Sentimen Pasar Pekan Depan

Bekal Main Saham Minggu Depan, Waspada Tren Obligasi

Market - Tim Riset, CNBC Indonesia
05 June 2022 16:00
Layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (9/5/2022). (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto) Foto: Layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (9/5/2022). (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan domestik sukses mencatatkan kinerja positif di sepanjang pekan ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 4,35% dan ditutup di level 7.182,96. IHSG semakin bergerak mendekati level psikologis 7.200.

Di saat yang sama pasar obligasi pemerintah juga menunjukkan kinerja yang positif. Harga SBN terpantau naik tecermin dari penurunan imbal hasilnya (yield). Yield SBN seri acuan 10 tahun terpantau turun 14,5 basis poin (bps) ke bawah 7% setelah pekan lalu berada di level 7.14%.

Banjir arus dana asing ke pasar saham yang mencapai Rp 6,97 triliun juga membuat nilai tukar rupiah terapresiasi terhadap dolar AS. Di pasar spot, rupiah ditutup di level Rp 14.435/US$ atau menguat 0,96% dalam sepekan.

Dari dalam negeri, berbagai rilis data perekonomian masih menunjukkan bahwa pemulihan masih terus berlanjut.

Indeks PMI Manufaktur Indonesia bulan Mei 2022 masih berada di zona ekspansif. PMI manufaktur Indonesia bulan Mei 2022 tercatat berada di level 50,8. Kendati PMI manufaktur Indonesia turun dari posisi bulan April 2022 yang berada di 51,9, aktivitas pabrik masih mencatatkan ekspansi.

Jerome Powell (Tangkapan Layar via Youtube CNBC Television)Foto: Jerome Powell (Tangkapan Layar via Youtube CNBC Television)

Kemudian inflasi Indonesia bulan lalu juga naik 0,4% secara month on month (mom) dan 3,55% secara tahunan (year on year/yoy). Inflasi Indonesia bulan lalu juga in-line dengan konsensus ekonom yang dihimpun oleh CNBC Indonesia.

Inflasi inti juga naik dengan laju 2,58% yoy bulan lalu. Kenaikan inflasi inti menjadi cerminan bahwa daya beli masyarakat mulai menunjukkan adanya perbaikan. Namun, tingkat inflasi inti masih berada di kisaran target Bank Indonesia (BI) 2-4%.

Satu bulan setelah libur hari raya Idulfitri 1443 H, kasus Covid-19 di Indonesia juga konsisten berada di bawah angka 500 per harinya.

Semua indikator di atas menjadi bukti konkret bahwa ekonomi Indonesia terus melanjutkan tren pemulihan.

Sentimen yang akan menggerakkan pasar keuangan pekan depan masih didominasi oleh faktor eksternal, terutama terkait dengan pengetatan kebijakan moneter.

Bank sentral AS The Fed akan menggelar rapat komite pengambil kebijakan (FOMC) untuk menentukan suku bunga acuan pada 14-15 Juni 2022.

Mengacu pada data peranti FedWatch milik CME Group, pelaku pasar memproyeksikan The Fed kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) di bulan Juni ke kisaran target 1,25-1,50%.

Jelang pertemuan The Fed tersebut, pasar saham AS mengalami koreksi di pekan ini. Secara mingguan kinerja indeks saham acuan AS rata-rata melemah 1%.

Di saat yang sama, yield obligasi pemerintah AS yang menjadi acuan yakni tenor 10 tahun juga bergerak naik dan kembali mendekati 3%.

Tren yield obligasi pemerintah AS yang kembali mendekati level psikologis 3% ini patut diwaspadai karena bisa memantik aksi jual aset-aset keuangan domestik baik saham maupun obligasi sehingga bisa memicu koreksi apalagi sudah naik kencang.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

IHSG Ambyar Setelah Lebaran Lumrah, Tapi Tahun Ini Terburuk


(dem)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading