CNBC Indonesia Research

Resflasi 'Musuh Tak Kasat Mata' yang Lebih Seram dari Resesi

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
22 November 2022 13:40
[DALAM] Resesi Foto: Arie Pratama

Jakarta, CNBC Indonesia - Seakan tak ada hentinya masalah di dunia ini, resesi pasti akan terjadi bahkan kini muncul lagi resflasi. Dua-duanya merupakan 'musuh tak kasat mata', tetapi dampaknya bisa dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Istilah resflasi dicetuskan oleh Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo.

"Ada risiko stagflasi, pertumbuhannya stuck turun namun inflasinya tinggi. Bahkan istilahnya adalah resflasi, risiko resesi dan tinggi inflasi," tutur Perry pada saat menghadiri Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR, (Senin, 21/22/2022).

Perry merujuk resflasi pada fenomena adanya resesi tetapi di sisi lain ada laju inflasi yang tinggi. 

Resesi yang akan melanda beberapa negara besar sepertinya sudah tidak terelakkan lagi, bahkan dunia terancam mengalami hal yang sama.

Indonesia memang jauh dari resesi, tetapi dampaknya juga akan terasa. Ekspor terancam menurun, begitu juga dengan pertumbuhan ekonomi.

Kondisi ini bisa memperparah Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang terjadi di dalam negeri pada perusahaan yang berorientasi ekspor.

Resesi saja sudah menjadi masalah berat, apalagi ditambah dengan inflasi tinggi yang berarti naiknya harga barang mulai dari kebutuhan pokok hingga tersier. Naiknya harga tersebut tentunya membuat daya beli masyarakat menurun.

Inflasi di Amerika Serikat (AS) dan Inggris berada di level tertinggi dalam 40 tahun terakhir, di zona Euro bahkan tertinggi sepanjang sejarah. Artinya warga di negara-negara tersebut merasakan harga barang saat ini termahal dalam 4 dekade terakhir. 

Dengan inflasi yang sangat tinggi, daya beli masyarakat menurun, resesi akan semakin parah. 

Resesi secara umum dikatakan sebagai kontraksi pertumbuhan ekonomi selama dua kuartal beruntun.

Sementara itu Biro Riset Ekonomi Nasional (NBER) tidak hanya melihat kontraksi ekonomi tetapi mendefinisikan resesi sebagai "penurunan signifikan dalam kegiatan ekonomi yang tersebar di seluruh perekonomian dan yang berlangsung lebih dari beberapa bulan".

Dalam kondisi normal, ketika resesi terjadi maka bank sentral akan menurunkan suku bunganya, memberikan stimulus moneter guna memacu perekonomian.

Pemerintah juga bisa mengambil kebijakan fiskal ekspansif dengan meningkatkan belanja. Contohnya ketika terjadi resesi akibat pandemi penyakit virus corona (Covid-19) 2020 lalu.

Bank sentral di berbagai negara menurunkan suku bunganya dengan agresif, pemerintah pun meningkatkan belanja yang akhirnya bisa memacu perekonomian.

Namun, saat resflasi hal itu tidak bisa dilakukan. Balik lagi, resflasi yakni resesi disertai dengan inflasi yang tinggi.

Ketika inflasi tinggi, maka bank sentral akan mengetatkan kebijakan moneternya dengan menaikkan suku bunga acuan. Pemerintah pun mengambil kebijakan fiskal yang kontraktif, tujuannya untuk menurunkan inflasi.

Semakin tinggi suku bunga, inflasi bisa segera diturunkan. Masalahnya, kebijakan tersebut berlawan dengan kebutuhan untuk membangkitkan perekonomian karena resesi.

Semakin tinggi suku bunga, maka resesi semakin dalam. Rumit!

Sehingga dibutuhkan keseimbangan kebijakan baik moneter dan fiskal, untuk menurunkan inflasi sekaligus mencegah perekonomian tidak mengalami resesi yang dalam.

Ya, resesi menjadi jalan untuk menurunkan inflasi. Ketika resesi terjadi, demand pull inflation bisa diredam dan akhirnya menurun.

Bank sentral pun mengambil kebijakan tersebut. Demi menurunkan inflasi, perekonomian "dikorbankan", resesi dibiarkan terjadi yang penting tidak terlalu dalam.

HALAMAN SELANJUTNYA >>> Resesi Pasti Terjadi! 

Resesi Pasti Terjadi!
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading