OJK Beri Sinyal Ekonomi RI Pulih, Kredit Bank Tumbuh 9%

Market - Wahyu Daniel, CNBC Indonesia
25 May 2022 20:10
Ilustrasi Foto OJK

Jakarta, CNBC Indonesia - Kondisi ekonomi Indonesia makin memperlihatkan pemulihannya, pasca terhantam krisis pandemi Covid-19 dalam kurun waktu kurang lebih dua tahun terakhir.

Sinyal ini diperkuat dari laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yang mencatat bahwa kredit perbankan per April 2022 tumbuh 9,10% (yoy) atau 3,69% (ytd). Data kredit perbankan ini menurut OJK meningkat signifikan dari Maret 2022 yang tumbuh 6,67% (yoy).

Dalam laporan terkini yang dikeluarkan Kamis (25/5/2022), kredit sektor pertambangan dan manufaktur di April 2022 mencatat kenaikan terbesar dibanding Maret 2022 (mtm), masing-masing Rp 21,5 triliun dan Rp 20,8 triliun.


Sementara, Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan hingga April 2022 tumbuh 10,11% (yoy) atau 0,08% (ytd).



Kemudian di sektor industri asuransi, OJK melaporkan penghimpunan premi asuransi pada April 2022 sebesar Rp 21,8 triliun, dengan rincian Asuransi Jiwa Rp 8,6 triliun, Asuransi Umum dan Reasuransi Rp 13,2 triliun.

Sementara untuk fintech P2P lending pada April 2022 mencatatkan outstanding pembiayaan Rp 38,68 triliun, tumbuh 87,7% (yoy) atau dibandingkan periode yang sama di 2021. Piutang perusahaan pembiayaan (multifinance) pada April 2022 juga tercatat tumbuh 4,51% (yoy).

Untuk pasar modal, hingga 24 Mei 2022, jumlah penawaran umum yang dilakukan emiten mencapai 79, dengan total nilai penghimpunan dana mencapai Rp 100,1 triliun. Dari jumlah penawaran umum tersebut, 23 di antaranya dilakukan oleh emiten baru. Dalam pipeline saat ini terdapat 105 emiten yang akan melakukan penawaran umum dengan total indikasi penawaran Rp 68,67 triliun.

Menurut OJK dalam laporannya, peningkatan kinerja intermediasi tersebut terjadi di tengah perekonomian global yang masih menghadapi tekanan inflasi yang persisten tinggi, dan telah mendorong pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif oleh mayoritas bank sentral dunia.

Konflik Rusia-Ukraina serta terganggunya global supply chain akibat lockdown di China, juga terus mendorong kenaikan harga komoditas terutama energi dan pangan. Kenaikan inflasi yang diikuti oleh pengetatan kebijakan moneter global telah meningkatkan potensi terjadinya hard landing, sehingga meningkatkan volatilitas di pasar keuangan global dan terjadinya outflow dari pasar keuangan negara-negara emerging market.

Namun demikian, kinerja perekonomian domestik masih terjaga terlihat dari rilis PDB triwulan I-2022 yang terpantau sebesar 5,01% (yoy), diikuti dengan peningkatan kinerja mayoritas perusahaan publik di periode yang sama.

OJK juga mengatakan, indikator ekonomi high frequency juga terpantau masih positif, mengindikasikan berlanjutnya pemulihan ekonomi. Selain itu, pemerintah juga telah menaikkan anggaran subsidi energi menjadi Rp 443,6 triliun, terbesar sepanjang sejarah. Namun demikian, perlu dicermati tren kenaikan inflasi domestik dan dampak pelarangan ekspor CPO terhadap kinerja neraca perdagangan pada Mei 2022.

Di tengah perkembangan tersebut, pasar keuangan domestik secara umum bergerak volatil, sejalan dengan pelemahan pasar keuangan global seiring aksi risk off investor. Hingga 20 Mei 2022, IHSG tercatat melemah 4,3% (mtd) atau sejak awal tahun ke level 6.918. Kondisi ini menurut OJK sejalan dengan aliran dana nonresiden (investor asing) yang tercatat outflow sebesar Rp 9,23 triliun (mtd).

Pasar Surat Berharga Negara (SBN) sejak awal tahun (mtd) juga terpantau melemah dengan rerata yield SBN naik 42,5 bps di seluruh tenor, sejalan dengan outflow SBN investor nonresiden Rp37,81 triliun sejak awal tahun (mtd). Sepanjang Mei 2022, total net outflow nonresiden di IHSG dan pasar SBN adalah Rp 47,04 triliun.

Dalam laporannya, OJK mengatakan profil risiko lembaga jasa keuangan pada April 2022 masih relatif terjaga, dengan rasio kredit bermasalah perbankan (NPL/Non Performing Loan) gross tercatat 3,00%. Sementara NPL net 0,83%.

Sementara itu, likuiditas perbankan berada pada level yang memadai. Rasio alat likuid/non-core deposit dan alat likuid/DPK per April 2022 terpantau masing-masing pada level 131,21% dan 29,38%, di atas threshold masing-masing sebesar 50% dan 10%.

OJK menilai, perbankan dapat memenuhi peningkatan Giro Wajib Minimum (GWM) lanjutan sebesar 1%persen per Juni 2022, dengan likuiditas yang dipandang masih memadai untuk menyalurkan kredit dalam rangka melanjutkan momentum pemulihan ekonomi.

Permodalan lembaga jasa keuangan sampai saat ini terjaga dengan pada level yang memadai. Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan tercatat 24,32%. Kemudian Risk-Based Capital (RBC) industri asuransi jiwa dan asuransi umum masing-masing tercatat 506,22% dan 321,51%, jauh di atas ambang batas ketentuan sebesar 120%. Begitu juga gearing ratio perusahaan pembiayaan yang sebesar 2,01 kali, jauh di bawah batas maksimum 10 kali.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

OJK Pamer Restrukturisasi Kredit 2021 Menurun


(wed/wed)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading