Kasus Covid Naik Lagi, Coba Intip Saham Rumah Sakit

Market - Tim Riset, CNBC Indonesia
14 June 2022 10:05
Layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (9/5/2022). (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto) Foto: Layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (9/5/2022). (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah emiten pengelola rumah sakit dibuka menguat pada perdagangan Selasa (14/6) pagi, di tengah pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang kembali dibuka anjlok 0,65% ke angka 6.949,65 pagi ini.

Hingga pukul 09.30 WIB, mayoritas saham emiten RS berada di zona hijau, dengan 4 emiten tercatat menguat, 2 stagnan dan 3 lainnya melemah.

Berikut adalah pergerakan saham emiten RS secara rinci:

  • Kedoya Adyaraya (RSGK) menguat 3,60% ke Rp 1.440/saham. Total transaksi Rp 28 juta.
  • Metro Healthcare Indonesia (CARE) menguat 1,63% ke Rp 500/saham. Total transaksi Rp 184 miliar.
  • Siloam International Hospitals (SILO) menguat 0,50% ke Rp 1.015/saham. Total transaksi Rp 17 juta.
  • Mediloka Hermina (HEAL) menguat 0,37% ke level Rp 1,370/saham. Total transaksi Rp 9 miliar
  • Bundamedik (BHMS) stagnan di posisi Rp 615/saham. Total transaksi Rp 3 miliar.
  • Royal Prima (PRIM) stagnan di posisi Rp 256/saham. Total transaksi Rp 24 juta.
  • Sejahtera Anugrahjaya (SRAJ) melemah 0,55% ke Rp 181/saham. Total transaksi Rp 4 juta.
  • Sarana Mediatama Metropolitan (SAME) melemah 1,03% ke Rp 386/saham. Total transaksi Rp 918 juta.
  • Mitra Keluarga Karya Sehat (MIKA) melemah 2,22% ke Rp 2.640/saham. Total transaksi Rp 2 miliar.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan RI dalam beberapa hari terakhir melaporkan kasus Covid-19 di Indonesia kembali meningkat ke level di atas 500 per kemarin, Senin (13/6/2022). Hal ini terjadi sekitar 40 hari pasca libur Lebaran 2022.

Selain itu, secara bersamaan kasus Omicron BA.4 serta BA.5 yang merupakan varian baru juga ditemukan di Bali dan Jakarta dan kini secara total sudah ada delapan kasus.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, menegaskan, bahwa penyebab kenaikan kaskus Covid-19 bukan karena efek libur Lebaran. Tapi, setiap kenaikan kasus terjadi karena adanya varian Covid-19 baru.

Hal tersebut tak hanya terjadi di Indonesia saja, tapi di seluruh dunia yang negaranya sedang mengalami lonjakan kasus.

"Kita liat setiap kali terjadi lonjakan besar tiap negara, itu bukan karena hari raya keagamaan besar, tapi karena ada varian baru," ujarnya saat konferensi pers PPKM virtual.

Berdasarkan pengalaman, kenaikan itu terjadi karena ada varian baru. Seperti sebelumnya ada varian Delta dan Omicron yang menyebabkan lonjakan kasus Covid-19.

Sedangkan untuk BA.4 dan BA.5 yang baru ditemukan kasusnya di Indonesia, BGS memproyeksikan lonjakan kasus Covid-19 di Tanah Air seiring penularan virus Corona subvarian tersebut akan terjadi bulan depan.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Sistem Kelas BPJS Dihapus, Cuan Rumah Sakit Swasta Tergerus?


(fsd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading