Sejak Awal Tahun Saham UNVR Masih Naik 16%, Apa Resepnya?

Market - Tim Riset, CNBC Indonesia
02 June 2022 12:58
FILE - A view of a Unilever logo, displayed outside the head office of PT Unilever Indonesia Tbk. in Tangerang, Indonesia, Tuesday, Nov. 16, 2021. Unilever, which makes Vaseline skin care products and Ben & Jerry’s ice cream, says it's laying off 1,500 staff as part of a company-wide restructuring. The proposed changes mean that senior management jobs will be cut by about 15% while junior management roles will be reduced by 5%, it said Tuesday Jan. 25, 2022. The London-based consumer goods giant employs 149,000 people globally.  (AP Photo/Tatan Syuflana, FIle)

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten konsumer PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) tahun ini sahamnya bangkit dari palung setelah sekian lama terkoreksi dalam.

Sejak awal tahun saham konglomerat internasional ini tumbuh hingga 16% (hingga sesi I Kamis, 2 Juni 2022), melebihi performa impresif Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mampu tumbuh 8,52%.

Selain itu performa saham UNVR juga lebih baik dari indeks LQ45, yang mana Unilever juga menjadi salah satu konstituennya.


Data perdagangan mencatat bahwa UNVR merupakan salah satu saham yang menarik perhatian investor asing, dengan aksi beli bersih (net buy) di seluruh pasar selama lima bulan terakhir mencapai Rp 886,90 miliar.

Kenaikan saham ini terjadi meskipun dalam tiga tahun terakhir laba per saham (EPS) Unilever Indonesia terus tertekan dari Rp 239/saham di 2018 menjadi Rp 151/saham di 2021, turun nyaris 20% dari tahun sebelumnya.

Meskipun demikian, StarMine Refinitiv memproyeksikan EPS UNVR akan naik terus hingga tahun 2026, meskipun angkanya masih di bawah capaian tahun 2018.

Senada, pendapatan perusahaan tahun lalu tercatat turun untuk pertama kalinya, setidaknya sejak tahun 1996. Dalam periode yang sama depresiasi laba bersih sudah terjadi dari tahun buku 2019.

Manajemen UNVR pun mengaku, menurunnya penjualan bersih UNVR sepanjang tahun lalu sebagian disebabkan oleh kebijakan pengetatan mobilitas akibat pandemi Covid-19 yang telah mempengaruhi daya beli konsumen terutama pada segmen pasar di mana UNVR beroperasi.

Selain itu, kata pihak UNVR, berbagai harga komoditas yang menjadi bahan baku, beberapa di antaranya crude-oil (minyak mentah), palm-oil (CPO) juga mengalami lonjakan harga yang signifikan dibandingkan dengan tahun 2020.

Turunnya kinerja tahunan perusahaan tersebut tidak mampu tumbuh beriringan dengan membesarnya ekonomi yang dihitung dari PDB. Alhasil UNVR sempat dicecar oleh salah satu perusahaan penasihat investasi yang menyarankan bagi perusahaan untuk go private.

Nilzon Capital mengatakan, tidak seperti yang dikira para investor kebanyakan, saat ini UNVR ternyata bukanlah "perusahaan consumer goods yang dapat mempertahankan nilainya dan memiliki kinerja sejalan dengan perekonomian pada umumnya."

Nilzon Capital, juga menyebut bahwa pertumbuhan tersebut masih di bawah kinerja sister company di negara lain.

Menanggapi kritikan tersebut, akhir Februari lalu pihak UNVR buka suara dan menyampaikan kepada CNBC Indonesia bahwa mereka "sangat menghormati dan menghargai setiap pendapat, analisa, dan masukan terkait kinerja perseroan dari berbagai pemangku kepentingan."

Reski Damayanti yang menjabat sebagai direktur dan sekretaris perusahaan melanjutkan, bahwa perseroan senantiasa mengupayakan bahwa setiap aksi dan keputusan bisnis diambil secara profesional dan mengutamakan kepentingan publik dan pemangku kepentingan yang lebih luas, termasuk para investor.

Dirinya juga menambahkan bahwa perseroan optimis bahwa seiring dengan membaiknya perekonomian Indonesia, semakin besar juga peluang bagi Perseroan untuk mengakselerasi pertumbuhan bisnis yang konsisten, kompetitif, menguntungkan, dan bertanggung jawab.

Pertumbuhan Keuangan UNVS vs Ekonomi IndonesiaFoto: Feri Sandria
Pertumbuhan Keuangan UNVS vs Ekonomi Indonesia

Kondisi ekonomi berpihak pada UNVR

Berdasarkan data kinerja di lantai bursa, saham UNVR tercatat terus dalam tren menurun. Sejak menyentuh level tertinggi di Rp 11.180/saham pada 29 Desember 2017, saham UNVR sudah 'terjun' 62% hingga awal tahun ini atau kehilangan nyaris dua pertiga kapitalisasi pasarnya, sebelum mampu naik signifikan sejak akhir April tahun ini.

Kenaikan tahun ini tampaknya dipengaruhi oleh kondisi makro ekonomi yang semakin panas. Meski inflasi masih dalam target BI dan suku bunga acuan masih ditahan di level terendah sepanjang sejarah, investor sepertinya sudah mulai bersiap-siap dengan perubahan ke depan.

Analis dan ekonom percaya bahwa BI akan segera menaikkan suku bunga acuannya dalam waktu dekat, dengan Gubernur BI menyebut inflasi tahun ini akan di atas target.

UNVR yang masuk dalam sektor konsumer non-siklikal menjadi salah satu yang diuntungkan jika ekonomi berada di lingkungan suku bunga tinggi. Hal ini karena secara historis sektor tersebut selalu mengungguli pasar ketika kondisi ekonomi melemah.

Hingga penutupan perdagangan kemarin, IDX Sector Consumer Non-Cyclicals tahun ini telah tumbuh 7%.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Mumpung Murah, Direksi Borong Saham UNVR, Mau Ikutan?


(vap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading