Pucuk Dicinta Ulam Tiba, Rupiah Akhirnya Menguat Juga!

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
22 November 2022 15:08
Pekerja pusat penukaran mata uang asing menghitung uang Dollar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo di Melawai, Jakarta, Senin (4/7/2022). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki) Foto: Ilustrasi dolar Amerika Serikat (AS). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah akhirnya menguat melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (22/11/2022). Meski tipis, rupiah sukses mengakhiri rentetan pelemahan selama 6 hari.

Rupiah sebelumnya terlihat akan melanjutkan tren pelemahannya. Di awal perdagangan rupiah sebenarnya dibuka menguat 0,13% di Rp 15.690/US$, tetapi tidak lama langsung berbalik melemah 0,1% ke Rp 15.725/US$.

Nyaris sepanjang perdagangan rupiah tertahan di zona merah, sebelum akhirnya menguat 0,1% ke Rp 15.695/US$ melansir data Refinitiv.

Kabar baik sebenarnya datang dari dalam negeri. Investor asing mulai melirik lagi pasar obligasi.

Pada pekan lalu, Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun mengalami penguatan signifikan, yield-nya turun sebesar 15,7 basis poin menjadi 7,045%.

Yield SBN sudah turun dalam 3 pekan beruntun, dan investor asing banyak memborong di pasar sekunder.

Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, sepanjang bulan ini hingga 21 November, investor asing melakukan pembelian SBN di pasar sekunder senilai Rp 10 triliun. Porsi kepemilikan asing pun meningkat menjadi Rp 723,33 triliun.

Capital inflow yang terjadi merupakan kabar bagus, jika terus berlanjut bisa menjadi modal bagi rupiah untuk menguat. Inflow yang terjadi sepanjang bulan ini juga menjadi yang terbesar sepanjang 2022.

Maklum saja, perang Rusia-Ukraina serta bank sentral AS (The Fed) yang agresif menaikkan suku bunga membuat investor asing menarik modalnya dari pasar SBN.

Tercatat sepanjang tahun ini, inflow hanya terjadi di Februari, Agustus dan November.

Pada Maret, saat awal-awal perang Rusia - Ukraina, plus kenaikan suku bunga The Fed, capital outflow yang sangat masif terjadi, sekitar Rp 48,3 miliar.

Aksi jual SBN oleh investor asing tersebut masih terus belanjut di bulan-bulan berikutnya. Sepanjang tahun ini hingga 21 November lalu, total outflow mencapai Rp 168 triliun, yang menjadi salah satu pemicu merosotnya nilai tukar rupiah.

Bank Indonesia (BI) pun harus menguras cadangan devisanya untuk menstabilkan rupiah akan tidak merosot dalam.

"Kami intervensi dalam jumlah yang besar. Cadangan devisa kami turun dari US$ 139,9 miliar menjadi sekitar US$ 130,1 miliar," papar Gubernur BI Perry Warjiyo dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, dikutip Selasa (22/11/2022).

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Saat Dolar AS Perkasa & Euro Melemah, Rupiah Gimana?


(pap/pap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading