Bukti Pasar Modal RI Cahaya Terang di Tengah Gelap Ekonomi

Market - trp, CNBC Indonesia
17 October 2022 06:56
Karyawan melintas di samping layar elektronik yang menunjukkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (11/10/2022). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto) Foto: Karyawan melintas di samping layar elektronik yang menunjukkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (11/10/2022). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Dalam sepekan terakhir, pasar modal Tanah Air memang digempur oleh tekanan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jatuh lebih dari 3%.

Namun di tengah-tengah bayang-bayang resesi ekonomi global yang terjadi pada 2023, ekonomi Indonesia malah disebut sebagai cahaya terang di tengah kegelapan oleh Dana Moneter Internasional (IMF).

Kinerja aset keuangan terutama saham juga masih relatif lebih unggul dibandingkan dengan negara-negara tetangga.

Memang koreksi yang terjadi sepanjang minggu lalu, cukup menggerus return IHSG. Namun di sepanjang tahun 2022, IHSG masih memberikan imbal hasil sebesar 3,54%.

Dana asing juga keluar terus satu bulan terakhir hingga mencapai Rp 7,41 triliun di pasar reguler, jika dihitung dari angka net sell asing. Namun inflow sepanjang tahun ini juga masih terbilang jumbo hingga Rp 62,5 triliun di pasar reguler.

Aktivitas pendanaan di pasar modal juga tergolong cukup ramai. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkirakan penggalangan dana di pasar modal Indonesia hingga akhir tahun ini bisa mencapai Rp 182 triliun. Nilai ini melebihi target sebelumnya, Rp 115 triliun.

"Per 11 Oktober saja sudah melampaui Rp 115 triliun. Oleh karena itu, kami targetkan di akhir 2022 itu sampai Rp 182 triliun," kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Inarno Djajadi dalam Konferensi Pers di Lobby OJK dalam konferensi pers di Kantor Pusat OJK Jakarta, Jumat (14/10/2022).

Soal seberapa ketahanan pasar modal Indonesia, Inarno menyampaikan bahwa semua tergantung dari ekonomi Indonesia dan global yang tidak bisa berdiri sendiri. Dalam proyeksi IMF kuartalan yang dipublikasikan awal Oktober ini, perekonomian Indonesia masih diperkirakan dapat tumbuh 5% ketika ekonomi global diperkirakan hanya tumbuh 2,7% tahun depan.

Apabila pertumbuhan ekonomi bisa ekspansif di laju 5% dan basis investor domestik semakin kuat bukan tidak mungkin bahwa pasar modal RI akan tetap tangguh dan menjadi negara yang bisa disebut sebagai suaka ketika resesi melanda.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

IHSG Balas Dendam, tapi Apa Kuat ke 7.000 Lagi?


(trp)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading