Tembus Rp 15.030/US$, Rupiah di Level Terlemah 2 Bulan

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
22 September 2022 09:09
Pekerja memperlihatkan uang dolar di salah satu gerai money changer di Jakarta, Senin (4/7/2022).  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo) Foto: Ilustrasi dolar Amerika Serikat (AS). (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah terpuruk melawan dolar Amerika Serikat (AS) di awal perdagangan Kamis (22/9/2022), hingga kembali ke atas Rp 15.000/US$. Tekanan bagi rupiah memang cukup besar, sebab bank sentral AS (The Fed) menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin menjadi 3% - 3,25%, serta menegaskan sikap agresifnya.

Suku bunga The Fed kini berada di level tertinggi sejak awal 2008.

Rupiah melemah tipis saja, 0,03% ke Rp 15.000/US$. Tetapi depresiasi semakin membesar menjadi 0,23% ke Rp 15.030/US$ pada pukul 9:07 WIB. Level tersebut merupakan yang terlemah sejak 22 Juli lalu. 


The Fed yang agresif membuat indeks dolar AS kemarin melesat dan sempat menyentuh kisaran 111,59, tertinggi sejak 6 Juni 2002. Hal ini membuat rupiah tertekan. Ke depannya, The Fed masih akan terus menaikkan suku bunga hingga inflasi kembali ke 2%.

"FOMC (Federal Open Market Committee) sangat bertekad untuk menurunkan inflasi menjadi 2%, dan kami akan terus melakukannya sampai pekerjaan selesai," kata ketua The Fed, Jerome Powell, sebagaimana dilansir CNBC International.

The Fed kini melihat suku bunga akan mencapai 4,6% (kisaran 4,5% - 4,75%) di tahun depan. Artinya, masih akan ada kenaikan 150 basis poin dari level saat ini.
Bahkan, beberapa pejabat The Fed melihat suku bunga berada di kisaran 4,75 - 5% di 2023, sebelum mulai turun di 2024.

Dengan suku bunga tinggi, maka risiko resesi pun semakin meningkat. Powell bahkan tidak memberikan jaminan seberapa signifikan atau tidak resesi jika benar terjadi.

"Tidak ada yang tahu apakah proses ini akan membawa menuju resesi, atau jika terjadi, tidak ada yang tahun akan seberapa signifikan," ujar Powell.

Bank sentral paling powerful di dunia ini masih menyisakan dua kali rapat kebijakan moneter di tahun ini, dan kemungkinan masih akan menaikkan suku bunga 75 basis poin dan 50 basis poin. Sebab di akhir tahun ini, mayoritas anggota The Fed melihat suku bunga berada di kisaran 4,25% - 4,5%.

Dengan agresivitas tersebut, yang membuat yield obligasi AS (Treasury) menanjak, pelaku pasar kini menanti respon dari Bank Indonesia (BI).

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memproyeksikan BI akan menaikkan suku bunga acuan pada bulan ini.Dari 14 institusi yang terlibat dalam pembentukan konsensus tersebut, semuanya kompak memperkirakan kubu MH Thamrin akan menaikkan suku bunga acuan.

Sebanyak 12 lembaga/institusi memperkirakan bank sentral akan mengerek BI7DRR sebesar 25 basis points (bps) menjadi 4,00% sementara dua lembaga/institusi memproyeksi kenaikan BI7DRR sebesar 50 bps menjadi 4,25%.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Tunggu Kejutan dari BI, Rupiah Melemah Lagi


(pap/pap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading