Pesta 'Durian Runtuh' Selesai 2023, Tandanya Sudah Kelihatan

Market - Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
09 August 2022 11:34
Infografis: RI Panen 'Durian Runtuh', Sri Mulyani Kini Kipas-kipas Duit Foto: Infografis/RI Panen 'Durian Runtuh', Sri Mulyani Kini Kipas-kipas Duit/Arie Pratama

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia diperkirakan tidak akan lagi menikmati 'durian runtuh' dari lonjakan harga komoditas pada 2023. Hal ini disampaikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers usai rapat kabinet, Senin (8/8/2022).

"Ini tidak akan berulang atau setinggi ini tahun depan," ungkap Sri Mulyani.


Indonesia memang diuntungkan dari commodity boom dua tahun belakangan karena kelangkaan pasokan akibat pandemi virus Corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) dan konflik antara Rusia dengan Ukraina. Penerimaan dari batu bara dan minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) misalnya akan terpengaruh.

Sejauh ini, penerimaan pajak akibat lonjakan harga komoditas telah mencapai Rp 279 triliun. Kemudian penerimaan pada bea keluar juga melonjak hingga Rp 48,9 triliun, khususnya dari minyak kelapa sawit (CPO).

"Jadi tidak akan terulang pada level setinggi ini," jelasnya.

Harga CPO global pada Selasa (9/8/2022) tercatat MYR 4.091 per ton. Harganya sudah turun hingga 42,3% sejak puncaknya di MYR 7.104 per ton pada 29 April 2022. Penurunan harga CPO tak lepas dari pengaruh Indonesia produsen utama.

Wakil Koordinator Urusan Maritim dan Investasi, Septian Hario Seto telah mengumumkan pada Senin 1 Agustus 2022 untuk mengizinkan eksportir untuk mengirim sembilan kali lipat dari jumlah yang dijual secara lokal di bawah aturan Domestic Market Obligation (DMO), yang naik dari tujuh kali lipat. Dengan begitu, diprediksikan bahwa CPO Indonesia akan kembali membanjiri pasar minyak nabati dunia.

Namun, dari sisi permintaan, terutama dari China berpotensi terhambat. Sebelumnya diketahui, bahwa China masih menerapkan kebijakan zero Covid dan adanya perlambatan pada ekonomi di kuartal II-2022, sehingga pasar memprediksikan bahwa China akan menurunkan permintaan CPO-nya.

Sementara harga batu bara dunia saat ini tengah melandai. Sempat menyentuh US$440 per ton, saat ini berada di US$ 360,5 per ton.

Ada potensi permintaan yang tinggi dari Eropa setelah pemberlakuan embargo terhadap batu bara Rusia. Akna tetapi ada tekanan dari perlambatan konsumsi yang menyebabkan pasokan melimpah.

"Harga batu bara benar-benar amblas. Jatuhnya sangat brutal.Permintaan sudah berkurang di tengah pasokan yang membaik. Permintaan untuk musim dingin mungkin tidak terlalu banyak sehingga harga terus turun," tutur broker dai London, dikutip dari Montel News.

Para pelaku pasar melihat pasokan batu bara dari Afrika Selatan dan Amerika Serikat meningkat. Kondisi ini akan mengimbangi pasokan dari Rusia. Kemudian, persediaan gas yang diperkirakan mencukupi memberi ekspektasi tingkat permintaan batu bara tidak setinggi semula.

Harga gas alam dan minyak mentah juga turut melandai. Ancaman perlambatan ekonomi dunia dan resesi diperkirakan akan memangkas konsumsi kedua sumber energi tersebut.

Ekonomi dunia pada tahun 2022 diperkirakan akan tumbuh sebesar 2,9% melambat dari 2021 yakni 5,7%, menurut Bank Dunia. Ekonomi Amerika Serikat juga diperkirakan tumbuh 2,6%, lebih lambat dari 2021 sebesar 5,1%. Begitu juga dengan China sebesar 4,3% pada 2022, dibanding 8,1% pada 2021.

Harga gas acuan Henry Hub Saat ini tercatat US$ 7,675 per mmbtu, lebih rendah dari puncaknya US$ 8,993 per mmbtu pada 26 Juli 2022. Sedangkan minyak mentah brent sudah berada di bawah level US$100 per barel, tepatnya di US$96,4 per barel. Sementara jenis light sweet WTI tercatat US$90,5 per barel.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Jadi Ini yang Bikin RI Batal Ngutang Rp 100 Triliun...


(ras/ras)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading