Sudah Terbang 16%, Harga Batu Bara Mau ke Mana?

Market - Maesaroh, CNBC Indonesia
15 August 2022 06:45
Pekerja melakukan bongkar muat batubara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (6/1/2022). Pemerintah memutuskan untuk menyetop ekspor batu bara pada 1–31 Januari 2022 guna menjamin terpenuhinya pasokan komoditas tersebut untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik PLN dan independent power producer (IPP) dalam negeri. Kurangnya pasokan batubara dalam negeri ini akan berdampak kepada lebih dari 10 juta pelanggan PLN, mulai dari masyarakat umum hingga industri, di wilayah Jawa, Madura, Bali (Jamali) dan non-Jamali. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo) Foto: Pekerja melakukan bongkar muat batubara di Terminal Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (6/1/2022). (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah terbang 16,22% pada pekan lalu, harga batu bara diperkirakan sulit untuk menanjak signifikan pada pekan ini. Namun, harga batu bara masih akan tetap tinggi dan berada di kisaran US$ 400 per ton.

Pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (12/8/2022), harga batu kontrak September di pasar ICE Newcastle ditutup di US$ 403 per ton. Harganya menguat 1,43%.

Dalam sepekan, harga batu bara melonjak 16,22% secara point to point. Penguatan pekan kemarin adalah yang tertinggi sejak pertengahan Mei 2022 (16-20 Mei 2022) di mana pada saat itu harga pasir hitam melonjak 16,42%.


Penguatan pada pekan lalu juga berbanding terbalik dibandingkan dua pekan lalu di mana harga batu bara amblas 14,49% sepekan. Dalam sebulan, harga batu bara masih amblas 8,07%.


Analis Industri Bank Mandiri Ahmad Zuhdi memperkirakan harga batu bara akan bergerak di kisaran US$ 400-415 per ton pada pekan ini. Persoalan pasokan gas dan batu bara di Uni Eropa akan menjadi faktor penggerak utama pasir hitam pekan ini.

"Tidak akan berubah banyak dari minggu kemarin. Faktor penggeraknya masih di sentimen pasar terhadap stockpile batu bara dan gas Uni Eropa," tutur Zuhdi, kepada CNBC Indonesia.

Dia menambahkan jika persoalan gas di Eropa membaik bukan tidak mungkin harga batu bara akan melandai. "Bahkan kami memperkirakan bisa kembali ke bawah US$ 400 per ton kalau kenyataannya stockpile Uni Eropa terbukti sudah aman untuk next winter," ujarnya.

Zuhdi menjelaskan harga batu bara sulit meningkat tajam karena penguatan sebelumnya lebih disebabkan oleh berubahnya rute perdagangan batu bara akibat embargo Uni Eropa atas batu bara Rusia.


Embargo diperkirakan akan membuat ekspor batu bara Rusia mengalir deras ke China dan India. Sementara, Eropa akan mengimpor batu bara dari Australia, Kolombia, Amerika Serikat, Australia, serta dalam jumlah kecil dari Asia seperti Indonesia.

"Walaupun ekspor batu bara Rusia sangat mungkin berkurang, tapi sampai batas tertentu akan terserap oleh importir besar seperti China dan India, karena memang spesifikasi (ukuran) yang sama tapi harga didiskon," tutur Zuhdi.

Dia mengingatkan impor batu bara China juga dalam tren penurunan sehingga pasokan batu bara yang semula dikirim ke China nantinya akan ekspor dengan jumlah yang lebih sedikit atau diekspor ke Uni Eropa jika memenuhi spesifikasinya yang sama.

Seperti diketahui, Uni Eropa masih berkutat dengan persoalan gas setelah perusahaan Rusia Gazprom memangkas aliran gas ke Benua Biru. Jerman merupakan salah satu yang paling menderita dari pemangkasan tersebut. Pasalnya, Deutschland tengah mengejar pasokan gas untuk musim dingin mendatang demi menghindari krisis energi.

Kamis pekan lalu, Kanselir Jerman Olaf Scholz meminta Portugal dan Spanyol untuk membantu mengatasi persoalan gas mereka. Portugal dan Spanyol diharapkan bisa bisa dilibatkan dalam pengiriman gas dari seluruh dunia menuju Eropa melalui semenanjung Iberia.

Kedua negara menerima pasokan gas melalui jaringan LNG dari Aljazair dan Maroko. Pasokan gas dikirim dari berbagai negara mulai Amerika Serikat hingga Nigeria. Namun, sebagian besar Eropa justru tidak memiliki koneksi untuk pengiriman gas dari Spanyol dan Portugal.

Jerman berencana mengoperasikan kembali pembangkit listrik batu bara mereka untuk mengkompensasi pengurangan gas. Perusahaan energi raksasa Jerman, RWE, telah menyampaikan rencananya untuk menggunakan batu bara dalam jumlah lebih besar untuk jangka pendek.

"RWE secara aktif mendukung pemerintah Jerman dan Eropa dalam mengelola krisis energi. Apa yang terjadi saat ini semoga hanya bersifat sementara demi mengamankan pasokan," tutur Direktur Keuangan RWE Michael Muller, kepada CNBC International.

Upaya Jerman menambah pasokan batu bara untuk pembangkitnya terhalang oleh semakin menyusutnya permukaan sungai Rhine. Permukaan sungai Rhine terus menyusut hingga mencapai 40 cm dan bisa terus menyusut ke depan. Jika permukaan mencapai 30 cm maka pengiriman batu bara melalui sungai tersebut dihentikan.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Jerman berencana untuk memprioritaskan penggunaan jalur kereta mereka untuk membawa komoditas energi.

TIM RISET CNBC INDONESIA



[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Naik Hampir 20% Sepekan, Harga Batu Bara Dekati US$ 400/Ton


(mae/mae)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading