CNBC Indonesia Research

Resesi Panjang Belum Tiba, RI Sudah Dilanda PHK Massal

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
30 November 2022 09:39
Suasana sepi pabrik garmen PT. Fotexco Busana International, Gn. Putri, Bogor, Jawa Barat, Rabu (2/11/2022). (Tangkapan layar CNBC Indonesia TV) Foto: Suasana sepi pabrik garmen PT. Fotexco Busana International, Gn. Putri, Bogor, Jawa Barat, Rabu (2/11/2022). (Tangkapan layar CNBC Indonesia TV)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pergantian tahun tinggal satu bulan lagi, dan 2023 diperkirakan akan gelap bagi perekonomian dunia. Resesi mengancam berbagai negara bahkan bisa panjang atau dalam waktu yang lama. Indonesia memang masih jauh dari resesi, pertumbuhan ekonomi masih cukup kuat meski diperkirakan akan mengalami pelambatan.

Tetapi bukan berarti kondisi di dalam negeri baik-baik saja. Gelapnya ekonomi dunia belum tiba, pemutusan hubungan kerja (PHK) massal sudah banyak terjadi.

Merosotnya ekonomi dunia sudah berdampak pada industri di dalam negeri, salah satunya Textile dan Produk Tekstile (TPT). Industri ini berorientasi ekspor, sehingga ketika perekonomian dunia "gelap" permintaanya tentunya akan menurun.

Hal ini membuat industri TPT mengalami PHK massal.

Data Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mencatat ada 73.000 orang yang di-PHK sepanjang Januari-Oktober 2022. Jumlah itu belum termasuk pekerja perusahaan yang tidak tergabung di Apindo.

"Pelemahan permintaan global akan menahan laju ekspor ke depan dan mulai berdampak dari sektor tekstil dan produk tekstil," kata Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartato, dalam konferensi persnya Senin (7/11/2022).

Tidak hanya industri TPT, new economy atau sektor-sektor teknologi atau startup juga sudah kena dampaknya. PHK masal banyak terjadi.

Gaya bisnis startup dengan pertumbuhan dengan arus kas negatif tidak akan bisa bertahan. Pada akhirnya, bisnis yang sehat harus punya arus kas yang positif.

Model bisnis startup yang sepenuhnya bergantung kepada dana investor. Modal mereka kemudian dihabiskan untuk segala bentuk promosi dan pemasaran demi menggaet pengguna, yang dikenal dengan "bakar duit".

Kini dengan berakhirnya era suku bunga rendah, malah berbalik menjadi suku bunga tinggi dalam waktu sesingkat-singkatnya, investor yang selama ini mendanai startup mulai mengerem menyuntikkan modalnya.

Alhasil, badai PHK massal pun ikut melanda new economy.

Fenomena ini berisiko berlanjut di tahun depan. Sebab tren kenaikan suku bunga masih belum berakhir, dan suku bunga tinggi akan ditahan dalam waktu yang lama.

Organization of Economic Co-operation and Development (OECD) dalam economic outlook edisi November memberikan prediksi tersebut. Tiga bank sentral utama dunia, The Fed (bank sentral Amerika Serikat/AS), Bank of England (BoE) dan European Central Bank (ECB) diperkirakan akan terus menaikkan suku bunga hingga awal tahun depan, dan ditahan di level tinggi hingga 2025.

idrFoto: OECD Economy Outlook

The Fed diperkirakan akan menaikkan suku bunga hingga ke atas 5%, sementara BoE dan ECB di atas 4%.

Kemungkinan suku bunga tinggi bertahan lama juga diungkapkan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo. Fenomena ini disebut sebagai kebijakan higher for longer.

Suku bunga tinggi berisiko membuat perekonomian mengalami kontraksi (tumbuh negatif). Jika ditahan dalam waktu yang lama tentunya kontraksi juga bisa berlangsung lama.

BoE di bawah pimpinan Andrew Bailey sudah "mendeklarasikan" Inggris akan mengalami resesi terpanjang dalam sejarah.

"Pertumbuhan ekonomi diproyeksikan akan terus merosot selama 2023 dan berlanjut hingga semester I-2024 akibat tingginya harga energi dan pengetatan kondisi finansial akan membebani belanja rumah tangga," kata BoE Jumat (11/11/2022).

Kemudian bank sentral Selandia Baru (Reserve Bank of New Zealand/RBNZ) memprediksi perekonomiannya akan mulai mengalami kontraksi pada kuartal II-2023, dan terus menurun hingga kuartal I-2024.

Kondisinya bisa semakin parah jika inflasi tidak segera turun. Perekonomian sudah merosot, yang artinya akan ada penambahan pengangguran, disertai dengan inflasi tinggi. Hidup masyarakat jadi berat.

Namun, kenaikan suku bunga harus terus dilakukan guna menurunkan inflasi. Resesi panjang adalah rasa sakit yang bisa menyembuhkan dari inflasi tinggi.

"Inflasi adalah musuh semua orang, dan kita harus menghilangkannya dari perekonomian dengan mengurangi belanja rumah tangga. Itu artinya kita akan mengalami periode pertumbuhan ekonomi negatif," kata Gubernur RBNZ, Adrian Orr, sebagaimana dilansir Reuters, Rabu (23/11/2022).


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bursa Eropa Dibuka Menguat 1% Lebih, Ada Sentimen Apa?


(pap/pap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading