan kunjungan luar negeri pertama setelah kembali terpilih sebagai Sekretaris Jenderal Partai. (Kris - Biro Pers Sekretariat Presiden)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Joko Widodo dalam pidatonya di Pertemuan Tahunan Bank Indonesia Rabu (30/11/2022) menyoroti kondisi di China yang bisa berdampak buruk ke dalam negeri.

"Hati-hati (ekspor) tahun depan bisa turun, karena problem di Tiongkok yang belum selesai," ujar Jokowi.

Ekspor Indonesia memang sedang moncer, neraca perdagangan mencatat surplus 30 bulan beruntun akibat tingginya harga komoditas. China merupakan konsumen terbesarnya.

Masalahnya, China kini menghadapi masa 'tergelap' dalam hampir 5 dekade terakhir.

Survei terbaru dari Reuters yang melibatkan 40 ekonom menunjukkan perekonomian China diperkirakan tumbuh 3,2% di 2022, jauh di bawah target pemerintah 5,5%.

Jika tidak memperhitungkan tahun 2020, ketika dunia dilanda pandemi penyakit akibat virus corona (Covid-19), maka pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) tersebut menjadi yang terendah sejak 1976.

Pemerintah China di bawah komando Presiden Xi Jinping masih menerapkan kebijakan zero Covid-19, menjadi salah satu pemicu pelambatan ekonomi. Dengan kebijakan tersebut, ketika kasus Covid-19 mulai meningkat, maka karantina wilayah (lockdown) akan diterapkan.

Hal tersebut juga disebut Jokowi dalam pidatonya.

Dengan kebijakan zero Covid, aktivitas ekonomi menjadi maju mundur. Hal ini diperparah dengan disrupsi energi dan pangan akibat perang Rusia - Ukraina serta pelambatan ekonomi global akibat kenaikan suku bunga yang agresif di berbagai negara guna meredam inflasi.

Kepala ekonom China di Nomura, Ting Lu, bahkan menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi China lebih dalam lagi.

"Dalam bentuk PDB, hampir 20% ekonomi China terimbas negatif dari kebijakan zero Covid saat ini, nyaris menyamai pertengahan April lalu sebesar 21,2% saat Shanghai di-lockdown," ujarnya, sebagaimana dilansir FX Street, Kamis (24/11/2022).

Nomura memangkas proyeksi PDB China 2022 menjadi 2,8% saja. Untuk tahun depan, PDB diperkirakan tumbuh 4%, dipangkas dari proyeksi sebelumnya 4,3%.

Memang ada kenaikan PDB di tahun depan, tetapi tetap saja rendah, apalagi jika melihat low base di tahun ini. Kemudian jika melihat sejak 1989 rata-rata PDB China sebesar 9,05%, melansir Trading Economics

Ke depannya, ekonomi China diperkirakan akan tetap rendah. Oxford Economics memprediksi pada dekade ini rata-rata PDB China sebesar 4,5% saja.

Hal yang sama juga diungkapkan Ekonom Senior Chatib Basri, China disebut tengah menuju 'new normal'. Menurutnya, China tidak bisa tumbuh double digit ke depannya.

"Mungkin long term growth-nya di sekitar 4%, jauh, (tapi) itu yang harus diantisipasi. Saya gak bicara tahun ini, tapi long term growth-nya bisa ke arah sana," ungkapnya pertengahan Oktober lalu.

Chatib mengatakan Indonesia perlu khawatir dengan China sebab merupakan pasar ekspor terbesar Indonesia.

Ketika ekonomi China melempem, artinya permintaan komoditas ke Indonesia tentunya juga berkurang.

"Saya itu sebetulnya, lebih khawatir dengan (dampak) ekonomi China, dibandingkan dengan ekonomi Amerika Serikat terhadap kita karena kalau China kena itu ekspor kita (Indonesia) kena beneran," kata Chatib.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor Indonesia ke China pada periode Januari - Oktober 2022 sebesar US$ 51,5 miliar. Nilai tersebut berkontribusi sebesar 22,3% dari total ekspor.

Bisa dibayangkan berapa besar pendapatan ekspor dari China yang akan hilang jika perekonomian China melambat. Indonesia tidak akan menikmati "durian runtuh" lagi.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Habis Terbang 3 Hari, Kini Harga CPO Tiarap Lagi...


(pap/pap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading