Ada Apa, Batu Bara? Seminggu Harga Anjlok 6% Lebih...

Market - Maesaroh, CNBC Indonesia
09 June 2022 07:25
HBA Turun 7 Bulan Beruntun (CNBC Indonesia TV)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara kembali anjlok. Pada perdagangan Rabu (8/6/2022), harga batu kontrak Juli di pasar ICE Newcastle (Australia) ditutup di US$ 365,05 per ton. Harganya melemah 1,07% dibandingkan hari sebelumnya.

Harga penutupan kemarin adalah yang terendah sejak 25 Mei lalu atau dalam dua pekan terakhir. Anjloknya harga batu bara kemarin juga semakin memperpanjang pergerakan negatif harga batu hitam dalam dua hari terakhir.

Dalam sepekan, harga batu bara juga sudah anjlok 6,6% secara point to point. Namun, dalam sebulan harga batu bara masih menguat 3,3% sementara dalam setahun harganya melonjak 208,1%.



Pelemahan harga batu bara disebabkan meningkatnya pasokan, diskon batu bara Rusia, serta turunnya penjualan baja. India yang tengah bergulat dalam krisis listrik selama sebulan terakhir mampu meningkatkan produksi batu bara cukup signifikan pada Mei.

Produksi batu bara India mencapai 71,3 juta ton pada Mei 2022, melonjak 33,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Produksi mereka juga meningkat 7,1% dibandingkan bulan April yang tercatat 66,58 juta ton.

BUMN pertambangan mereka Coal India memproduksi 54,72 juta ton batu bara pada Mei lalu, naik 20% (year on year/yoy). Perusahaan tersebut berkontribusi 77% terhadap total produksi batu bara Negeri Bollywood.

Produksi batu bara diperkirakan masih akan meningkat dalam beberapa bulan karena kenaikan permintaan serta dibukanya lagi puluhan tambang yang selama ini sudah ditutup. Coal India akan menaikkan produksi sekitar 12% pada tahun ini.

Perusahaan tersebut juga akan membuka kembali 20 pertambangan batu bara mereka yang selama ini ditutup. Ke-20 pertambangan tersebut akan ditenderkan kepada perusahaan swasta. Langkah tersebut diharapkan bisa meningkatkan produksi batu bara domestik dan mengurangi ketergantungan impor.

Kenaikan produksi juga dicatatkan Amerika Serikat (AS). Produsen batu bara terbesar ketiga di dunia tersebut diperkirakan akan mencatatkan kenaikan produksi sebesar 3,9% (yoy).

Laporan Badan Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat (US Energy Information Administration/EIA) pada 2 Juni 2022 menunjukkan produksi batu bara Negeri Paman Sam akan mencapai 600,8 juta short ton atau 545,04 juta ton pada 2022. Jumlah tersebut meningkat 3,9% dibandingkan produksi lalu dan lebih tinggi dibandingkan proyeksi yang dikeluarkan pada awal Mei yakni 542,49 juta ton. Kenaikan produksi didorong oleh upaya pembangkit AS untuk menambah pasokan yang selama ini cukup rendah.

"Kami harap kenaikan produksi akan menambah pasokan sektor listrik dan bisa berkontribusi ke ekspor," tutur EIA, seperti dikutip dari S&P Global.

Meskipun produksi naik, konsumsi batu bara AS diperkirakan melemah 3,3% pada tahun ini menjadi 528,1 juta short ton atau 479,08 juta ton. Konsumsi akan terus melemah menjadi 496,9 juta ton atau 450,78 juta ton pada tahun depan karena semakin meningkatnya penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan.

EIA juga memperkirakan ekspor batu bara AS akan turun 4,8% pada 2022 menjadi 81 juta short ton atau 73,48 juta ton. Selain untuk mengamankan pasokan, AS kesulitan untuk meningkatkan ekspor karena persoalan tenaga kerja serta jalur pengangkutan batu bara. Ekspor diperkirakan baru akan meningkat pada tahun depan menjadi 82,6 juta short ton atau 74,93 juta ton.

Pelemahan batu bara juga disebabkan langkah Rusia yang memberikan diskon harga. Dilansir dari Nikkei Asia, Rusia membanderol batu bara mereka di kisaran US$ 148 per ton pada akhir Mei lalu.

Harga tersebut jauh lebih rendah dibandingkan harga di pasar futures ICE Rotterdam yakni sekitar US$ 330 per ton. Diskon harga membuat China dan India meningkatkan impor dari Negeri Beruang Merah.

Faktor lain yang membuat harga batu bara turun dalam dua hari terakhir adalah melandainya produksi dan penjualan baja. Merujuk Hellenic Shipping News, produksi baja mental dunia turun 5,1% (yoy) pada April lalu menjadi 162,7 juta ton. Artinya, produksi baja sudah turun dalam Sembilan bulan beruntun.

Mahalnya batu bara serta lockdown di China menjadi penyebab produsen menurunkan produksi. Batu bara kokas merupakan salah satu material utama dalam produksi baja. Penurunan permintaan baja akan berimbas kepada batu bara.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Kembali On Fire, Harga Batu Bara Naik 2,4%


(mae/mae)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading