Riset Ungkap Alasan Cuan Tipu-Tipu Kripto Anjlok Tahun Ini

Tech - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
19 August 2022 06:35
Pejalan kaki melewati iklan yang menampilkan token cryptocurrency Bitcoin di Hong Kong, Selasa (15/2/2022). (Photo by Anthony Kwan/Getty Images) Foto: Pejalan kaki melewati iklan yang menampilkan token cryptocurrency Bitcoin di Hong Kong, Selasa (15/2/2022). (Photo by Anthony Kwan/Getty Images)

Jakarta, CNBC Indonesia - Laporan Chainalysis menyebutkan total penipuan berkedok kripto yang terjadi tahun 2022 mengalami penurunan dari sebelumnya. Januari-Juli tahun ini mencapai US$1,6 miliar (Rp 23,7 triliun) atau 65% lebih rendah dari periode yang sama pada 2021.

Menurut laporan itu, penurunan total tersebut akibat anjloknya harga di berbagai mata uang dunia, dikutip dari laman resmi perusahaan, Kamis (18/8/2022).

Sejak Januari, pendapatan dari penipuan turun sejalan dengan harga Bitcoin saat itu. Penurunan juga terjadi pada pengiriman individu ke penipu tahun ini dan disebut terendah dalam empat tahun terakhir.


"Bukan hanya pendapatan scam yang turun, jumlah kumulatif transfer individu ke scam sejauh ini tahun 2022 adalah yang terendah dalam empat tahun terakhir," kata Chainalysis.

"Angka-angka itu menunjukkan lebih sedikit orang yang jatuh dalam penipuan kripto. Salah satu alasannya adalah dengan turunnya harga aset."

Perusahaan mengatakan penipuan kripto jadi kurang menarik bagi calon korban karena harga aset kripto merosot.

Biasanya penipuan kripto memikat targetnya sebagai peluang investasi kripto dengan pengembalian yang besar. Mereka yang menjadi korban adalah pengguna baru yang tidak berpengalaman. 

"Kami juga berhipotesis pengguna baru yang tidak berpengalaman lebih cenderung jatuh ke penipuan kurang lazim di pasar sekarang karena harga menurun, dibandingkan saat harga naik dan mereka ditarik hype serta janji pengembalian cepat," jelas Chainalysis.

Perlu dicatat pendapatan penipuan kripto didorong oleh outlier besar. Penipuan terbesar sejauh ini senilai US$273 juta (Rp 4 triliun), atau hanya 24% dari Finiko akhir Juli 2021 sbesar US$1,5 miliar (Rp 22,2 triliun).


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Banyak Negara Atur Ketat Kripto, Kabar Baik atau Buruk?


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading