Naik-Turun, Harga Emas Masih Labil

Market - Maesaroh, CNBC Indonesia
08 June 2022 07:07
A customer puts gold bar on basket for sell to the gold shop in Bangkok, Thailand, Thursday, April 16, 2020. With gold prices rising to a seven-year high, many Thais have been flocking to gold shops to trade in their necklaces, bracelets, rings and gold bars for cash, eager to earn profits during an economic downturn.(AP Photo/Sakchai Lalit)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas masih sangat volatil. Pada perdagangan Rabu (8/6/2022) pukul 06:32 WIB, harga emas dunia di pasar spot berada di US$ 1.851,59 per troy ons. Harga emas melemah 0,02%.

Harga emas sempat menguat 0,6% pada perdagangan kemarin dan ditutup di level US$ 1.851,97 per troy ons. Kendati melemah hari ini, dalam sepekan, harga emas masih menguat 0,33% secara point to point.

Dalam sebulan, harga emas melemah 0,13% sementara dalam setahun merosot 2,18%.



Jim Wyckoff, analis dari Kitco Metals, mengatakan pelemahan emas didorong ekspektasi pasar atas kenaikan suku bunga acuan The Fed. Bank sentral Amerika Serikat (AS) akan menggelar pertemuan pada pekan depan. Pasar kini semakin melihat adanya risiko dari kenaikan suku bunga acuan tersebut yakni melemahnya konsumsi dan ekonomi AS. Karena itulah, harga emas ikut bergerak volatile.

Di satu sisi, kenaikan suku bunga acuan akan berdampak negatif ke emas tetapi di sisi lain risiko dari kenaikan suku bunga akan mendorong pergerakan emas.
Emas dinilai sebagai aset lindung sehingga sang logam mulia akan diburu di tengah ketidakpastian ekonomi atau saat ekonomi memburuk.

"Ada kekhawatiran akan risiko dari lonjakan inflasi. Inflasi yang terus merangkak naik mengancam konsumsi. Kekhawatiran ini bisa menjadi faktor positif bagi pergerakan logam mulia. Trader emas cenderung membaca kenaikan suku bunga seperti pisau bermata dua," tutur Wyckoff, seperti dikutip Reuters.

Kenaikan suku bunga acuan The Fed semakin diyakini akan terjadi setelah apa yang terjadi di Australia dan Eropa. Bank sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA), kemarin, menaikkan suku bunga besar 50 basis poin menjadi 0,85%. Suku bunga tersebut merupakan yang tertinggi sejak September 2019.

Sementara itu, European Central Bank (ECB) memutuskan untuk meninggalkan era suku bunga negatif dan mengakhiri pembelian aset senilai triliunan euro. Pasar berekspektasi bahwa ECB akan mulai menaikkan suku bunga acuan bulan depan.

"Pada akhirnya kita akan berada dalam situasi di mana terjadi kenaikan suku bunga global. Kondisi ini berdampak buruk ke pergerakan emas," tutur Stephen Innes, analis dari SPI Asset Management, seperti dikutip dari Reuters.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Harga Emas Naik Sih, Tapi Tipiiisss...


(mae/mae)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading