PalmCo Jadi Raja Dunia, Era Minyak Goreng Murah Tiba

Market - Romys Binekasri, CNBC Indonesia
01 September 2022 09:37
Dirut PTPN III, Muhammad Abdul Ghani Foto: Dirut PTPN III, Muhammad Abdul Ghani

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Perkebunan Nusantara III (PTPN III) akan mengantarkan, PalmCo yang digadang-gadang akan menjadi raksasa perkebunan. Ini sejalan dengan langkah konsolidasi yang bakal dilakukan sebelum menghelat initial public offering (IPO).

Perseroan menargetkan mampu meraup dana segar Rp 5 triliun hingga Rp 10 triliun melalui IPO. PTPN bahkan sudah menunjuk Mandiri Sekuritas dan McKinsey sebagai penasihat aksi korporasinya tersebut.

Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga mengatakan, tujuan dari aksi korporasi tersebut bertujuan untuk menciptakan keseimbangan harga minyak goreng dalam negeri. Sehingga, saat harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) global berfluktuasi tidak berdampak pada harga dalam negeri.

"Itu untuk PalmCo. Saat ini, peran BUMN untuk minyak goreng kurang besar. Ini karena dia tidak mengelola minyak goreng dalam jumlah besar. Oleh karena itu juga dibuat sub-holding PalmCo. Ini tujuannya membuaat pengadaan minyak goreng," terang Arya dikutip (1/9/2022).

Pemerintah berharap, dengan adanya PalmCo dapat membantu permasalahan minyak goreng dalam negeri. Sebab, dapat dikontrol langsung oleh pemerintah melalui perusahaan BUMN.

"Kami harap go public, bikin minyak goreng dan sebagainya, maka mayoritas minyak goreng Indonesia diproduksi oleh BUMN. Sehingga, harga bisa dikontrol oleh BUMN. Kontrol dalam arti positif, bukan monopoli, sehingga harga minyak goreng lebih terjangkau untuk masyarakat," imbuh Arya.

PalmCo merupakan merupakan perusahaan spin-off yang merupakan sub-holding PTPN III dan khusus bergerak di bidang kelapa sawit. Jika berjalan sesuai rencana, keberadaan PalmCo sepertinya bakal mengusik Wilmar Group yang selama ini menjadi salah satu pemain terbesar.

Tengok saja, potensi lahan yang bakal dimiliki PalmCo. Per akhir 2021, lahan sawit PTPN seluas 500.000 hektar (ha). Kemudian, luas lahan perkebunan lain seperti karet, tebu dan lainnya jika ditotal sekitar 200.000 ha. Luas ini yang bakal dikonversi menjadi lahan sawit dan dikonsolidasikan ke PalmCo sebelum IPO.

Artinya, PalmCo bakal memiliki lahan perkebunan sawit dengan luas sekitar 700.000 ha. Luas ini melampaui Wilmar tercatat memiliki 230.000 ha lahan dan pemain besar lain asal Malaysia FGV Holdings milikLembaga Kemajuan Tanah Persekutuan (LKTP) Malaysia memiliki lahan sawit 439 ribu hektar. Kelak, PalmCo bakal menjadi salah satu perusahaan terbesar dengan total lahan sawit produktif terbesar di dunia.

Lalu, soal pabrik. Pabrik pengolahan kelapa sawit PTPN juga rencananya akan dikonsolidasikan ke PalmCo.

"Nanti pabrik-pabrik akan dikonsolidasikan. Selama ini, kan, nggak. PTPN I punya pabrik sendiri dikontrol sendiri. PTPN II punya sendiri nggak terkonsolidasi. Nanti ini akan terkonsolidasi semua," tuturnya.

Mengutip situs resmi, PTPN III saja saat ini memiliki setidaknya 12 pabrik pengolahan kelapa sawit (PKS). Jika ditotal, kapasitas tandan buah segarnya mencapai 585 tandan buah segar (TBS) per jam.

Sebutlah pabrik beroperasi selama 24 jam selama satu semester atau sekitar 180 hari, maka total kapasitas seluruh pabrik itu mencapai 2,53 juta ton TBS selama satu semester. Kapasitas ini sudah melampaui Wilmar yang sebesar 2,13 juta ton TBS per semester pertama tahun ini.

Sebelumnya, Direktur Utama PTPN Mohammad Abdul Ghani mengatakan, PalmCo ditargetkan IPO pada kuartal II-2023 atau kuartal III-2023. Target ini mempertimbangkan proses konsolidasi yang tengah berlangsung dan diharapkan rampung pada Oktober tahun ini.
IPO rampung, PalmCo siap berekspansi. PalmCo akan digiring menjadi perusahaan kelapa sawit terbesar di dunia dengan memproduksi sebanyak 1,8 juta ton per tahun pada 2026.

Rata-rata kebutuhan minyak goreng nasional sendiri selama ini sekitar 5,7 juta ton per tahun. Artinya, mulai periode tersebut, PalmCo bakal memenuhi sepertiga kebutuhan minyak goreng domestik. Produksi ini juga setara dengan pemenuhan 80% permintaan minyak goreng curah yang ditujukan untuk masyarakat menengah ke bawah.

Ia menyebut, jika negara butuh tambahan suplai minyak goreng, PTPN bisa hadir. Ini sesuai salah satu tujuan BUMN, yaitu untuk memprioritaskan kepentingan nasional.

"Kami sudah masuk Proyek Strategis Nasional, target yang dicapai PTPN 1,8 juta ton olein per tahun pada 2026. Isu minyak goreng kita sudah tau kita sulit. Kebutuhan 5,7 juta ton. Kalau kami bisa capai 1,8 juta ton bisa sepertiga kebutuhan nasional," terang Abdul Gani.

Artikel Selanjutnya

PalmCo Incar IPO Hingga Rp 10 T, Ada yang Untuk Bangun Pabrik


(RCI/dhf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading