Peretasan Makin Marak, Apa Kripto Masih Aman Untuk Investasi?

Market - chd, CNBC Indonesia
19 August 2022 07:55
Representations of cryptocurrency Dogecoin are seen in this illustration taken June 16, 2022. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration Foto: REUTERS/DADO RUVIC

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah tren investasi kripto yang masih menjadi perhatian pasar, tak sedikit pihak justru semakin khawatir dengan tingkat keamanan dari aset digital ini.

Banyak yang khawatir setelah adanya kasus peretasan yang makin merajalela di aset kripto. Lembaga riset Chainalysis memperkirakan aksi peretasan mencuri aset kripto bernilai sekitar US$ 1,9 miliar (sekitar Rp 28,15 triliun) sepanjang Januari-Juli 2022. Alasan lonjakan peretasan adalah penggunaan protokol desentralized finance (DeFi).

Menurut Chainalysis, pencurian nilai aset kripto berbentuk koin atau token cryptocurrency lainnya oleh hacker melonjak 60% dibanding periode yang sama pada 2021. Pada Januari-Juli 2021, peretas mencuri aset kripto senilai US$ 1,2 miliar.


Aksi hacker juga diperkirakan tidak surut. Pada Agustus 2022, sudah ada dua insiden hacking besar yaitu pencurian jembatan lintas-blockchain Nomad senilai US$ 190 juta dan peretasa dompet Solana bernilai total US$ 5 juta.

Penyebab utama lonjakan pencurian aset kripto lewat hacking, menurut Chainalysis adalah tren pencurian dana yang disimpan dengan protokol DeFi.

Hal ini karena kode sumber terbukanya bisa dipelajari oleh penjahat siber yang mencari celah.

Karakternya yang terbuka, membuat protokol DeFi populer bagi perusahaan yang ingin buru-buru meluncurkan produknya ke pasar. Hal ini menambah risiko baru yaitu potensi produk meluncur di pasar tanpa uji keamanan yang menyeluruh.

Selain itu, Chainalysis menyatakan sebagian besar dana yang dicuri dari protokol DeFi terkait dengan Korea Utara, terutama tim peretas elit Grup Lazarus.

Menurut riset, kelompok peretas terafiliasi negara yang dipimpin oleh Kim Jong Un telah mencuri US$1 miliar dalam bentuk mata uang kripto dari protokol DeFi.

Pasar kripto yang sedang tertekan, juga tidak membuat aktivitas peretasan surut. Selama aset di protokol DeFi dan layanan lainnya masih punya nilai dan rentanĀ peretasan, penjahat siber pasti berusaha untuk mencurinya.

Chainalysis menyarankan agar pelaku industri kripto meningkatkan sistem keamanan platformnya dan mengedukasi konsumen/investor cara membedakan proyek kripto yang aman sebagai tempat investasi.

Sementara itu, penegak hukum disarankan untuk terus mengembangkan kemampuan untuk melacak pergerakan aset kripto di sepanjang rantai blockchain, sehingga aksi pencurian kripto tidak lagi menarik bagi peretas.

Di tengah maraknya kasus peretasan kripto, banyak orang, terutama kaum milenial bertanya-tanya, apakah keamanan kripto makin melemah?

Menjawab banyaknya kekhawatiran tersebut, PINTU mengupas secara mendalam pada acara podcast bertajuk "Aman Gak Sih Crypto?" bersama dengan, Chief Marketing Officer PINTU, Timothius Martin dan General Counsel PINTU, Malikulkusno Utomo.

Timothius mengatakan keamanan investasi kripto perlu melihat beberapa faktor, yaitu dari sisi legalitas pedagang aset kripto tersebut wajib terdaftar di Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) dan diawasi Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo).

Faktor berikutnya adalah dilihat bagaimana kinerja dari perusahaan atau pedagang aset kripto itu sendiri, dan bisa dinilai juga dari feedback yang diberikan oleh pengguna.

"Beberapa faktor tersebut minimal bisa kita lakukan sebelum menentukan menaruh aset kita untuk diinvestasikan di centralized exchange yang beroperasi secara resmi di Indonesia," kata Timothius dalam siaran pers, Kamis (18/7/2022) hari ini.

Timothius menambahkan, PINTU sebagai pedagang fisik aset kripto yang terdaftar dan beroperasi secara legal di Indonesia terus meningkatkan keamanan aset investor.

"Kami bekerja sama dengan kustodian kelas dunia untuk menjaga aset kripto milik pengguna yang ada di PINTU. Maka itu, aset yang ada di PINTU memiliki tingkat keamanan berstandar kelas dunia sehingga belasan juta investor kripto di Indonesia tidak perlu khawatir tentang keamanan asetnya," jelas Timothius.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Geger Rontoknya Terra, Kripto Berguguran Pekan Ini


(chd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading