Keok! Rupiah Selangkah Lagi Tembus Rp 15.000/US$

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
04 July 2022 15:09
Pekerja pusat penukaran mata uang asing menghitung uang Dollar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo di Melawai, Jakarta, Senin (4/7/2022). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Isu resesi dunia membuat rupiah kembali melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (4/7/2022). Sebelumnya, rupiah sudah merosot dalam 4 pekan beruntun dengan total 3,5%.

Melansir data Refiniv, rupiah sebenarnya membuka perdagangan dengan menguat 0,14% di Rp 14.915/US$. Tetapi setelahnya langsung berbalik melemah dan tidak pernah lagi mampu menguat.

Du penutupan perdagangan rupiah berada di Rp 14.965/US$, melemah 0,2% di pasar spot. Rupiah kini berjarak 0,23% saja dari level psikologis Rp 15.000/US$.


Isu resesi kini tidak hanya di Amerika Serikat, tetapi dunia. Survei terhadap chief financial officer (CFO) yang dilakukan CNBC International awal Juni lalu menunjukkan sebanyak 68% melihat perekonomian AS diprediksi akan mengalami resesi di semester I-2023.

Sementara itu bank investasi JP Morgan pada pertengahan Juni lalu mengatakan probabilitas Amerika Serikat mengalami resesi saat ini mencapai 85%, berdasarkan pergerakan harga di pasar saham.

Indeks S&P 500 sepanjang tahun ini sudah jeblok sekitar 23%. Menurut JP Morgan, dalam 11 resesi terakhir, rata-rata indeks S&P 500 mengalami kemerosotan sebesar 26%.

Inflasi tinggi yang melanda banyak negara juga diperkirakan membawa perekonomian global mengalami resesi.

Kepala ekonom global Citigroup, Nathan Sheets, mengatakan risiko dunia mengalami resesi kini sebesar 50% dalam 18 bulan ke depan.

"Ekonomi global terus dilanda guncangan supply yang parah, yang membuat inflasi meninggi dan pertumbuhan ekonomi melambat. Tetapi, kini dua faktor lagi muncul, yakni bank sentral yang menaikkan suku bunga dengan sangat agresif serta demand konsumen yang melemah," kata Sheets sebagaimana dilansir Yahoo Finance, Rabu (22/7/2022).

Berdasarkan model yang dibuat, Sheet melihat produk domestik bruto (PDB) dunia di tahun ini akan tumbuh 2,3%, turun dari sebelumnya 2,6%, sementara untuk 2023 sebesar 1,7% turun dari proyeksi sebelumnya 2,1%.

"Kami menyimpulkan bank sentral menghadapi tantangan yang sangat berat dalam menurunkan inflasi. Berkaca dari sejarah, langkah yang digunakan untuk menurunkan inflasi memberikan dampak buruk ke perekonomian, dan kami saat ini melihat probabilitas hampir 50% dunia akan mengalami resesi. Bank sentral sejauh ini belum menerapkan kebijakan soft landing atau pelambatan ekonomi tanpa memicu inflasi dalam proyeksi mereka, begitu juga dengan yang kami lihat," tambah Sheets.

HALAMAN SELANJUTNYA >>> Ekonomi RI Tunjukkan Tanda-Tanda Pelambatan

Ekonomi RI Tunjukkan Tanda-Tanda Pelambatan
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading