Hati-hati, Orang RI Mulai Kurangi Konsumsi! Hawa Resesi...?

Market - Maesaroh, CNBC Indonesia
27 June 2022 13:15
Mall Blok M (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)

Jakarta, CNBC Indonesia - Jumlah uang beredar dalam arti luas (M2) pada Mei 2022 tercatat Rp Rp7.854,8 triliun atau tumbuh 12,1% (year on year/yoy). Ini adalah pertumbuhan terendah sejak November 2021. Melambatnya pertumbuhan uang beredar sejalan dengan sikap konsumen yang mengurangi belanja usai liburan serta adanya lonjakan harga alias inflasi.

Menurut data Bank Indonesia (BI), pertumbuhan uang beredar jauh lebih rendah dibandingkan April yakni 13,6%. Secara nominal, uang beredar pada Mei turun Rp 56,7 triliun dibandingkan bulan sebelumnya.

Pertumbuhan uang beredar dalam arti sempit (M1) sebesar 18,4% (yoy) dan uang kuasi sebesar 4,6% (yoy). Secara nominal, peredaran M1 tercatat Rp 4.472,2 triliun sementara uang kuasai sebesar Rp 3.356,2 triliun.



BI menjelaskan berkurangnya uang beredar disebabkan penurunan peredaran uang kartal dan tabungan rupiah yang dapat ditarik sewaktu-waktu. Peredaran uang kartal pada Mei 2021 tercatat Rp 820,2 triliun, atau tumbuh 10,3% (yoy), anjlok dibandingkan bulan sebelumnya (22,3%, yoy).

"Ini sejalan dengan kembali normalnya kebutuhan kartal masyarakat pasca Idul Fitri," tulis BI dalam laporannya. Berkurangnya uang beredar juga disebabkan menurunnya ekspansi keuangan pemerintah serta penyaluran kredit.

Ekspansi keuangan pemerintah tercatat melambat, tercermin dari tagihan bersih kepada pemerintah pusat yang tumbuh 3,8% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada April 2022 sebesar 22,3% (yoy). Sementara itu, penyaluran kredit pada Mei 2022 tumbuh 8,7% (yoy), turun dibandingkan April yang tercatat 8,9% (yoy).

Perlambatan kredit terjadi pada sektor konsumsi dan kredit modal kerja (KMK) sementara kredit investasi meningkat. Kredit Modal Kerja (KMK) tumbuh 11,0% (yoy) pada Mei 2022, melambat dari bulan sebelumnya (11,5%, yoy). Perlambatan KMK terjadi pada sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan, serta sektor keuangan, real estat dan jasa perusahaan.

Kredit konsumsi melambat menjadi 6,2% pada Mei dari 6,4% pada April 2022. Perlambatan terjadi baik untuk Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) ataupun Kredit Kendaraan Bermotor (KKB). KPR dan KPA (Kredit Pemilikan Apartemen) melandai menjadi 9,8% pada Mei dari 10,5% pada April.

Di sisi lain, Kredit Investasi meningkat dari 7,2% (yoy) pada April 2022 menjadi 7,6% (yoy) pada Mei 2022, terutama di sektor konstruksi serta sektor pengangkutan dan komunikasi.

BI juga mencatat dana pihak ketiga (DPK) pada Mei 2022 tercatat Rp 7.266,8 triliun, atau tumbuh 10,1% (yoy). Pertumbuhan ini melandai dibandingkan April yang tercatat 10,3%. Perkembangan DPK terutama disebabkan oleh perlambatan tabungan dan simpanan berjangka tetapi tabungan giro meningkat.

Belanja Berkurang Karena Harga Barang 'Terbang'
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading