Dolar AS Mulai Gak 'Sakti' Lagi, Rupiah Berhasil Juara!

Market - Annisa Aflaha, CNBC Indonesia
25 May 2022 11:58
Warga melintas di depan toko penukaran uang di Kawasan Blok M, Jakarta, Jumat (20/7). di tempat penukaran uang ini dollar ditransaksikan di Rp 14.550. Rupiah melemah 0,31% dibandingkan penutupan perdagangan kemarin. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin melemah. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kurs rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga di pertengahan hari ini, Rabu (25/5), meskipun penguatannya terus terpangkas. Indeks dolar AS bergerak jauh dari rekor tertingginya, sehingga rupiah pun berhasil menguat.

Melansir data dari Refinitiv, Mata Uang Tanah Air di sesi awal perdagangan menguat 0,21% ke Rp 14.635/US$. Kemudian, rupiah memangkas penguatannya lebih tajam 0,07% ke Rp 14.645/US$ pada pukul 11:00 WIB.


Indeks dolar AS mencapai level terendah hampir satu bulan kemarin, setelah Presiden bank sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde mengatakan suku bunga zona euro kemungkinan akan berada di wilayah positif pada akhir kuartal ketiga yang memberikan euro dorongan, sehingga investor pun beralih ke mata uang euro.

Namun, pada pukul 11:00 WIB, indeks dolar AS bergerak pulih menjadi menguat terhadap 6 mata uang dunia sebanyak 0,05% ke level 101,90. Meski begitu, dolar AS hanya menguat tipis dan berada jauh dari level tertingginya di 104,48.

Hal tersebut juga dipicu oleh prediksi pasar yang sudah menakar kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed), sehingga membatasi penguatan si greenback.

"Di Amerika Serikat, sebagian besar pengetatan kebijakan moneter oleh The Fed kemungkinan besar sudah diperhitungkan," kata Marshall Gittler, kepala penelitian investasi di BDSwiss, yang dikutip dari Reuters.

Selain itu, rilis data ekonomi di AS pekan ini menunjukkan aktivitas bisnis AS melambat pada Mei karena harga yang lebih tinggi mendinginkan permintaan untuk layanan, sementara kendala pasokan baru karena penguncian COVID-19 di China dan perang di Ukraina menghambat produksi di pabrik.

S&P Global mengatakan pada hari Selasa bahwa Indeks Output IMP Komposit AS, yang melacak sektor manufaktur dan jasa, turun ke angka 53,8 bulan ini dari 56,0 pada bulan April.

Laju pertumbuhan itu, yang merupakan yang paling lambat dalam empat bulan, dikaitkan dengan tekanan inflasi yang meningkat, penurunan lebih lanjut dalam waktu pengiriman pemasok dan pertumbuhan permintaan yang lebih lemah.

Angka di atas 50 menunjukkan ekspansi di sektor swasta. Indeks tetap konsisten dengan pertumbuhan ekonomi yang kuat di pertengahan kuartal kedua.

Ekonomi mengalami kontraksi pada kuartal pertama di bawah beban rekor defisit perdagangan, meskipun permintaan domestik tetap solid karena rumah tangga meningkatkan pengeluaran dan bisnis menggenjot investasi dalam peralatan.

Mengacu pada pasar Non-Deliverable Forward (NDF), Mata Uang Garuda sudah terindikasi penguatannya terhadap si greenback. Terlihat, rupiah bergerak menguat tipis jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan pada kemarin (24/5).

Periode

Kurs Selasa (24/5) pukul 15:13 WIB

Kurs Rabu (25/5) pukul 11:05 WIB

1 Pekan

Rp14.658,5

Rp14.625,0

1 Bulan

Rp14.679,7

Rp14.635,0

2 Bulan

Rp14.693,5

Rp14.661,0

3 Bulan

Rp14.724,5

Rp14.695,0

6 Bulan

Rp14.823,3

Rp14.780,0

9 Bulan

Rp14.923,3

Rp14.885,0

1 Tahun

Rp15.027,2

Rp15.000,0

2 Tahun

Rp15.481,0

Rp15.440,0

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Dolar AS Lesu, Rupiah Bisa Ngegas Nih...


(aaf/vap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading